Kades Dasan Lekong Dapat Penghargaan Kebersihan Lingkungan dari Kementerian Kesehatan RI.

Kades Dasan Lekong Dapat Penghargaan Kebersihan Lingkungan dari Kementerian Kesehatan RI.

Sinar5news.com – Lombok Timur – Kepala Desa Dasan Lekong, Kecamatan Sukamulia, Kabupaten Lombok Timur (Lotim) Nusa Tenggara Barat (NTB) Lalu Muhammad Rajabul Akbar,S.Ag. mendapat penghargaan di bidang Kesehatan Lingkungan dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia dalam rangka peringatan hari kesehatan Nasional ke-58 Tahun 2022.

Foto: Akuarium Berbahan Stryfoam dan Sampah Plastik.

Penghargaan tersebut diberikan karena Kades Dasan Lekong dinilai sangat peduli dengan kebersihan lingkungan dan kemampuannya mengedukasi masyarakatnya akan arti penting kebersihan lingkungan terutama dalam penanganan sampah yang timbul dari sampah rumah tangga.

Rajabul Akbar juga memaparkan, bahwa salah satu sumber penyakit adalah dari lingkungan yang kumuh. Lingkungan yang kotor disebabkan karena masyarakat suka membuang sampah disembarang tempat, padahal kalau sampah tersebut bisa dikelola dengan baik akan menghasilkan uang.

Foto: Pot Bunga Berbahan Plastik dan Stryfoam.

“Sebenarnya kalau kita cermati asal muasal dari penyakit itu kan dari lingkungan yang kotor atau kumuh. Itulah sebabnya dari semenjak saya menjabat Kades, sangat terobsesi untuk merubah mainset masyarakat untuk berprilaku sehat dengan tidak membuang sampah disembarang tempat,” ungkap Akbar panggilan akrab Kades Dasan Lekong itu.

Namun Akbar sangat menyadari bahwa merubah perilaku atau mainset masyarakat dari kebiasaan buang sampah disembarang tempat, ketempat bak-bak sampah yang telah disiapkan oleh Desa sangat sulit.

“Pertama kali kami memberikan edukasi tentang sampah ini kepada masyarakat, kami sangat kesulitan untuk memberikan penyadaran agar masyarakat buang sampah pada tempatnya. Melihat itu sulit, maka langkah kami berikutnya memberikan karung sampah kepada masing-masing Kepala Keluarga,” tuturnya.

Dari pemberian karung sampah ini, masyarakat kami sudah mulai ada kesadarannya untuk tidak buang sampah disembarang tempat, setelah pola itu berjalan, Kami menyarankan kepada masyarakat untuk memilah sampah plastik dan sampah organik. Karena sampah organik maupun sampah plastik memiliki nilai ekonomis.

“Setelah masyarakat ada kesadaran untuk tidak buang sampah disembarang tempat, kami minta mereka memilah sampah organik dan plastik, dan sampah plastiknya kami beli melalui Bank Sampah yang menjadi program pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat yang disebut Zero Waste,” imbuhnya.

Ditambahkannya, sampah plastik yang dibeli dari masyarakat, lalu dibuat menjadi bahan barang kerajinan yang memiliki nilai ekonomi tinggi, dengan melibatkan kader Posyandu, PKK dan Karang Taruna.

“Ada 500 orang masyarakat desa Dasan Lekong ini yang rutin menjual sampahnya ke Bank Sampah, dengan pola bayar sampah dimasukkan ke rekening masing-masing, sehingga banyak diantara mereka yang kaget melihat nilai uang bayar sampahnya sampai Rp.600 ribu per 4 bulan,” ujarnya.

Sebagai Desa wisata berbasis sampah Lalu Rajabul Akbar, terus berinovasi untuk membuat sampah yang dianggap tidak berharga menjadi barang yang memiliki nilai seni dengan harga yang mahal.

“Sampah organik kami olah menjadi pupuk kompos, sampah plastik dan stryfoam kami buat menjadi pot bunga, meja, pas bunga, akuarium dan hiasan dinding. Untuk akuarium yang terbuat dari stryfoam kami pasarkan dengan harga 1,5 juta,”paparnya.

Dari 257 Desa dan kelurahan di Kabupaten Lombok Timur, Desa Dasan Lekong menjadi satu-satunya Desa yang tetap memiliki komitmen untuk mendaur ulang sampah sehingga bernilai tinggi ditengah-tengah masyarakat.

Lalu Rajabul Akbar juga meminta kepada pemerintah provinsi dan kabupaten untuk berkomitmen perang melawan sampah, terlebih kedepan daerah kita sangat mengandalkan destinasi wisata sebagai pemasukan PAD kita.

“Semestinya Pemda Provinsi dan Kabupaten terus serius menangani sampah ini, sebagai daerah tujuan wisata daerah kita ini harus bersih dari sampah. Solusinya pemda harus melakukan pendampingan dalam penanganan sampah sampai ke desa dan kampung,”harap Akbar.

Keseriusan dari Kades Dasan Lekong yang juga memiliki darah seni itu, terus berinovasi dan belajar untuk membuat sampah menjadi barang yang bernilai ekonomis tinggi. Sehingga dirinya juga sering diundang menjadi pemateri atau narasumber dalam seminar atau diskusi yang menyangkut sampah, dan terkadang sering diberi julukan sebagai Kades Sampah.

“Mungkin karena saya dianggap terlalu peduli dengan sampah ini, terkadang saya dijuluki Kades sampah. Bahkan saya berkeinginan kelak akan menjadi pengusaha sampah. Sejatinya bisnis sampah ini terlihat kotor, tapi coba kita lihat pengusaha barang rongsokan dan sampah plastik di Rarang dan Jenggik rata-rata mereka sudah mampu beli tanah untuk memperbesar gudangnya,”pungkasnya.(red)

 

Baca Selanjutnya

DARI PENULIS

BERITA TERKAIT

IKLAN

TERBANYAK DIBACA

BACA JUGA