Sinar5news.com – Malang – Keberadaan Kampung Warna Warni Jodipan Kecamatan Blimbing Kota Malang Jawa Timur, memberikan dampak yang cukup baik kepada penduduk yang bermukim dikampung tersebut. Baik terhadap pertumbuhan ekonomi dan pendapatan masyarakat setempat.

Hadirnya Kampung warna warni memunculkan usaha-usaha baru masyarakat setempat sepert munculannya usaha dagang dari pintu ke pintu yang menawarkan berbagai souvenir dan makanan ringan kepada para pengunjung.
Adalah bapak Kliman yang sempat diwawancara oleh Sinar5news.com menceritakan tentang sejarah dan dampak dari kampung warna warni yang penggagas awalnya adalah Mahsiswa Universitas Muhammadiyah Malang yang melakukan Kuliah Kerja Nyata(KKN) pada tahun 2016 silam.
Sebelum itu menurut pak Kliman yang memang adalah penduduk setempa(Bukan pendatang) menceritakan memang kampungnya itu dulu saangat kumuh,karena sampah-sampah dibuang semabarang sehingga tumpukan sampah selalu menjadi pandangan tiap hari. Sehingga aroma udara jadi tidak sedap.
Gagasan Mahasiswa UMM itu diterima oleh masyarakat walaupun awalnya banyak masyarakat setempaat yang tidak yakin dengan program kampung warna warni. Sehingga menurut pak Kiman awalnya rumah yang di Cat adalah rumah yang dibagian depan aja(Pintu Gerbang) yang jumlah rumahnya tidak banyak.

Meskipun rumah yang dicat tidak banyak, tapi pengunjungnya pada saat itu cukup banyak. Sehingga rumah yang lain juga ikut untuk dicatkan rumahnya. Sehingga sampai dengan saat ini sudah 3 RT atau 150 KK yang masuk dalam kampung warna warni. “Dan itu belum termasuk yang diseberang sungai,” Kata Pak Klian.
Memang kampung warna warni itu ada di dua lokasi dan dibatasi oleh sungai. Kampung yang dikunjungi rombongan dari Pemkab. Lombok Timur adalah kampung yang dekat dengan akses jalan raya. Dan kampung warna warni tersebut telah memberikaan keuntungan moril dan materil.
Keuntungan materil menurut ibu Titik yang bertugas menjual tiket masuk dikampung warna warni tersebut paling sepi pengunjung minimal 150 orng yang datang 150 x Rp.3000 = Rp.450.000,- dikalikan dengan 3 pintu masuk dikampung tersebut sehingga dana yang masuk 450.000 x 3 = Rp.1.350.000 per hari.
Sedangkan kalau lagi musim liburan menurut ibu Titik penjualan karcis bisa mencapai 600 orang perpintu. 3 pintu x 600 orang x Rp.3.000=Rp.5.400.000,- perhari. Dan harga tiket masuk itu digunakan untuk pemeliharaan rumah dan biaya kebersihan .

Semntara itu Kepala Dinas Pariwisata Lombok Timur Dr.H.Mugni,M.Pd mengatakan kedepannya kampung warna warni akan dicoba dikabupaten Lombok Timur.
“Kita datang kekampung warna warni ini,untuk mencari tahu tentang cara pengelolaannya dan insya Allah diterapkan dilombok timur, kebetulan memang sudah kita coba di dasan borok kecamatan Suralaga,” Tandasnya.(Bul)




