Disusun Oleh : Muhammad Sidik
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang sudah memberikan kesehatan jasmani dan rohani sehingga kita masih bisa menikmati indahnya Alam ciptaan-Nya. Sholawat serta salam kita haturkan kepada teladan kita semua Nabi Muhammad Shallallahu `alaihi Wa Sallam yang telah memberitahu kepada kita jalan yang benar berupa ajaran agama yang sempurna serta menjadi rahmat bagi seluruh alam.
Saya sangat bersyukur karena dapat merampugkan karya ilmiah yang menjadi tugas selama liburan dengan judul “perkembangan peserta didik baru dan rekrutmennya ”. Selain itu, saya mengucapkan banyak terima kasih kepada Ibunda Yuli Sofiyati S. Pd M.M selaku Pembimbing saya yang telah membimbing saya dengan baik.
Akhir kata, saya sangat memahami apabila makalah ini tentu jauh dari kata sempurna, maka dari itu kami butuh kritik dan sarannya yang bertujuan untuk memperbaiki karya-karya saya selanjutnya di waktu yang akan datang.
Jakarta, 18 Maret 2019
Penyusun
(Muhamad SidiK)
PENDAHULUAN
A.Latar Belakang
Siswa mempunyai sebutan-sebutan lain seperti murid, subjek didik, anak didik, pembelajar, dan sebagainya. Apapun istilahnya, yang jelas siswa adalah mereka yang sedang mengikuti program pendidikan pada suatu sekolah atau jenjang Pendidikan tertentu. Ada beberapa program yang terdapat pada proses pendidikan, dan diantara program itu adalah kegiatan belajar.
Perubahan perilaku sebagai hasil dari kegiatan pembelajaran itu merupakan hasil dari interaksi seorang dengan lingkungannya. Dengan demikian, proses pembelajaran merupakan fenomena kompleks yang terjadi antara individu dengan lingkungan belajarnya yang berawal dari pengetahuan baru sehingga membuat perubahan dalam pengetahuan (kognitif), keterampilan (psikomotorik) dan sikap (afektif) atau perilaku menjadi yang lebih baik dari pada sebelumnya. Belajar dapat dilakukan dimana saja, kapan saja tanpa terbatas waktu dan ruang. Sekolah atau madrasah merupakan tempat bagi siswa yang menghabiskan hampir seepertiga dari waktunya setiap hari di lembaga tertentu. Seperti halnya sekolah yang memiliki nilai potensi agama yang baik dan sekolah itu pun berbasis Pesantren ,itu akan memicu siswa/i menjadi terbawa lebih baik lagi dalam nilai agamanya dan tingkah laku sehari hari baik dari lisan maupun perbuatan serta materi .sekolah merupakan tempat kedua setelah keluarga untuk mereka belajar tentang sesuatu yang belum mereka dapatkan di lingkungan keluarga.
Perubahan-perubahan positif tersebut dapat dilihat dari perubahan perilaku pada diri siswa. Perilaku merupakan segala perbuatan tindakan yang dilakukan oleh seseorang karena adanya pengaruh dari lingkungannya. Perilaku yang ditunjukan pada umumnya terdiri dari dua, yaitu perilaku negatifdan perilaku positif. Perilaku negative dan perilaku positif disebabkan oleh faktor yang mempengaruhinya.
B. Perumusan Masalah
Di era modern ini banyak sekali siswa dan siswi yang cenderung malas untuk belajar sehingga dapat menghambat perkembangan anak tersebut dalam mencari ilmu dan dalam kehidupan sehari hari. Terlebih lagi lingkungan yang kurang mendukung dari pihak keluarga membuat anak menjadi memiliki sifat dan ego yang tidak baik. Seperti halnya sebuah benda elektronik yang canggih sekarang ini yang biasa kita kenal dengan Handphone. Zaman seiring berganti dan semakin modern model serta kecanggihan dari hand phone pun bertambah canggih dimana di dalamnya kita mengenal dengan social media , game , dan jejaring social lainnya. Seharusnya peran orang tua ikut terlibat dalam perkembangan putra putri nya ketika orang tua membelikan hand phone untuk buah hatinya sekiranya hendak dipantau dan didampingi ketika usianya masih remaja sehingga dampak negative tidak dimiliki oleh putra-putri nya.
Dampak negative yang akan dimiliki oleh putra putri nya jika kurangnya pengawasan orang tua terhadap anaknya akan memicu anaknya berbuat hal aneh atau diluar dari sifat dan kelakuan anak remaja umumnya. Batasilah anak dalam menggunakan telepon genggam dalam kehidupan sehari harinya agar anak tidak malas untuk menuntut ilmu di sekolah dan di tempat tempat serta lembaga lain untuk mendapatkan ilmu yang bermanfaat. Seiring bergantinya tahun peserta didik memiliki sifat, pola piker, tingkat kecerdasan, tingkah laku,dan kepribadian yang bermacam macam. Sehingga peran guru di lingkungan sekolah sebagai orang tua kedua murid baru tersebut dapat memerankannya dengan baik dan dapat mengerti bagaimana kepribadian anak tersebut.
C. Tujuan dan Manfaat Penulisan
Antara lain dari tujuan dan manfaat penulisan adalah :
Tujuan
Melatih keterampilan dasar untuk melakukan penelitian secara benar dan teratur
Memperluas ilmu pengetahuan dan menambahkan ketrampilan dalam membuat karya ilmiah
Manfaat
Melatih untuk mengembangkan keterampilan membaca yang efektif sebagai bahan acuan atau penelitian pendahuluan untuk penelitian selanjutnya.
PEMBAHASAN
– Tahap-tahap Perkembangan Peserta Didik
Berkembangnya manusia dari satu tahap ke tahap berikutnya ditentukan oleh keberhasilannya atau ketidakberhasilannya dalam menempuh tahap sebelumnya. Pembagian tahap-tahap ini berdasarkan periode tertentu dalam kehidupan manusia:
1. Bayi (0-1 tahun)
2. Balita (2-3 tahun)
3. Pra-sekolah (3-6 tahun)
4. Usia sekolah (7-12 tahun)
5. Rermaja (12-18 tahun)
6. Pemuda (usia 20-an)
7. Separuh baya (akhir 20-an hingga 50-an)
8. Manula (usia 50-an dan seterusnya)
Bayi (0-1 tahun), Trust vs Miss-trust
Tahap kepercayaan atas harapan menjadi bagian tahapan yang sangat kritis bagi manusia. Tahapan ini adalah bagian aneksasi pribadi manusia, karena gagalnya perolehan kepercayaan pada tahap perkembangan ini akan sangat mungkin menimbulkan krisis kepercayaan.
4. Balita (2-3 tahun) Autonomi vs Doubt/Shame
Tahap otonomi adalah satu tahapan dimana manusia memerlukan kesempatan untuk mendapatkan hak untuk mengatur dirinya sendiri tanpa pengaruh kekuasaan manusia lainnya. Apabila pemenuhan kebutuhan otonom ini tidak diperoleh, maka manusia akan selalu hidup dalam keraguan.
5. Pra-sekolah (3-6 tahun). Initiative Versus Guilt
Tahap perkembangan lebih berfokus pada perkembangan inisiatif diri.
6. Usia sekolah (7-12 tahun). Industry Versus Inferiority
Pada tahap ini,manusia mulai mencoba untuk beraktualisai dengan teman-temannya, dengan tujuan agar mereka mendapatkan pengakuan atas kemampuannya. Bila menemui kegagalan dalam perkembangan ini, manusia yang bersangkutan akan lebih menjadi bersifat inferior.
7. Remaja (12-18 tahun). Identity Versus Confusion
Tahap ini lebih ditekankan pada proses pencarian jati diri. Perasaan aman, dan merdeka menjadi kebutuhan utama bagi manusia untuk dapat menikmati perkembangan ini.
8. Pemuda (usia 20-an). Intimacy Versus Isolation
Tahap perkembangan ini lebih berfokus pada hubungan heterososial, termasuk didalamnya harapan akan pemenuhan kebutuhan dicintai, keintiman, dan kemesraan.
9. Usia Paruh Baya (akhir 20-an hingga 50-an). Generativity Versus Stagnation
Tahap perkembangan ini lebih berfokus pada bagaimana manusia mampu mengatasi problem-problem sosial pada umumnya, termasuk persoalan keluarga, tetangga, dan kebutuhan ekonomi-sosialnya.
10. Usia 65 – meninggal. Integrity Versus Despair
Perembangan psikososial pada tahap ini akan berfokus pada pertanyaan ” Apakah selama ini aku benar-benar berhasil, bagi diriku dan orang lain? Dan apakah aku juga berhasil membangun hidup untuk kebahagiaan pada akhir hidupku nanti?” Harapan akan kedamaian, ketentraman menjadi sesuatu yang membuat manusia bersangkutan menikmati perkembangan ini
PERKEMBANGAN PESERTA DIDIK PRIODE SEKOLAH DASAR (SD)
Dalam psikologi perkembangan, usia peserta didik di SD berada dalam periode late childhood (akhir masa kanak-kanak), kira-kira berada dalam rentan usia antara enam/tujuh tahun sampai tiba saatnya anak menjadi matang secara biologis sekitar usia tiga belas tahun. Periode ini ditandai dengan kondisi yang sangat mempengaruhi penyesuaian pribadi dan penyesuaian sosial anak.
Pada saat anak masuk ke kelas satu, perubahan besar dalam kehidupan anak terjadi. Mereka dihadapkan pada suasana lingkungan baru yang menuntut mereka untuk dapat menyesuaikan diri. Secara psikologis dalam situasi tersebut kebanyakan anak berada dalam keadaan tidak seimbang, anak mengalami gangguan emosional sehingga sulit untuk hidup dan bekerja sama. Masuk ke kelas satu merupakan peristiwa penting dalam kehidupan setiap anak sehingga dapat mengakibatkan perubahan dalam sikap, nilai, dan perilaku. Hal yang sama juga terjadi pada setahun atau dua tahun terakhir pada masa kanak-kanak (late childhood). Dalam masa ini terjadi perubahan fisik yang menonjol yang dapat mengakibatkan perubahan dalam sikap, nilai, dan perilaku karena menjelang berakhirnya periode ini anak mempersiapkan diri secara fisik dan psikologis untuk memasuki masa remaja.
PERKEMBANGAN PESERTA DIDIK PERIODE SEKOLAH MENENGAH PERTAMA (SMP)
Dalam tahap perkembangannya, peserta didik usia SMP berada pada periode perkembangan yang sangat pesat dari segala aspek. Berikut ini disajikan perkembangan tersebut yang berhubungan dengan pendidikan, yaitu perkembangan aspek kognitif, afktif, dan psikomotorik.
1. Perkembangan Aspek Kognitifnurut
Piaget anak-anak SMP, yaitu usia 11-15 tahun berada pada periode formal operasional. Pada tahap ini operasi mental pada anak tidak lagi terjadi pada objek konkret, tapi juga dapat diaplikasikan pada kalimat verbal atau logika, yang tidak hanya menjangkau kenyataan melainkan juga kemungkinan, tidak hanya menjangkau masa kini tetapi juga masa depan. Dengan demikian pada tahap ini peserta didik sudah dapat berfikir secara abstrak dan hipotetis sehingga mereka mampu memikirkan sesuatu yang akan atau mungkin terjadi yang merupakan sesuatu yang bersifat abstrak.
Peserta didik pada tahap formal operasional dapat mengintegrasikan apa yang telah mereka pelajari dengan tantangan di masa mendatang dan membuat rencana untuk masa depan. Mereka juga mampu berfikir secara sistematik, mampu berfikir bukan hanya dalam apa yang terjadi tetapi berfikir dalam kerangka apa yang mungkin terjadi. Mereka memikirkan semua kemungkinan secara sistematik untuk memecahkan permasalahan. Sebuah mobil yang tiba-tiba mogok misalnya, bagi peserta didik yang berada pada tahap operasional konkret (SD) akan mengambil kesimpulan bahwa mobil bensinnya habis, jadi mogok. Dia hanya menghubungkan sebab-akibat dalam satu rangkaian. Lain halnya dengan peserta didik pada tahap formal operasional (SMP), dia memikirkan beberapa kemungkinan mengapa mobilnya mogok, seperti mungkin businya mati, mungkin platinanya atau kemungkinan-kemungkinan lain yang membrikan dasar bagi pemikirannya.
PERKEMBANGAN PESERTA DIDIK PERIODE SEKOLAH MENENGAH ATAS (SMA)
Psikolog memandang anak usia SMA sebagai individu yang berada pada tahap yang tidak jelas dalam rangkaian proses perkembangan individu. Ketidakjelasan ini karena mereka berada pada periode transisi, yaitu dari periode kanak-kanak menuju periode orang dewasa. Pada masa tersebut mereka melalui masa yang disebut masa remaja atau pubertas. Umumnya mereka tidak mau dikatakan sebagai anak-anak tapi jika mereka disebut sebagai orang dewasa, mereka secara riil belum siap menyandang predikat sebagai orang dewasa.
Ada perubahan-perubahan yang bersifat universal pada masa remaja, yaitu meningginya emosi yang intensitasnya bergantung pada tingkat perubahan fisik dan psikis, perubahan tubuh, perubahan minat dan peran yang diharapkan oleh kelompok sosial tertentu untuk dimainkannya yang kemudian menimbulkan masalah, berubahnya minat, perilaku, dan nilai-nilai, bersikap mendua (ambivalen) terhadap perubahan.
1. Perkembangan aspek kognitif
Pada masa remaja terjadi kematangan intelektualitas yang berkembang bersamaan dengan kematangan organ seksualnya. Selain terjadi perubahan fisik dan sosial, juga terjadi perubahan dalam cara berfikir dan pengolahan informasi. Pada saat remaja mereka mengalami periode individualisasi, di mana mereka mengembangkan identitas diri mereka dan membentuk pendapat sendiri yang mungkin berbeda dengan orang tuanya. Mereka mengalami deidelalisasi terhadap orang tua. Remaja mulai menyadari bahwa orang tua mereka tidak selalu benar. Akibatnya, sering terjadi konflik antara orang tua dan anak remaja, yang umumnya berkisar pada perbedaan antara orang tua dan anak remaja tentang bagaimana mereka memandang dan mendefinisikan aturan keluarga dan aturan sosial lainnya.
Remaja mulai merasa bahwa pemecahan masalah merupakan pilihan pribadi, bukan pendapat orang tua. Meskipun konflik di atas dapat menimbulkan masalah, tapi hal tersebut merupakan perkembangan yang normal, bukan merupakan suatu ancaman terhadap hubungan antara orang tua dan anak. Selain harus berfikir kritis, hendaknya remaja juga menyadari bahwa mereka harus menghargai orang tuanya dan tetapt meminta nasehat-nasehatnya. Oleh karena itu konflik antara mereka akan menjadi proses untuk menjadi orang dewasa bagi anak.
Untuk menunjukkan kematangannya, remaja terutama laki-laki juga sering terdorong untuk menentang otoritas guru di SMA, sehingga mereka menjadi target dan pemberontakkan mereka. Cara yang paling baik untuk menghadapi pemberontakkan remaja adalah :
a. Mencoba untuk mengerti mereka.
b. Melakukan segala sesuatu untuk membantu mereka agar berprestasi dalam bidang ilmu yang diajarkan. Jika para guru menyadari untuk mengembangkan keterampilan-keteranpilan pada diri peserta didiknya walaupun dalam cara yang terbatas, maka pemberontakkan dan sikap permusuhan di kelas akan dapat dikurangi.
2. Perkembangan Aspek Afektif
Masa remaja dikenal dengan masa storm and stress, yaitu terjadinya pergolakan emosi yang diiringi dengan pertumbuhan fisik yang pesat dan pertumbuhan secara psikis yang bervariasi. Pada masa remaja (usia 12-21 tahun) terdapat beberapa fase, antara lain :
a. Fase remaja awal (12-15 tahun)
b. Fase remaja pertengahan (15-18 tahun)
c. Fase remaja akhir (18-21 tahun)
Di antara fase-fase tersebut juga terdapat fase pubertas (11/12-16 tahun) yang terkadang menjadi masalah tersendiri bagi remaja dalam menghadapinya. Pergolakan emosi yang terjadi pada remaja tidak lepas dari bermacam-macam pengaruh, seperti pengaruh lingkungan tempat tinggal, keluarga, sekolah, dan teman-teman sebaya, serta aktivitas-aktivitas yang dilakukannya dalam kehidupan sehari-hari. Masa remaja yang identik dengan lingkungan sosial tempat berinteraksi, membuat mereka tertuntut untuk menyesuaikan diri secara efektif. Proses penyesuaian diri tersebut tak jarang menimbulkan masalah bagi remaja, misalnya remaja menjadi sering melamun, mudah marah, dan menginginkan kebebasan tanpa batas pada dirinya.
Sehubungan dengan emosi remaja yang sering melamun dan sulit diterka, maka satu-satunya upaya yang dapat guru lakukan adalah memperlakukan peserta didik seprti orang dewasa yang penuh dengan rasa tanggung jawab moral. Dalam hal ini, guru dapat membantu mereka bertingkah laku progresif untuk mencapai keberhasilan dalam pekerjaan atau tugas-tugas sekolahnya. Salah satu cara yang mendasarinya adalah dengan memotivasi mereka untuk bersaing dengan diri sendiri.
Bila ada ledakan-ledakan kemarahan pada diri remaja, sebaiknya guru memperkecil ledakan emosi tersebut dengan jalan dan tindakan yang bijaksana, lemah lembut, merubah pokok pembicaraan, dan memulai aktivitas baru. Jika kemarahan peserta didik tetap tak bisa diredam, guru dapat meminta bantuan kepada petugas bimbingan konseling.
Bertambahnya kebebasan pada para remaja bagaikan menambah “bahan bakar terhadap api”, jika keinginan-keinginannya dihambat atau dirintangi oleh orang tua dan gurunya. Salah satu cara untuk mengatasinya adalah dengan meminta peserta didik mendiskusikan perasaan-perasaan mereka. Penting bagi guru untuk memahami alasan-alasan pemberontakkan mereka dan guru harus menekankan pentingnya bagi remaja untuk mengendalikan dirinya karena hidup di masyarakat harus menghormati dan menghargai keterbatasan-keterbatasan dan kebebasan individu.
3. Perkembangan aspek psikomotorik
Kemampuan psikomotorik ini berkaitan dengan keterampilan motorik yang berhubungan dengan anggota tubuh atau tindakan yang memerlukan koordinasi antara syaraf dan otak. Perkembangan psikomotorik yang dilalui oleh peserta didik SMA memiliki kekhususan yang antara lain ditandai oleh perubahan-perubahan ukuran tubuh, ciri kelamin yang primer, dan ciri kelamin yang sekunder. Perubahan-perubahan tersebut dikelompokkan dalam dua kategori besar, yaitu percepatan pertumbuhan dan proses kematangan seksual yang bersifat kualitatif dan kuantitatif.
Perubahan-perubahan fisik tersebut merupakan gejala umum dalam pertumbuhan peserta didik SMA.
Perubahan-perubahan fisik tersebut bukan hanya berhubungan dengan bertambahnya ukuran tubuh dan berubahnya proporsi tubuh saja, akan tetapi juga meliputi ciri-ciri yang terdapat pada kelamin primer dan sekunder. Perubahan-perubahan tersebut pada umumnya mengikuti irama tertentu. Hal ini terjadi karena pengaruh faktor keluarga, gizi, emosi, jenis kelamin, dan kesehatan.
Peubahan-perubahan yang dialami peserta didik SMA mempengaruhi perkembangan tingkah laku yang ditampakkan pada perilaku yang canggung dalam proses penyesuaian diri mereka, isolasi diri dan kelompok dari pergaulan, perilaku emosional, imitasi berlebihan, dan lain-lain.
PENUTUP
Kesimpulan :
Berdasarkan pembahasan yang ada pada bab sebelumnya maka dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut :
Pertumbuhan adalah perubahan secara fisiologis sebagai hasil dari proses pematangan fungsi-fungsi fisik yang berlangsung secara normal pada anak yang sehat pada waktu yang normal.Jadi, pertumbuhan berkaitan dengan perubahan kuantitatif yang menyangkut peningkatan ukuran dan struktur biologis.
Perkembangan sejalan dengan prinsip orthogenetis, berlangsung dari keadaan global dan kurang berdeferensiasi sampai ke keadaan di mana diferensiasi, artikulasi, dan integrasi meningkat secara bertahap.
Aspek-aspek pertumbuhan dan perkembangan antara lain: perkembangan kecerdasan/intelek, temperamen (emosi), sosial, bahasa, bakat khusus dalam perbedaan individual unik.
Perbedaan individual unik terbagi dalam perbedaan fisik,perbedaan sosial,perbedaan kepribadian,perbedaan inteligensi dan kemampuan dasar serta perbedaan kecakapan atau kepandaian di sekolah.
Saran :
Diharapkan kepada peserta didik dan pengajar maupun orang tua agar dapat ikut berpartisipasi dalam memahami tentang perkembangan kognitif. Peran serta pemerintaah, masyarakat, pengajar, orang tua juga perlu untuk mengawasi perkembangan kognitif setiap anak dan peserta didik sesuai karakteristik perkembangan kognitif anak.




