Cerpen Ke-3: Keanehan di Balik Rezeki
Malam ini, Rabu 7 Januari 2026, di kediaman rumah saya yang sederhana di Perumahan Villa Gading Harapan 2 Blok A, Sriamur, Tambun Utara, Bekasi, sebuah kejadian aneh sekaligus mengherankan terjadi dalam keluarga kami.
Setelah gaji anak saya, Muhammad Akromul Fithrah, berhasil saya tarik sebesar Rp5.200.000, niat saya hanyalah satu: menggunakan uang tersebut pada jalan yang benar dan penuh kemanfaatan. Sebagian dari uang itu saya gunakan untuk membayarkan cicilan utang Ananda Akromul Fithrah di Alfa Mart, sementara sisanya saya belikan susu dan pampers untuk kebutuhan anaknya yang masih balita. Semuanya dilakukan dengan penuh keikhlasan dan tanggung jawab.
Secara perhitungan yang logis dan sederhana, sisa uang seharusnya tinggal Rp1.500.000. Namun ketika malam semakin larut dan kami menghitung kembali uang tersebut di rumah, keanehan pun terjadi. Uang yang tersisa bukan satu setengah juta, melainkan Rp2.000.000.
Saya dan istri saling berpandangan. Dengan penuh kehati-hatian, istri saya menghitung ulang uang itu—sekali, dua kali, bahkan berkali-kali. Hasilnya tetap sama. Padahal catatan pengeluaran dan perhitungan awal tidak berubah. Secara hitung-hitungan, saldo uang mestinya Rp1.500.000. Lalu mengapa justru menjadi dua juta?
Berbagai kemungkinan terlintas di benak kami. Mungkin ada kekeliruan saat menghitung pengeluaran, atau barangkali ada uang lain yang tanpa sadar tercampur. Namun semakin diperiksa, semakin kuat rasa heran itu. Kejadian ini terasa sulit diterima oleh logika.
Di tengah keheranan tersebut, hati saya justru terasa tenang. Bisa jadi ini bukan sekadar soal angka, melainkan cara Allah Subhanahu Wa Ta’ala melebihkan rezeki kepada hamba-Nya, melalui jalan yang tidak disangka-sangka. Bukankah Allah Maha Kaya dan Maha Memberi, yang mampu melapangkan rezeki siapa pun yang Dia kehendaki?
Jika benar ini adalah sebuah keajaiban, maka Masya Allah. Rezeki itu bukan untuk disombongkan, melainkan untuk dimanfaatkan sebaik-baiknya—demi kebutuhan Ananda Akromul Fithrah, istrinya, dan anak keturunannya yang masih balita.
Kisah singkat yang terjadi malam ini mengajarkan dua hal penting: tentang keyakinan bahwa rezeki Allah selalu cukup, bahkan bisa berlebih, dan tentang pentingnya ketelitian serta kewaspadaan dalam mengelola keuangan. Sebab kelalaian dalam menghitung, terlebih dalam jumlah besar, dapat menimbulkan kekacauan dan merugikan banyak pihak.
Semoga cerita kecil ini menjadi pengingat dan motivasi bagi kita semua untuk terus bersyukur, berhati-hati, dan amanah dalam menjaga rezeki yang Allah titipkan.


