Sinar5news.com – Jakarta – Pemerintah Iran kembali membuka sekolahan ditengah pandemi corona pada Sabtu (5/9) setelah sebelumnya hampir setengah tahun ditutup akibat pandemi virus Covid-19. Pembukaan sekolah ini menimbulkan kritik dan rasa khawatir para orang tua pelajar, namun Pemerintah berjanji akan melakukan protokol kesehatan secara detail.
Melansir dari laman resmi AFP, pada Minggu (6/9), sekitar 15 juta siswa di negara dengan mayoritas agama Islam itu kembali menjalani kegiatan belajar, meski sebagian besar masih melakukan pembelajaran dari jarak jauh (PJJ). Pembukaan sekolah ini dilakukan pemerintah Iran di tengah kondisi berjuang melawan wabah corona yang paling mematikan di Timur Tengah dengan lebih dari 22.000 tewas dan lebih dari 384.000 terinfeksi sejak kasus pertama terkonfirmasi di bulan Februari lalu.
Hari pertama kegiatan pembelajaran di sekolah menengah Nojavanan di timur laut Teheran dihadiri langsung oleh banyak pejabat dan jurnalis serta para siswa.
Namun, salah satu orang penting nomer 1 di Iran tersebut yakni ,Presiden Hassan Rouhani hanya muncul melalui sebuah Video untuk meresmikan pembukaan kembali tahun ajaran baru sekolah.
Dalam video tersebut, Rouhani menyampaikan sebuah pidatonya yang berisi agar para siswa perlu menekankan dan mematuhi aturan protokol kesehatan serta menjunjung tinggi kedisiplinan.
Ketidakhadiran Rouhani secara langsung dalam pembukaan upacara tersebut mendapatkan kritik dari berbagai pihak. Bahkan banyak orang tua murid khawatir untuk mengizknkan anaknya kembali menempuh pendidikan ditengah pandemi Covid-19 ini, sementara Rouhani sendiri tidak hadir secara langsung.
“Rouhani membunyikan bel (untuk memulai tahun ajaran) dari jarak jauh, lalu dia mengharapkan saya untuk mengirim anak saya secara langsung?” Jurnalis reformis Maziar Khosravi menulis melalui media sosial Twitter.
Melansir dari laman resmi CNN, Produser film konservatif Mahmoud Razavi menggemakan Khosravi dalam sebuah tweet, mengatakan, “bagaimana mereka bisa mengharapkan orang untuk mempercayai protokol ketika presiden sendiri tidak hadir, dan mengirim orang yang mereka cintai ke sekolah?”
Dalam hal ini, Menteri Pendidikan Mohsen Haji-Mirzaei berusaha meredakan kekhawatiran orang tua dalam pidatonya setelah dia membunyikan bel untuk meresmikan pembukaan tahun ajaran baru.
“Saya berharap keluarga mempercayai kami dan yakinlah bahwa kementerian akan melakukan kewaspadaan sepenuhnya terkait protokol kesehatan,” katanya.
Protokol kesehatan pada Murid dan peserta lainnya harus dilakukan dengan baik dan disiplin dalam mengenakan masker, pelindung wajah, diharuskan melewati pintu penyemprotan disinfektan, pemeriksaan suhu, dan duduk dengan menjaga jarak secara fisik satu sama lain.
Tindakan pencegahan lainnya yang akan dilakukan di sekolah termasuk belajar di kelas selama 35 menit serta mewajibkan siswa dan staf untuk tetap berjarak satu meter dan mengenakan masker.




