Beranda BREAKING NEWS KESYUKURAN 70 TAHUN PESANTREN AL-AMIEN PRENDUAN SUMENEP MADURA

KESYUKURAN 70 TAHUN PESANTREN AL-AMIEN PRENDUAN SUMENEP MADURA

banner post atas

Sinar5news. Com- Madura- Saya bersyukur, hari ini, Ahad, 13 November 2022 bisa menghadiri puncak acara Kesyukuran 70 Tahun Pesantren Al-Amien Prenduan Sumenep, Madura.

Iklan

Usia 70 tahun merupakan perjalanan cukup panjang bagi sebuah pesantren. Kisah perjalanan perjuangan mewujudkan sebuah ide menjadi kenyataan.

Ide tentang menjunjung tinggi agama Allah: Lii’lai kalimatillah.

Cikal bakal Pesantren Al-Amien adalah Pesantren Tegal yang terletak tidak jauh dari lokasi pesantren sekarang. Pesantren yang didirikan tahun 1952 ini merupakan lembaga tertua di Al-Amien yang dirintis oleh KH Chotib dan didirikan oleh KH. Ahmad Djauhari Chotib.

KH. Ahmad Djauhari Chotib adalah sosok bersahaja dan visioner. Beliau memasukkan ketiga anaknya ke Gontor; KH. Moh. Tidjani Djauhari, MA, KH. Idris Djauhari dan KH Maktum Djauhari, MA. Setamat ketiga bersaudara ini dari Gontor, dimulailah fase kedua perkembangan Al-Amien menjadi pesantren modern.

Kepemimpinan pesantren diemban oleh ketiga bersaudara ini hingga mereka satu persatu dipanggil oleh Allah SWT mulai tahun 2007 hingga tahun 2015.

Estafet kepemimpinan pesantren kemudian diserahkan kepada generasi kedua. Saat ini pesantren dipimpin oleh KH. Dr. Ahmad Fauzi Tidjani, MA dengan wakil KH. Dr. Ghozi Mubarok Idris, MA. Mereka dibantu oleh 5 orang anggota Dewan Riasah Pesantren.

Seperti dituturkan Dr. KH. Ahmad Fauzi Tidjani, tahun 1985 adalah titik awal Pesantren Al-Amien menjadi nasional.

Dimulai dengan dikirimkannya 11 bis, sekitar 600 orang calon pelajar yang tidak lulus ujian masuk Gontor ke Al-Amien. Mulai dari sana, setiap tahun ratusan Capel Gontor meneruskan di Al-Amien. Mereka ada yang meneruskan di Al-Amien, ada juga yang kembali ke Gontor pada tahun berikutnya. Dari situlah, Al-Amien menasional.

Hingga saat ini, jumlah santri dan santriwati sekitar 10.000 orang. Mereka belajar di beberapa tingkatan lembaga pendidikan; Sekolah Tinggi yang mudah-mudahan segera menjadi universitas, pondok dengan sistem TMI (mengacu kepada KMI Gontor), pondok Tahfizh Qur’an, dan pondok dengan sistem salaf.

Boleh dibilang, Al-Amien menyediakan menu lengkap untuk sebuah pesantren.

Salah satu tradisi yang menurut saya masih sangat kuat di Al-Amien adalah tradisi literasi tulis menulis.

Sebulan lalu saya bersyukur berkesempatan untuk memberikan seminar motivasi dan menulis di sini. Saya melihat gairah menulis yang luar biasa di kalangan santri.

Yang spektakuler, salah satu syarat akhir kelulusan siswa kelas VI di sini adalah harus menerbitkan satu buah buku. Mumtaz.

Hal lain yang juga unik adalah, ketiga anak-anak generasi kedua ini lulus TMI Al-Amien dan lalu melanjutkan ke KMI Gontor. Bukan kelas I lagi, tetapi ikut ujian akselerasi dan langsung duduk di kelas VI.

Kiai Fauzi, lulus Al-Amien tahun 1994, lalu masuk Gontor langsung kelas VI dan lulus tahun 1995. Kiai Ghozi, lulus Al-Amien tahun 1997, masuk Gontor kelas VI dan lulus Gontor tahun 1998. Putra Alm. Kiai Maktum juga sama; lulus Al-Amien, melanjutkan di Gontor langsung kelas VI.

Kita do’akan Pesantren Al-Amien terus maju dan berkembang untuk terus berkiprah dan berkhidmat kepada umat.

Milad Saiid. Berkah 70 Tahun Pesantren Al-Amien.

( Akbar Zainudin ; Motivator, Penulis Buku Man Jadda Wajada )