KEWALIAN DAN KAROMAH MAUlANA SYAIKH. Kata Pengantar Penulis. (bagian – 1)

KEWALIAN DAN KAROMAH MAUlANA SYAIKH. Kata Pengantar Penulis. (bagian – 1)

Ketika kita menyebut salah seorang dari Imam besar dalam bidang
Fiqh, seperti al-Imam Muhammad bin Idris bin al-Abbas bin Utsman bin
Syafi’i bin al-Saaib bin Ubaid bin Abd Yazid bin Haasyim bin
al-Muthaliib bin Abdi Manaf atau populer dengan panggilan al-Imam
al-syafi’i radhiallahu anhu yang mendunia dengan cepat di zamannya,
maka siapakah yang membawa informasi ke seluruh dunia tentang beliau,
padahal saat itu belum dikenal teknologi informasi Seperti zaman sekarang
dengan perangkat seperti Media Sosial (facebook, twiter), SMS, WA yang
dikenal penggunanya lebih dari 1 milyar orang di lebih 180 negara, ataupun Radio dan TV. Diantara faktor penyebabnya adalah peran aktif
murid-muridnya yang memperkenalkan beliau dan mazhab fiqihnya. Dalam
konteks ini, penulis terobsesi meniru jejak para murid Imam Syafi
radhiallahu anhu dalam upaya memperkenalkan guru besar kami
Sultanul Aulia, al-‘Aalim al-Allamah al-Aarifu billah Maulana Syaikh
Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid. Kenapa harus
kita perkenalkan? Karena beliau adalah sosok ulama besar panutan umat.
Sosok beliau adalah ulama besar yang memiliki integritas keilmuan yang
luas, memiliki fadhilah dan derajat yang tinggi. Salah seorang ulama besar
menyebut beliau sebagai: ayatun min Aayaatillaah” (Syaikh Zainuddin
itu adalah salah satu tanda dari tanda-tanda kebesaran Allah). Syaikh
Mas ud Salim Rahmatullah menyebut beliau “Barakatu al-Salaf
(manifestasi berkah ulama Salaf). Ulama besar Mekkah menyebut
“Baqiyyatu al-Salafi al-Shalih (Salafusshalih yang tersisakan). Bahkan
maha gurunya bersumpah atas keutamaannya, serta berbagai macam pujian
dan gelar keulamaan yang disandangnya. Dan dalam konteks
kelndonesiaan, beliau adalah Pahlawan Nasional asal Lombok, NTB.

Secara pribadi Maulana Syaikh sangat intensif memperkenalkan
guru-guru besarnya pada ceramah pengajian-pengajiannya, dalam
kitab-kitab karya tulis yang disusunnya. Bahkan, almamaternya Madrasah
Shaulatiyah Mekkah tersentuh dalam susunan doa Hizib yang ditulisnya.
Nama guru-guru besar beliau yang sering dipublikasikan, tidak asing lagi
bagi para murid dan jama’ahnya. Diantara guru-guru besar yang sering
dipopulerkannya adalah Maulana Syaikh Hasan Muhammad
Al-Massyaath, Syaikh al-Sayyid Muhammad Amin al-Kutbi, Syaikh Salim Rahmatullah dan lain-lain.

Karena itu, salah satu maksud dan tujuan penulis menghadirkan buku
sederhana ini adalah upaya mengenalkan dan memberi informasi lebih
dekat mengenai sosok Maulana Syaikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad
Zainuddin Abdul Madjid. Seorang ulama besar dunia yang termasuk wali
Allah. Bahkan, telah dianugerahkan posisi kewalian tingkat tinggi yang
dikenal dengan istilah Wali Quthb dan Shulthan al-Awlia’. Tingkatan dalam
Wali Quthb yang beliau sandang (Allahu a’lam) adalah Quthbul Agthab
Akbar. Level atau maqam kewalian yang sangat tinggi itu, tentunya beliau
memiliki berbagai macam karomah yang dianugerahkan oleh Allah
Subhanahu wa Ta’ala.

Oleh sebab itu, Penulis juga akan mengetengahkan kesimpulan akhir
tentang eksistensi beliau sebagai seorang ulama besar yang memiliki tingkat
kewalian dengan berbagai macam karomahnya, seperti mukasyafah beliau
terhadap para murid, jamaah, dan pencintanya. (fathi)

Moga Manfaat

Baca Selanjutnya

DARI PENULIS

BERITA TERKAIT

IKLAN

TERBANYAK DIBACA

BACA JUGA