Khutbah Jum’at : 3 Pesan Penting di Hari Kemerdekaan Oleh : H. Habib Ziadi, M.Pd (Ketua PD NWDI Lombok Tengah)

Khutbah Jum’at : 3 Pesan Penting di Hari Kemerdekaan Oleh : H. Habib Ziadi, M.Pd (Ketua PD NWDI Lombok Tengah)

Khutbah Jumat Kemerdekaan

3 Pesan Penting di Hari Kemerdekaan

Oleh : H. Habib Ziadi, M.Pd
(Ketua PD NWDI Lombok Tengah)

اْلحَمْدُ للهِ اْلحَمْدُ للهِ الّذي هَدَانَا سُبُلَ السّلاَمِ، وَأَفْهَمَنَا بِشَرِيْعَةِ النَّبِيّ الكَريمِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلَهَ إِلَّا الله وَحْدَهُ لا شَرِيك لَه، ذُو اْلجَلالِ وَالإكْرام، وَأَشْهَدُ أَنّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسولُه، اللّهُمَّ صَلِّ و سَلِّمْ وَبارِكْ عَلَى سَيِّدِنا مُحَمّدٍ وعلى اله وأصْحابِهِ وَالتَّابِعينَ بِإحْسانِ إلَى يَوْمِ الدِّين، أما بعد: فيايها الإخوان، أوصيكم و نفسي بتقوى الله وطاعته لعلكم تفلحون، قال الله تعالى في القران الكريم: أعوذ بالله من الشيطان الرجيم، بسم الله الرحمان الرحيم: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا الله وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا، يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ الله وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا وقال تعالى يَا اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. صدق الله العظيم

Nikmat kemerdekaan merupakan nikmat agung dan mulia dari Alloh Swt (Minnatullah). Berkat perjuangan suci para pendahulu kita yang berjihad dengan orasi, ide, harta, bahkan nyawa mereka, Alloh hantarkan pada kemerdekaan 17 Agustus 1945. Bertepatam dengan hari mulia yaitu Jumat momen bulan mulia yaitu 9 Ramadhan 1364 H.

Setidaknya menurut khotib ada 3 pesan kemerdekan hari ini yang penting untuk kita bersama renungkan secara mendalam.

Pertama : Flashback terhadap sejarah bahwa Para pahlawan kita telah mengamalkan perintah Agama untuk berjihad meski dengan kondisi logistik dan persenjataan yang tidak seberapa dibanding milik penjajah.
Firman Alloh :
انْفِرُوا خِفَافًا وَثِقَالًا وَجَاهِدُوا بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ
“Berangkatlah kamu baik dengan rasa ringan maupun dengan rasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan jiwamu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” [At-Taubah/9: 41]

Sebab membela hak dan tanah air adalah jihad. Terbunuh karenanya dihukumi sebagai syuhada. Sesuai hadits Nabi Saw.

عَنْ سَعِيدِ بْنِ زَيْدٍ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ : « مَنْ قُتِلَ دُونَ مَالِهِ فَهُوَ شَهِيدٌ وَمَنْ قُتِلَ دُونَ أَهْلِهِ أَوْ دُونَ دَمِهِ أَوْ دُونَ دِينِهِ فَهُوَ شَهِيدٌ »

Dari Sa’id bin Zaid, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Siapa yang dibunuh karena membela hartanya maka ia syahid. Siapa yang dibunuh karena membela keluarganya maka ia syahid. Siapa yang dibunuh karena membela darahnya atau karena membela agamanya, ia syahid.” (HR. Abu Daud no. 4772 dan An Nasa’i no. 4099)

Hadirin Sidang Jumat Yang dimulikan Alloh Swt.
Menurut al-Hafizh Ahmad bin ‘Ali bin Hajar al-‘Asqalani rahimahullah (wafat th. 852 H), “Jihad menurut syar’i adalah mencurahkan seluruh kemampuan untuk memerangi orang-orang kafir.” Istilah jihad digunakan juga untuk melawan hawa nafsu, melawan setan, dan melawan orang-orang fasik. Adapun melawan hawa nafsu yaitu dengan belajar agama Islam (belajar dengan benar), lalu mengamalkannya, kemudian mengajarkannya. Adapun jihad melawan setan dengan menolak segala syubhat dan syahwat yang selalu dihiasi oleh setan. Jihad melawan orang kafir dengan tangan, harta, lisan, dan hati. Adapun jihad melawan orang-orang fasiq dengan tangan, lisan, dan hati. Perkataan al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah tersebut sesuai dengan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, جَاهِدُوْا الْمُشْرِكِيْنَ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ وَأَلْسِنَتِكُمْ. “Berjihadlah melawan orang-orang musyrikin dengan harta, jiwa, dan lisan kalian.”

Momentum peringatan kemerdekan RI ke 76 ini memontum besar agar kita tidak alergi dan phobia terhadap kata Jihad atau mati syahid. Sebab pekikan Allohu Akbar, Merdeka atau Mati atau Isy Kariman Atau Mut Syahidan adalah syiar dan simbol perlawan bangsa kita sejak zaman dulu.

Kata Bung Karno dengan tegas “Jangan sekali-kali lupakan sejarah” (JASMERAH) . Itulah kalimat-kalimat penyemangat kita. Itulah modal juang kita. Dengan itu moril dan nyali lawan-lawan kita ciut dan hilang akalnya bagaimana mengamputasi spirit perlawan pahlawan kita.

Jika kata jihad, syahid, dan pekikan takbir selalu dinarasikan negatif dan hendak dieliminasi dalam setiap buku pelajaran anak didik kita termasuk buku fiqih, jangan salahkan bila anak-anak kita hari ini lebih kenal siapa youtuber dan selebgram ketimbang pahlawan bangsanya apalagi sahabat Nabinya. Lebih hafal lagu-lagu cinta monyet daripada lagu-lagu perjuangan.

Kekeliruan pemahaman dan pengamalan jihad sebagian kecil kaum Muslimin yang berujung terorisme dan ektrimisme jangan dijadikan modus menihilkan semangat itu kepada anak-anak bangsa ini. Jika pemahaman komprehenshif jihad yang disampaikan oleh Imam Ibnu Hajar Al Asqolani atau Imam Abu Hamid Al Ghazali disosialisikan massif, disertai keadilan dalam ekonomi dan supremasi hukum, insya Alloh selesailah urusan terorisme dan ektrimisme itu.

Hadirin Sidang Jumat Yang dimulikan Alloh Swt.
Pesan kemerdekan kedua adalah kita harus mencintai negeri kita ini dengan ikhlas. Cinta negeri merupakan fitrah kemanusiaan. Bahwa siapapun itu akan rindu dan cinta kepada tanah airnya. Bahkan Nabi Muhammad saw sangat mencintai Makkah meskipun beliau terpaksa berhijrah ke Madinah.

Beliau bersabda :
مَا أَطْيَبَكِ مِنْ بَلْدَةٍ وَأَحَبَّكِ إِلَيَّ، وَلَوْلَا أَنَّ قَوْمِي أَخْرَجُونِي مِنْكِ، مَا سَكَنْتُ غَيْرَكِ

Artinya: “Alangkah baiknya engkau (Makkah) sebagai sebuah negeri, dan engkau merupakan negeri yang paling aku cintai. Seandainya kaumku tidak mengusirku dari engkau, niscaya aku tidak tinggal di negeri selainmu” (HR Ibnu Hibban).
Terungkap pula doa beliau yang terekam dalam riwayat :
اللَّهُمَّ حَبِّبْ إِلَيْنَا الْمَدِينَةَ كَحُبِّنَا مَكَّةَ أَوْ أَشَد
Ya Allah, jadikan kami mencintai Madinah seperti cinta kami kepada Makkah, atau melebihi cinta kami pada Makkah.” (HR al-Bukhari 7/161)

Di sinilah kita dilahirkan. Dari tanah subur dan berkah inilah kita diberi rezeki oleh Yang Maha Kuasa. Tanah ini adalah amanah leluhur kita. Sudah pasti amanah dari Allah SWT.

Di negeri yang kita warisi bersama ini, masih banyak kita dengar pembiaran tindak kejahatan korporasi berupa ekplorasi besar-besaran sumber daya alam hingga merusak lingkungan dan mengancam nyawa manusia. Penyakit menahun berupa kebijakan koruptif, pajak yang mencekik, hukum tebang pilih, dan jual beli jabatan belum sembuh di negeri kita. Artinya negeri ini belum dicintai sepenuhnya oleh penghuni rumahnya sendiri.

Hadirin Sidang Jumat Yang dimulikan Alloh Swt.
Pesan ketiga :
Belajar dari perjuangan kemerdekaan kita sendiri dahulu, ada dua jalan perjuangan. Ada “jalan Sudirman,” yaitu melawan Belanda dengan senjata. Ada “jalan Sukarno,” melawan dengan diplomasi. Dua jalan itu niscaya,” ujar gus Ulil Abshar, seorang cendekiawan muda ternama.

Dua jalan di atas adalah jalan yang saling menguatkan dan meneguhkan. Masing-masing punya peran dan andil yang sangat besar. Tanpa sinergi dua jalan itu, kita mungkin tidak sampai pada gerbang kemerdekaan ini.

Dalam mengisi kemerdekaan hari ini, kita punya dua jalan dengan nama jalan/jalur kultural dan struktural. Jalur kultural seperti para ulama, dai, agamawan, pekerja swasta, seniman, atlet, pecinta lingkungan, dan lainnya. Jalur struktural seperti pejabat Eksekutif, politisi, PNS, TNI, Polri, KPK, KPU, aparat penegak hukum lainnya.

Bahkan mungkin saja bukan dua jalan tapi banyak jalan untuk berkontribusi. Semua bisa berbuat dengan bakat, kemampuan, dan posisi masing-masing. Satu sama lain saling menopang dan meneguhkan.
Allah berfirman..

وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ ۖ وَسَتُرَدُّونَ إِلَىٰ عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ
“Katakanlah: “Bekerjalah kamu maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada Allah yang mengetahui akan yang gaib dan yang nyata, lalu diberitakannya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. At Taubah :105)

Hadirin Sidang Jumat Yang dimulikan Alloh Swt.
Kita butuh banyak pahlawan-pahlawan baru bagi Indonesia, pahlawan di bidang olahraga agar Indonesia Raya kerap dikumandangkan di ajang internasional. Pahlawan ekonomi kreatif dan ekonomi keummatan yang menyediakan lapangan pekerjaan baru dan penyertaan modal bagi masyarakat luas. Pahlawan sosial yang tidak pamrih menyantuni serta mendampingi kaum marjinal, difabel, dan pinggiran. Pahlawan pendidikan yang sabar, ikhlas, istiqamah, rela mendidik tunas bangsa meski gaji mereka belum tentu cukup di bulan itu. Pahlawan dakwah dan agama yang tidak pernah takut menyuarakan kebenaran serta membimbing ummat kearah kebaikan dan perbaikan. Para politisi dan pejabat jadilah anda pahlawan dengan menjadikan jabatan anda sebagai wasilah yang menghadirkan keteladanan dan kemaslahatan bagi masyarakat.

Inilah Indonesia yang diidam-idamkan oleh para pahlawan dan pendahulu kita. Agar penerusnya menjadi pahlawan-pahlawan bari di masanya. Kemerdekaan sebagai amal jariyah bagi mereka namun menjadi tanggung jawab kita bersama mempertahankannya.

جَعَلَنا اللهُ وَإيَّاكم مِنَ الفَائِزِين الآمِنِين، وَأدْخَلَنَا وإِيَّاكم فِي زُمْرَةِ عِبَادِهِ المُؤْمِنِيْنَ
باَرَكَ اللهُ لِيْ وَلكمْ فِي القُرْآنِ العَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيّاكُمْ بِالآياتِ وذِكْرِ الحَكِيْمِ. إنّهُ تَعاَلَى جَوّادٌ كَرِيْمٌ مَلِكٌ بَرٌّ رَؤُوْفٌ رَحِيْمٌ

Artikel Khutbah Jum’at : 3 Pesan Penting di Hari Kemerdekaan Oleh : H. Habib Ziadi, M.Pd (Ketua PD NWDI Lombok Tengah) pertama kali tampil pada Sinar5Syiar.

Baca Selanjutnya

DARI PENULIS

BERITA TERKAIT

IKLAN

TERBANYAK DIBACA

BACA JUGA