Abu Darda’ Radliyallahu Anhu memiliki nama lengkap Uwaimir bin Zaid bin Qais, seorang sahabat perawi hadist dari Anshar, dari kabilah Khajraj, beliau menghapal al-Qur’an dari Rasulullah sallallahu ‘Alaihi Wasallam.
Dalam perang Uhud Rasulullah Salallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda mengenai dirinya “Prajurit berkuda paling baik adalah Uwaimir” Beliau ini dipersaudarakan oleh Rasulullah dengan Salman Al Farisi. Beliau mengikuti semua peperangan yang terjadi setelah perang Uhud.
Pada masa pemerintahan Khalifah Utsman bin Affan, Abu Darda’ diangkat menjadi Hakim di daerah Syam, beliau adalah mufti (pemberi fatwa) penduduk Syam dan ahli Fiqh penduduk Palestina.
Beliau meriwayatkan Hadits dari Sayyidatuna ‘Aisyah Radliyallahu Anha dan Zaid bin Tsabit Radliyallahu ‘Anhu. Dan sahabat yang meriwayatkan Hadits dari beliau ialah anaknya sendiri Bilal ibn Abu Darda’ dan istrinya Ummu Darda’. Hadits yang dia riwayatkan beliau tercatat sekitar 179 Hadits. Terkait keutamaan Abu Darda’, Masyruq berkata: ”Aku mendapatkan ilmu Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam pada enam orang di antaranya dari Abu Darda“. Ia wafat pada tahun 32 H di Dasmaskus.
Abu Darda’ berkata; terdapat tiga perkara yang membuat aku tertawa dan tiga perkara yang menyebabkan aku menangis. Pertama; Aku tertawa dari para pencinta dunia ( Hubb Al-Dunia ), mereka tidak menyadari bahwa kematian senantiasa mengintainya. Kedua; Aku tertawa kepada orang yang lalai ( al-Ghafilin ), mereka tidak memahami bahwa Allah selalu mencatat apapun yang dilakukannya. Ketiga; Aku tertawa dari mereka yang hidup berfoya-foya, bersenda gurau antara mereka, menghabiskan waktu tanpa berguna, mereka tidak menyadari apakah hidup setelah ini akan menggembirakan atau menyedihkan. Dan aku menangis karena; Pertama; Aku menangis karena kekhawatiranku ( al-Khauf ) apakah akan mendapatkan rida atau murka Allah?,
Kedua; Apakah amal yang aku lakukan dapat menjadi penolong atau jangan-jangan akan menjerumuskanku dalam murka Allah. Ketiga; Apakah Allah akan merahmatiku atau memberikan murka padaku.
Dari nasihat yang disampaikan Abu Darda’ tersebut dapat diambil pengajaran bahwa bersikaplah sederhana dalam segala hal. Sederhana dalam memperlakukan dunia karena kematian senantiasa mengintai kita, sederhana dalam menjaga diri sadar akan hakikat kehidupan karena sikap lalai membawa kehancuran dan sederhana dalam memanfaatkan kehidupan duniawi karena hidup setelah mati jauh lebih dahsyat dan tiada batasnya.
Sadarilah bahwa siksa dan azab Allah saat di akhirat jauh lebih berat dan sangat pedih, sadarilah bahwa amal-amal yang kita lakukan belum tentu dan bahkan tidak akan dapat menolong kita di akhirat melainkan karena rahman dan rahimnya Allah dan sadarilah bahwa tidak ada yang patut kita minta kepada Allah selain dari memohon kasih sayangnya kepada kita.




