Mencintai Diri Sendiri: Jalan Merawat Kekuatan Jiwa
Muqoddimah
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ خَلَقَ الْإِنْسَانَ فِيْ أَحْسَنِ تَقْوِيْمٍ، وَجَعَلَ النَّفْسَ أَمَانَةً يَجِبُ صَوْنُهَا مِنَ التَّقْصِيْرِ وَالتَّعْظِيْمِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَه،ُ الْمُتَفَضِّلُ بِالْهِدَايَةِ وَالتَّكْرِيْمِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الصَّادِقُ الْبَرُّ الرَّحِيْمُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْفَضْلِ وَالتَّسْلِيْمِ. أَمَّا بَعْدُ.
Isi Pidato
Hadirin jamaah shalat tarawih yang dirahmati Allah,
Kita telah sampai di malam ketiga Ramadan. Perjalanan masih panjang, namun semangat kita tidak boleh surut. Setelah kita membahas cinta kepada Allah dan cinta kepada sesama, malam ini kita akan membahas satu pondasi yang sering terlupakan: Mencintai diri sendiri.
Mungkin terdengar aneh, “Mengapa dalam agama kita harus mencintai diri sendiri? Bukankah itu egois?” Hadirin sekalian, mencintai diri sendiri dalam Islam bukan berarti sombong (ujub), melainkan menghargai titipan Allah berupa nyawa, kesehatan, dan jiwa yang ada dalam raga ini. Bagaimana mungkin kita bisa mencintai Allah dan sesama dengan maksimal, jika jiwa kita sendiri sedang hancur dan tidak terawat?
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Kekuatan jiwa dimulai dari kemampuan kita menghargai diri kita sebagai hamba-Nya. Allah SWT telah menciptakan kita dengan sebaik-baik bentuk dan memberikan martabat yang mulia. Allah berfirman dalam Al-Qur’an:
وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِيْٓ اٰدَمَ
(Wa laqad karramnā banī ādam)
“Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam.” (QS. Al-Isra: 70)
Bentuk cinta tertinggi kepada diri sendiri adalah dengan menjaga diri kita dari hal-hal yang dapat merusak dunia dan akhirat kita. Inilah yang disebut dengan Tazkiyatun Nafs atau penyucian jiwa. Ramadan adalah momen di mana kita “memanjakan” jiwa kita dengan nutrisi ibadah, setelah sebelas bulan mungkin kita terlalu sibuk memanjakan fisik kita.
Dahsyatnya Menghargai Amanah Jiwa
Dalam sebuah hadis, Rasulullah ﷺ memberikan panduan yang sangat indah tentang keseimbangan hidup. Diriwayatkan bahwa beliau menegur sahabat yang beribadah terus-menerus tanpa istirahat:
فَإِنَّ لِجَسَدِكَ عَلَيْكَ حَقًّا، وَإِنَّ لِعَيْنِكَ عَلَيْكَ حَقًّا، وَإِنَّ لِزَوْجِكَ عَلَيْكَ حَقًّا
(Fa’inna lijasadika ‘alaika ḥaqqan, wa inna li’ainika ‘alaika ḥaqqan, wa inna lizaujika ‘alaika ḥaqqan)
“Maka sesungguhnya bagi tubuhmu ada hak yang harus engkau tunaikan, bagi matamu ada hak yang harus engkau tunaikan, dan bagi isterimu ada hak yang harus engkau tunaikan.” (HR. Bukhari)
Hadis ini mengajarkan kita bahwa mencintai diri sendiri adalah dengan memberikan hak-haknya secara adil. Di bulan Ramadan ini, kita memberikan hak ruhani kita untuk dekat dengan Allah. Namun, kita juga diperintahkan untuk menjaga kesehatan saat sahur dan berbuka. Ini adalah bentuk cinta yang nyata.
Kekuatan Jiwa: Menolak Menyerah pada Putus Asa
Hadirin sekalian, cinta pada diri sendiri juga berarti tidak membiarkan diri kita terjerumus dalam lembah putus asa. Orang yang mencintai jiwanya karena Allah, dia akan selalu merasa berharga meski sedang dalam ujian. Dia tahu bahwa dirinya adalah milik Allah yang Maha Rahman.
Ingatlah hadis tentang kekayaan sejati yang sudah kita bahas sebelumnya:
لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ
(Laisal-ghinā ‘an kaṡratil-‘araḍi wa lākinnag-ghinā ghinan-nafs)
“Kekayaan itu bukanlah dengan banyaknya harta benda, namun kekayaan yang hakiki adalah kekayaan jiwa.” (HR. Bukhari & Muslim)
Orang yang memiliki Ghinan Nafs (kekayaan jiwa) adalah orang yang sudah selesai dengan dirinya sendiri. Dia mencintai dirinya apa adanya, menerima takdir Allah dengan rida, dan tidak menggantungkan kebahagiaannya pada penilaian manusia. Inilah dampak Ramadan yang dahsyat: melahirkan pribadi yang percaya diri karena ia tahu Allah mencintainya.
Hadirin yang berbahagia,
Mari kita jadikan sisa Ramadan ini sebagai ajang untuk “berdamai” dengan diri sendiri.
* Maafkanlah kesalahan-kesalahan kita di masa lalu.
* Hentikan menghujat diri sendiri atas kegagalan yang pernah terjadi.
* Mulailah mencintai diri dengan cara membawa diri ini menuju rida Allah.
Ketahuilah, jiwa yang kuat adalah jiwa yang tahu kapan harus tegas menghadapi nafsu, dan kapan harus lembut memeluk kelelahan. Jika kita sudah bisa mencintai diri sendiri karena Allah, maka kita akan memiliki cadangan cinta yang tak terbatas untuk dibagikan kepada orang lain di sekitar kita.
Penutup
Sebagai penutup, mari kita renungkan: Kita adalah ciptaan Allah yang luar biasa. Jangan sia-siakan diri kita dengan maksiat. Jagalah “rumah” tempat iman kita bersemayam ini dengan sebaik-baiknya. Semoga di malam ketiga ini, Allah menguatkan batin kita, menenangkan kegelisahan kita, dan menjadikan kita pribadi yang mampu mencintai diri sebagai jalan untuk mencintai-Nya.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.




