Mengupas Bait Wasiat Maulana Syaikh TGKH M. Zainuddin Abdul Madjid

Mengupas Bait Wasiat Maulana Syaikh TGKH M. Zainuddin Abdul Madjid

Sinar5news.com – Kewibawaan dan kedalaman ilmu dari sosok Al-Mukarram Maulana Syaikh TGKH M. Zainuddin Abdul Madjid, seorang ulama besar karismatik asal Nusa Tenggara Barat (NTB), Indonesia. Di dalam wasiat renungan masa yang beliau buat, tertera rangkaian bait nasihat mendalam:

“Wahai anakku jangan lah lilus”
“Cahaya imanmu nyalakan terus”
“Jangan padamkan lantaran fulus”
“Berkat hilang hubungan putus”

Nasihat ini, meskipun singkat, memuat pesan moral yang sangat relevan dan mendesak bagi generasi muda Muslim, khususnya para santri dan murid beliau. Mari kita bedah makna spiritual dan etis yang terkandung di dalamnya.

1. “Wahai anakku jangan lah lilus”
Kata “anakku” di sini bukan hanya merujuk pada keturunan biologis, tetapi juga kepada para murid, pengikut, dan setiap jiwa muda yang sedang menuntut ilmu. Panggilan ini menyiratkan kasih sayang, tanggung jawab, dan bimbingan seorang guru spiritual (mursyid).
Sedangkan kata “lilus” dalam bahasa Sasak memiliki makna yang kaya, mencakup arti ‘lemah’, ‘lesu’, ‘pudar’, atau ‘hilang semangat’. Nasihat ini adalah seruan untuk jangan pernah membiarkan semangat perjuangan, tekad untuk belajar, dan kecintaan pada agama menjadi lemah atau pudar. Lilus bisa berarti kehilangan arah, putus asa, atau tergerus oleh godaan duniawi.

2. “Cahaya imanmu nyalakan terus”
Pesan kedua ini adalah antitesis dari “lilus”. Maulana Syaikh menekankan pentingnya menjaga “cahaya iman”. Iman dalam Islam digambarkan sebagai sebuah cahaya yang menuntun seseorang dalam kegelapan. Cahaya ini harus “dinyalakan terus”, artinya iman tidak boleh hanya menjadi identitas yang melekat, tetapi harus hidup, dipupuk, dan diperbarui setiap saat melalui ibadah, dzikir, ilmu, dan amal shaleh.
Menjaga iman agar tetap menyala adalah kunci untuk tetap teguh, terarah, dan tidak terjerumus ke dalam hal-hal yang dapat melupakannya.

3. “Jangan padamkan lantaran fulus”
Ini adalah nasihat intisari dari bait tersebut. Fulus secara harfiah berarti ‘uang’ atau ‘harta’. Maulana Syaikh, dengan kepekaan spiritualnya, melihat bahaya laten di mana pengejaran terhadap kekayaan dan kemewahan duniawi dapat “memadamkan” cahaya iman.
Bahayanya, seseorang bisa menjadi begitu terlena dalam mengejar harta sehingga mengabaikan nilai-nilai agama, prinsip-prinsip moral, dan hubungan dengan Sang Pencipta. Fulus bisa menjadi sumber fitnah (godaan) yang kuat, yang jika tidak dikelola dengan iman yang kokoh, akan mengarah pada perilaku korup, serakah, dan hilangnya keberkahan.

4. “Berkat hilang hubungan putus”
Nasihat ini menggambarkan konsekuensi dari tindakan memadamkan iman karena fulus.
* “Berkat hilang”: Ketika harta diperoleh dengan cara yang tidak halal, atau ketika iman diabaikan demi harta, maka keberkahan (barakah) akan hilang. Barakah bukan hanya tentang jumlah, tetapi tentang kebaikan yang melimpah dan bermanfaat. Harta tanpa barakah hanya akan menjadi sumber kegelisahan, masalah, dan tidak akan memberikan kedamaian hati.
* “Hubungan putus”: Ketika iman pudar dan fulus menjadi tuhan, hubungan dengan Allah SWT akan menjadi renggang dan bahkan terputus. Selain itu, pengejaran harta tanpa kendali moral juga dapat merusak hubungan interpersonal dengan sesama manusia—dengan keluarga, teman, dan masyarakat—karena cinta pada dunia seringkali memicu pertikaian, egoisme, dan hilangnya empati.
Kesimpulan
Nasihat Al-Mukarram Maulana Syaikh TGKH M. Zainuddin Abdul Madjid ini adalah sebuah peringatan yang tajam dan tak lekang oleh waktu. Ia mengajarkan kita untuk tidak “lilus” dalam perjalanan spiritual kita, untuk selalu “menyalakan terus” cahaya iman, dan yang terpenting, untuk tidak membiarkan hasrat akan “fulus” memadamkan cahaya iman dan memutuskan hubungan kita dengan Allah SWT serta merusak keberkahan dalam hidup kita. Ini adalah panggilan untuk menyeimbangkan antara kehidupan dunia dan akhirat, dengan iman sebagai kompas utama.

Baca Selanjutnya

DARI PENULIS

BERITA TERKAIT

IKLAN

TERBANYAK DIBACA

BACA JUGA