Sinar5news.Com – Lombok Timur – Tasyakuran Nasional HULTAH NWDI Ke-86 diselenggarakan dengan Protokol Kesehatan yang ketat, dan dihadiri oleh Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam) Prof.Dr. Mahpud,MD, Menteri Agama RI Yaqut Kholil Kaumas, Menteri BUMN Erik Tohir secara Virtual. Bertempat di Musholla Al Abror Pancor. Ahad (29/08/2021).
Menkopolhukam RI dalam kata sambutannya mengajak seluruh elemen bangsa untuk bersyukur bahwa organisasi NWDI yang berusia 86 tahun telah banyak berkiprah penting dan strategis dalam sejarah perkembangan bangsa di Indonesia dan lslam dunia.
“Kita berdoa agar Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah ini semakin besar,maju dan berkiprah terhadap kemajuan peradaban bangsa dan ummat. Kita bersyukur pada saat ini kita dapat mendoakan pendiri NWDI ini, Almagfurullah Tuan Guru Kiyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Majid,”ungkap Mahpud MD.
Menurut Mahpud, keberkahan itu baru bisa diperoleh salah satu caranya adalah dengan mengingat dan meneladani kepribadian dan perjuangan beliau (Maulanasyikh-red). Peran besar Almagfurullah tercatat sebagai bagian perjuangan kebangsaan Indonesia dari pra dan pasca kemerdekaan, khususnya dalam membangun dan mengembangkan pendidikan, social dan dakwah islamiyah.
“Peran besar itu, salah satunya dilakukan dengan mendirikan pesantren dan madrasah-madrasah NWDI yang dimulai pada tahun 1937, sehingga pada hari ini diperingati dalam usia 86 tahun. Bahkan menurut catatan, beliaulah yang mendirikan madrasah pertama untuk perempuan di Indonesia,yaitu Nahdlatul Bhanat Diniyah Islamiyah atau NBDI,”paparnya.
Melihat perjuangan Maulana Syaikh yang sangat gigih memperjuangkan kemerdekaan Republik Indonesia dan membangun bangsa dan agama melalui pondok-pondok pesantren, maka pemerintah RI menyematkan predikat Pahlawan Nasional kepada TGKH.Muhammad Zainuddin Abdul Majis, sesuai dengan Keppres No.115 tahun 2017.
Mahpud menambahkan, banyak hal yang dapat kita teladani dari kepribadian dan kehidupan Maulana Syaikh TGKH.M.Zainuddin Abdul Majid ini, setidaknya ada empat catatan pendek saya tentang teladan yang dapat kita ambil dari khidupan dan kepribadian beliau, diantaranya yang pertama menanamkan sikap optimisme.
“Beliau mengajarkan sikap optimism, karena optimis dan semangat juang sangat diperlukan untuk mengembangkan diri untuk merubah keadaan, tidak bisa orang yang tidak punya sikap optimisme dan semangat itu akan berhasil di dalam perjuangannya, seperti yang dicontohkan oleh Maulana Syeikh dalam semangat belajar dimana pada usia 15 tahun beliau berangkat ke Makkah untuk menuntut ilmu, ”tegasnya.
Yang kedua sikap teladan yang dapat kita ambil dari kehidupan dan kepribadian Maulanasyeikh adalah menempatkan pendidikan sebagai syarat kemajuan ummat dan bangsa. Untuk merebut dan mempertahankan kemerdekaan diperlukan insane-insan terdidik maka demikian pula untuk mengisi kemerdekaan.
Kemudian keteladanan Yang ketiga, menautkan antara spirit beragama dan spirit nasionalisme, tidak memperhadapkan antara identitas keagamaan dengan ke Indonesiaan. Keislaman dan ke Indonesiaan adalah satu kesatuan yang terintegrasi.
“Sebaliknya yang dicontohkan oleh beliau, adalah menjadikan islam sebagai basis lahirnya nasionalisme dan menjadikan bangsa Indonesia sebagai rumah yang islami secara damai,”tuturnya.
Lalu Tauladan yang ke empat adalah Maulana syeikh selalu menggunakan pendekatan cultural yang damai dalam mengembangkan islam, tanpa merusak tatanan masyarakat dan tidak bertentangan dengan nilai-nilai ajaran islam.
“pendekatan cultural tidak akan pernah melahirkan komplik penolakan, sebaliknya pendekatan ini telah mampu membuat nilai dan ajaran islam yang merekat sampai keakar budaya masyarakat kita ini, menyebar luas dan mendalam, hal inilah yang kita rasakan dilombok,”tutup Mahpud,MD.(Bul)



