Jika anda tanya para mahasiswa soal kemerdekaan, anda pasti menemukan jawaban “kita belum merdeka”. Bahkan anda juga akan menemukan mahasiswa yang malu merayakan hari kemerdekaan. Bukan soal mereka tak menghargai perjuangan para pejuang, tetapi standar merdeka mereka yang berbeda.
Anda bisa menyaksikan bagaimana banyak dari mereka yang mengagumi para pejuang bangsa. Anda bisa cek organisasi kemahasiswaan. Anda akan menemukan nasionalisme sebagai asas pengkaderan organisasi itu. Mereka banyak membaca pemikiran para pejuang bangsa.
Merdeka bagi banyak mahasiswa adalah suatu keadaan warga negara yang mendapatkan keadilan sosial dan kesejahteraan. Jadi, selama 2 hal tersebut belum didapatkan, itu maknanya belum merdeka. Bahkan mereka berpikir bahwa sebenarnya kita masih dijajah, gaya kolonialisasinya saja berbeda.
Anda bisa konfirmasi bagaimana seorang Karl Marx yang menjelaskan gaya kolonialisasi dari yang paling klasik sampai yang paling kontemporer. Dari perspektif Marx ini, anda kemudian akan menyimpulkan bahwa kita masih terjajah dan belum merdeka. Sehingga merdeka dalam artian bebas dari Belanda dan Jepang tidaklah cukup untuk mendefinisikan kata merdeka. Merdeka itu harus bebas dari bangsa penjajah serta keadilan sosial dan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia. Merdeka bagi mahasiswa sangatlah ideal dan harus utuh.
Merdeka seutuhnya inilah yang didambakan oleh mahasiswa. Saya pikir tak hanya mahasiswa, tetapi semua warga negara bangsa ini dari dulu sampai sekarang. Merdeka inilah yang menurut mahasiswa harus diperjuangkan dan tentunya merupakan tugas dari generasi hari ini. Dan inilah hal yang harus ditinggalkan untuk generasi bangsa berikutnya. Kita harus segara mulai, merdeka seutuhnya sudah menjadi sesuatu yang darurat dilakukan dan juga bukan perkara mudah. Kita butuh banyak hal selain waktu. Ada Pendidikan, Ekonomi, Politik, Sosial, Budaya yang perlu diperbaiki dalam mencapai kemerdekaan seutuhnya. Masing-masing kita harus berperan sesuai kapasitas diri dan konsisten.
Hal pertama yang harus dilakukan kita adalah mengetahui sampai mana sudah perbaikan kondisi bangsa ini. Hal ini dibutuhkan untuk memastikan peran yang akan kita lakukan ke depan tidak salah. Melakukan hal yang salah berimplikasi pada kondisi kita yang jalan-jalan di tempat itu saja, bukan malah maju. Yang paling dekat adalah membangun bangsa di tempat masing-masing dari diri sendiri ke keluarga, masyarakat dan desa.
Merdeka tetaplah sesuatu yang harus diperjuangkan. Ia bukan sesuatu yang selesai hanya dengan mengeluh atau meratapi suatu keadaan. Bangsa ini butuh kerja kita semua dalam mencapai cita-citanya. Ia butuh kesabaran, ketulusan, ilmu, evaluasi terus menerus, komitmen, kesadaran, dan seterusnya. Kita harus memastikan bahwa merdeka seutuhnya sedang dalam proses menuju ke sana.
Dirgahayu Republik Indonesia kemudian harus menjadi momentum menilai bangsa ini sudah sampai mana dan menilai diri ini sudah berperan apa tidak. Merdeka seutuhnya tetap mensyaratkan perjuangan kolektif layaknya merdeka tahun 45. Memang ia adalah perkara sulit, namun tak berarti ia tak mungkin. Harapan ini harus hidup di dalam diri kita masing-masing dan harus terus dirawat sampai merdeka seutuhnya. Merdeka!




