عن أبي هريرة -رضي الله عنه- عن النبي -صلى الله عليه وسلم- قال: إنَّ اللَّهَ تَجاوَزَ عن أُمَّتي ما حَدَّثَتْ به أنْفُسَها، ما لَمْ تَعْمَلْ أوْ تَتَكَلَّمْ
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda :
“Sungguh Allah memaafkan bisikan hati dalam diri umatku, selama belum dilakukan atau diucapkan“ (HR Al Bukhari 5269, Ibnu Hibban 4334)
Pelajaran yang terdapat di dalam hadits :
1. Hadits tersebut menjelaskan tentang salah satu keutamaan menjadi umat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
2. Sesungguhnya Allah Ta’ala berlaku sangat baik kepada hamba-Nya yang muslim, Dia mengampuni apa yang ada dalam hati mereka dari pikiran-pikiran yang jelek yang muncul tanpa maksud dan tanpa niat untuk melakukannya.
3. Allah mengampuni bisikan hati yang buruk selama itu tidak diamalkannya, sedangkan Allah menghitung pahala untuk niatan yang baik di dalam hati walaupun itu belum diamalkannya.
4. Niatan buruk yang ingin dilakukannya, kemudian dalam prakteknya dia bisa menghindarinya maka hal tersebut dihitung sebagai sebuah kebaikan (pahala).
Seperti diceritakan dalam hadits Muttafaqun ‘alaih kisah orang yang terjebak dalam goa, salah satunya berniat untuk berzina akan tetapi hal itu tidak jadi dilakukannya. Hingga perbuatan tersebut dinilai oleh Allah sebagai kebaikan, yang bisa menjadi wasilah terbukanya batu.
5. Hadits di atas menceritakan begitu baiknya Allah kepada hamba-Nya, maka sudah sepatutnya seorang hamba juga berusaha menjaga hubungan yang sangat baik dengan-Nya. Yakni dengan menjalankan ketaatan dan beribadah semaksimal yang kita mampu.




