Setiap ibadah memiliki hikmah. Hikmah adalah opsi terakhir yang bisa digali oleh manusia ketika tidak mampu menemukan jawaban yang rasional terhadap yang dipikirkan oleh manusia. Hikmah dalam hadist Nabi adalah sesuatu yang hilang dari seorang mukmin yang harus diambil ketika ditemukan.
Ulama’, para cendekia telah banyak memberikan penjelasan soal hikmah dari ibadah yang disyariatkan oleh tuhan. Ada yang menjelaskan aspeknya sosialnya, aspek mamfaatnya, ada yang murni membahas sisi eskatologis, soal alam akhirat. Kesemua itu bermakna, bahwa agama ini adalah agama yang rasional dan agama yang pro terhadap manusia.
Salah satu penjelasan soal hikmah misalnya adalah hikmah ibadah puasa ramadhan. Beberapa cendikia menjelaskan pendidikan sebagai hikmah dari ibadah puasa. Konsekuensi makna pendidikan kemudisn adalah dalam bulan-bulan sebelumnya, kita tidak menjadi manusia, jika kita menggunakan perspektif pendidikan adalah soal memanusiakan manusia. Manusia dalam perspektif ini, harus terus melakukan pendidikan terhadap dirinya sendiri. Adagium yang semakna dengan hal tersebut adalah belajar sepanjang hayat.
Pendidikanlah yang memperbaiki manusia dalam sejarah. Pendidikan yang kemudian memiliki cita-cita untuk memaksimalkan semua potensi manusia. Bagi pendidikan, setiap manusia memiliki potensi yang sama-sama besar. Potensi tersebut sangat fungsional dalam menghadapi kehidupan manusia sendiri. Pendidikanlah yang memastikan manusia menjadi manusia, dengan kesadaran bahwa manusia memiliki potensi kehewanannya sebagaimana keterangan Yoval Noah Harari dalam Homo Sapiensnya. Dalam keterangan Alghozali, manusia memiliki potensi menjadi malaikat. Potensi-potensi tersebutlah yang di urus oleh pendidikan.
Soal belajar adalah hal mutlak yang harus kita lakukan disetiap kesempatan untuk memastikan kesempatan yang kita jalani tidak sia-sia. Segala yang berada diluar diri kita adalah fasilitas yang dapat membantu kita. Pesannya kemudian, bahwa diri kita sendirilah yang akan menjadi pendidik bagi diri kita sendiri pasca keluar dari bangunan sekolah yang didalanya guru, seorang pendidik. Tugas mendidik adalah tugas kita sendiri pasca kita menjadi lebih sadar akan eksistensi kita semua didunia. Pelajaran dari proses pendidikan yang kita jalani dari sejak TK sampai perkuliahan adalah menjadikan kita sebagai pendidik bagi diri kita sendiri. Kemudian harus kita tetap lakukan, termasuk dalam momentum Ramadhan.
Ramadhan adalah soal mendidik diri kita pribadi. Tuhan sudah menyediakan fasilitasnya baik melalui ibadah yang wajib atau ibadah-ibadah sunnah di bulan Ramadhan. Hanya orang yang mau mendidik dirinyalah yang akan mendapati kesempatan ini tidak sia-sia. Tujuan-tujaan ramadhan yang disebutkan oleh syariat akan dicapai hanya bagi yang mau mendidik dirinya, mau belajar untuk mencapai target yang diberikan tuhan kepadanya.
Hal yang kemudian penting kita tanya kepada diri kita pasca bulan ramadhan adalah apakah kita telah menjadi lebih baik? Atau kita sama sekali tidak memilki perubahan yang lebih baik dari pada sebelumnya. Pertanyaan ini cukup untuk membuat kita berpikir soal waktu yang kita jalani dan untuk menentukan apakah waktu kita sia-sia atau tidak. Apakah kita menjadi bagian dari orang merugi mengutip keterangan hadits Nabi dan dari Qur’an.
Hidup adalah soal waktu. Kita sudah banyak menyaksikan orang-orang yang keluar dari waktu. Sebagai seorang muslim yang tujuan hidupnya adalah beribadah kepada Allah tentunya, waktu menjadi persoalan kesempatan sebelum kita keluar dari waktu. Kita akan mempertanggung jawabkan segala yang telah kita perbuat selama kita hidup didunia. Kehidupan seorang muslim adalah soal intraksi dengan tuhan dan makhluk. Semuanya dituntut untuk baik dalam intraksi tersebut sebagai konsekuensi menjadi seorang muslim yang diatur interaksinya. ( Zulkarnaen)




