“Jangan alergi dengan syariah, karena Wapres kita KH Ma’ruf Amin banyak menjadi dewan komisaris dalam Bank Syari’ah. Dan nilai-nilai Ketuhanan tertuang dalam sila pertama Pancasila, Ideologi Pancasila telah diletakkan oleh funding father kita sebagai dasar negara, dan mejalankan syariah adalah bagian dari nilai-nilai ketuhanan,” kata Al Khattat.
Menurutnya, HTI tak perlu di takuti, karena tidak bisa menegakan negara, karena tidak punya kekuatan militer dan HTI bukan pemerintah HTI. HTI hanyalah menyebarkan pemahaman khilafah yang mereka yakini dalam ajaran Islam.
“Yang paling bahaya masalah Papua, karena kalau tidak ditangani malah berbahaya. Transnasional bukan hanya HTI yang berpaham agama Islam, yang lain juga transnasional. Kristen, Budha Katholik, Hindu juga trans nasional sebab agama asli nusantara adalah dinamisme,” jelasnya.
Selanjutnya Al Khattat mengungkapkan, kata Bung Karno yang harus diwaspadai adalah neokolim (neo-kolonialisme), bukan HTI yang ditakuti, dimana bergeraknya hanya dakwah dan kemasyarakatan.
“Saya sekarang membikin gerakan sholat subuh berjamaah untuk Indonesia. Karena dengan sholat subuh bersama, ayo kita menuju kejayaan bangsa Indonesia,” tukas Al Khattat.
Sementara itu Mukayat Al-Amien Ketua Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah (PP PM) menerangkan, semua ideologi memang transnasional, bukan hanya soal agama, apalagi di arus globalisasi semua bisa menjadi transnasional, misalnya pop culture dari korea selatan, gerakan LGBT dari eropa/barat.


