Tiga Nasihat khalifah Ali bin Abi Thalib yang sangat bermanfaat dalam kehidupan kita, di tulis oleh imam Nawawi Al bantani dalam kitab Nashaihul Ibad adalah sebagai berikut :

“Dari sekian banyak nikmat dunia, cukuplah Islam sebagai nikmat bagimu, dari sekian banyak kesibukan, cukuplah ketaatan sebagai kesibukan bagimu, dan dari sekian banyak pelajaran, cukuplah kematian sebagai pelajaran bagimu”
Dari untain nasihat diatas, kita dapat simpulkan tiga nasihat penting, Pertama; jadikan Islam sebagai kenikmatan.
Ketika seorang sudah mengikrarkan dua kalimat syahadat, serta menjalankan rukun Islam dengan baik, maka disitu akan muncul sebuah ketenangan dan kesenangan, akibat dari istiqamah menjalankan ajaran Islam. Kenikmatan dalam beribadah menjalankan ajaran Islam akan berbuah kepada kenikmatan ber-Islam.
اَ لۡيَوۡمَ اَكۡمَلۡتُ لَـكُمۡ دِيۡنَكُمۡ وَاَ تۡمَمۡتُ عَلَيۡكُمۡ نِعۡمَتِىۡ وَرَضِيۡتُ لَـكُمُ الۡاِسۡلَامَ دِيۡنًا
“Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu, dan telah aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku,
dan aku ridha Islam itu menjadi agama bagimu (Qs Al Maidah [5]:3).
Manakala Islam telah di akui sebagai kenikmatan terbesar, dan sangat antusias dalam menjalani kehidupan ini sesuai dengan nilai-nilai Islam, maka akan dirasakan ketenangan dan kesenangan, serta akan tumbuh kehidupan bermasyarakat yang baldatun toyyibatun warobbun gofuur.
Islam dikatagorikan sebagai nikmat yang paling besar, karena tanpanya kehidupkan akan sia – sia belaka. Ketenangan tidak akan diperoleh, dan kebahagian di akhirat tidak akan didapatkan. Kehidupan akan terasa hampa karena jauh dari penciptanya, dan di akhirat akan sengsara karena mati dalam ke kafiran. Inilah yang disebut dengan celaka di dunia dan akhirat.
Kedua : jadikan ketaatan sebagai kesibukan.
Ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya serta ketaatan kepada manusia dalam hal-hal yang tidak bertentangan dengan perintah Allah dan rasul-Nya, merupakan sesuatu yang harus diwujudkan dalam kehidupan ini, bahkan hal ini harus menjadi kesibukan kita sehari-hari, karenanya Allah SWT menghimbau secara khusus kepada orang-orang yang beriman dalam Al Qur’an :
ياايهاالذين آمنوا اطيعوا الله وَاَطِيْعُوا الرَّسُوْلَ وَاُولِى الْاَمْرِ مِنْكُمْۚ فَاِنْ تَنَازَعْتُمْ فِيْ شَيْءٍ فَرُدُّوْهُ اِلَى اللّٰهِ وَالرَّسُوْلِ اِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِۗ ذٰلِكَ خَيْرٌ وَّاَحْسَنُ تَأْوِيْلًا ࣖ
“Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan Ulil Amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya (QS.An-Nisa: 59)
Kita telah maklumi bersama tentang ke maha kuasaan dan kebesaran Allah yang telah menciptakan dan mengatur alam semesta, menjadi sebuah dalil yang sangat jelas terhadap kepantasannya untuk ditaati segala perintahnya.
Begitu juga Rasulullah yang menjadi utusan Allah menyampaikan segala titahnya, harus ditaati perintahnya dengan sepenuh hati. Karena mentaati Rasul sama saja dengan mentaati Allah SWT. Demikian juga orang yang sudah diberikan kepercayaan menjalankan roda pemerintahan harus ditaati selama tidak bertentangan dengan perintah Allah dan Rasulnya.
Dengan berusaha menyibukkan anggota badan untuk berbuat taat, secara berlahan akan menggeser posisi seseorang sedikit – demi sedikit menjadi lebih dekat kepada Allah, sehingga membingkai seseorang untuk semakin nikmat dalam menjalani kehidupan secara Islami.
Dengan berhasil menjadikan ketaatan sebagai bagian dari cara hidup sehari – hari dalam kehidupan, akan menjadi bingkai yang membetengi seseorang untuk terhindar dari jalan ke sesatan dan selalu berada diatas jalan kebenaran yang diridhai Allah SWT.
Ketiga: yang merupakan nasihat Kha-
lifah Ali bin Abi Thalib adalah; hendaklah menjadikan kematian sebagai pelajaran.
Mati merupakan suatu kepastian yang akan dialami oleh setiap orang, namun tidak sedikit dari kita yang sering melupakannya. Karena itulah di dalam Islam dikenal dengan adanya perintah untuk dzikrulmaut atau mengingat kematian. Dengan banyak mengingat mati, maka seseorang akan lebih berhati – hati dalam menjalani kehidupannya, serta takut berbuat maksiat, karena khawatir ajal yang menjemput secara tiba – tiba. Kaitannya dengan pentingnya mengingat mati Rasulullah bersabda ;
عن أَبِى هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ ». يَعْنِى الْمَوْتَ.
Artinya: “Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Perbanyaklah mengingat pemutus kelezatan”, yaitu kematian”. (HR. Tirmidzi).
Dalam hadits yang lain beliau juga bersabda “Wa Kafaa Bil Mauti Wa Idzho, artinya, Cukuplah kematian sebagai pemberi nasehat”
Mudah – mudahan tiga nasihat Ali Bin Abi Thalib ini dapat kita amalkan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga bisa menjadi sebuah wasilah untuk mendapatkan keridhaan Allah SWT.
Artikel ini diambil dari khutbah Jum’at yang disampaikan oleh ustadz Suruji, S.Pdi di Masjid Hamzanwadi ponpes NW Jakarta, Jum’at yang ke 34, tanggal, 12 maret 2021.
Oleh: Fath


