Pesan untuk para pejuang dari Maulana Syaikh pada acara Maulid Nabi dan Haul Maulana Syaikh

Pesan untuk para pejuang dari Maulana Syaikh pada acara Maulid Nabi dan Haul Maulana Syaikh

1. Sifat pejuang yang digambarkan dengan pribahasa “mengetuk paku dengan berlahan sedikit – demi sedikit oleh seorang tukang”.

Kiyai H. Muhammad Suhaidi menceritakan tentang bagaimana Maulana Syaikh memanggilnya secara pribadi dan menyuruhnya mendengarkan suara ketokan paku yang dipukul dengan martil. Seorang tukang memukulnya dengan berlahan sedikit demi sedikit sehingga pakunya bisa masuk dengan baik. Jika dipukul sekaligus, maka pakunya akan bengkok. Begitulah gambaran tentang perjuangan yang sukses, harus pelan – pelan sedikit demi sedikit tidak bisa sekali gus.

2. Perumpamaan NW dan NWDI yang diumpamakan seperti soang.

Kiyai H. Muhammad Suhaidi menceritakan tentang perumpamaan Nahdlatul Wathan yang diumpamakan oleh Maulana Syaikh seperti seekor soang. Jangan sampai NW dan NWDI seperti soang, atasnya kecil dan bawahnya besar. Maksudnya di ibu kota kecil dan di Lombok (kampung) dia besar. Seharusnya di Ibu kota NW dan NWDI besar.

Bahkan Kiyai H. Muhammad Suhaidi menegaskan dengan perumpamaan bebek entok. Jangan juga seperti bebek entok Yang suka berak, sedikit – dikit berak, baru beberapa langkah berak lagi, kerjaannya berak melulu.

3. Jangan lumuri tanganmu dengan darah. Dan jadikan Nahdlatul Wathan Jakarta sebagai kiblat (perjuangan).

Pribahasa dari seorang ulama yang kharismatik Maulana Syaikh Muhammad Zainuddin Abdul Madjid di atas, menggambarkan tentang bagaimana sifat seorang pejuang yang harus tulus dalam berjuang, jangan terlalu menengok kiri dan kanan, luruskan niat, sehingga tidak menyakiti yang lainnya.

Sudah dimaklumi, dampak saling menyakiti akan bisa menimbulkan lumuran darah yang disebabkan oleh luputnya memperhatikan percekcokan dan perkelahian.

Selanjutnya, menjadikan Nahdlatul Wathan Jakarta yang posisinya berada di Ibu kota sebagai pusat (perjuangan) adalah sesuatu yang sangat masuk akal, mengingat ibu kota adalah jantungnya Indonesia. Pesan Maulana Syaikh tersebut menggambarkan tentang betapa beliau adalah ulama yang visioner.

Oleh : Muhammad Fathi

Baca Selanjutnya

DARI PENULIS

BERITA TERKAIT

IKLAN

TERBANYAK DIBACA

BACA JUGA