Politik Identitas dan Penyebaran Ideologi ‘Khilafah’

Politik Identitas dan Penyebaran Ideologi ‘Khilafah’

Menteri agama Lukman Saifuddin dalam temuwicara KOPDAR Santri net di Hotel Artotel Jakarta

Ideologi dan politik identitas semacam itu bukan saja berimbas pada perilaku sebagian masyarakat yang menganggap bahwa pilihan politik adalah jihad. Namun juga mempengaruhi kehidupan bermasyarakat, yang tadinya bertegur sapa, saling silaturahmi, ghuyub dan bisa tersenyum lepas. Mereka anggap yang bukan satu aliran, satu pilihan bukanlah saudara, teman.

Tentang kondisi negara-negara di kawasan Jazirah Arab yang diketahui bersama telah terjadi peperangan dan luluh lantah akibat politik perebutan kekuasaan yang tidak menghiraukan rasa kemanusiaan, persatuan dan kesatuan suatu negara, nyaris saja ditularkan di Indonesia. Alhamdulillah di Indonesia, pemerintah, TNI, Polri, akademisi, masyarakat bahkan organisasi Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, dan Ormas lain yang cinta kedamaian bahu membahu meredam fenomena diatas.

Maka kerusuhan yang bakal mengantarkan seperti kondisi di kawasan Jazirah Arab tak terjadi di negara yang kita cintai ini.

Dari kondisi pilkada DKI, pembubaran organisasi pengusung khilafah hingga pilpres selalu kita saksikan dan kita lihat kejadian yang seolah akan dijadikan pemicu kerusuhan. Narasi negatif selalu kita temukan di media sosial, bahkan sampai pembicaraan dikampus, majelis pengajian sampai tempat nongkrong jadi sasaran. Dari yang kasar hingga narasi yang dibuat apik seolah umat Islam terdzolimi, seperti penistaan agama, Aqidah hingga masalah isu ras, dan antar suku digelorakan. Dan anehnya mereka yang berbicara hanya ‘latah’ ikutan. Mereka tidak sadar jika dijadikan alat untuk turut menyebarkan politik sesat, politik identitas.

Dari rentetan peristiwa diatas, dapat berimplikasi pada masyarakat karena kurangnya pemahaman antara politik kekuasaan dan politik  kebangsaan.

Baca Selanjutnya

DARI PENULIS

BERITA TERKAIT

IKLAN

TERBANYAK DIBACA

BACA JUGA