Prof Agustitin: Kebenaran Hanya Datang Dari Allah

Prof Agustitin: Kebenaran Hanya Datang Dari Allah

فَذَٰلِكُمُ ٱللَّهُ رَبُّكُمُ ٱلۡحَقُّۖ فَمَاذَا بَعۡدَ ٱلۡحَقِّ إِلَّا ٱلضَّلَٰلُۖ فَأَنَّىٰ تُصۡرَفُونَ ٣٢

*“Maka  itulah Allah, Rabmu yang sebenarnya. Maka tidak ada sesudah kebenaran itu melainkan kesesatan. Maka bagaimanakah kamu dipalingkan dari kebenarannya?” (Yunus: 32)*

فَذَٰلِكُمُ ٱللَّهُ رَبُّكُمُ ٱلۡحَقُّۖ

“Maka (Dzat yang demikian) itulah Allah, Rabb kamu yang sebenarnya”

Ayat ini menyebutkan tiga dari nama Allah ‘azza wa jalla, yaitu (nama) Allah yang mengandung sifat uluhiyyah bagi-Nya, Ar-Rabb yang mengandung sifat Rububiyyah baginya, dan Al-Haq yang mengandung sifat kebenaran tentang wujud-Nya, kebenaran tentang firman-Nya, syariat-Nya, dan seluruh janji-Nya.

Allah telah memberi nama dirinya dengan “Al-Haq” dalam berbagai tempat dalam al-Qur’an, seperti firman-Nya,

ذَٰلِكَ بِأَنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلۡحَقُّ وَأَنَّهُۥ يُحۡيِ ٱلۡمَوۡتَىٰ وَأَنَّهُۥ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٞ ٦

“Yang demikian itu, karena sesungguhnya Allah, Dialah yang haq dan sesungguhnya Dialah yang menghidupkan segala yang mati dan sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.” (al-Haj: 6)

فَتَعَٰلَى ٱللَّهُ ٱلۡمَلِكُ ٱلۡحَقُّۖ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ رَبُّ ٱلۡعَرۡشِ ٱلۡكَرِيمِ

“Maka Mahatinggi Allah, Raja Yang haq; tidak ada sesembahan (yang berhak disembah) selain Dia, Rabb (Yang mempunyai) ‘Arsy yang mulia.” (al- Mukminun: 116)

Disebutkan dalam Shahih Al-Bukhari dari hadits Abdullah bin Abbasr rahimahullah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَنْتَ الَحقُّ وَقَوْلُكَ الَحقُّ

“Engkau adalah Al-Haq dan perkataan-Mu haq.”

Al-’Allamah asy-Syaikh Muhammad bin Saleh al-‘Utsaimin rahimahullah memasukkan Al-Haq di antara nama-nama Allah subhanahu wa ta’ala. (lihat al-Qawa’idul Mutsla: 21)

Asy-Syaikh Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah berkata, “Al-Haq pada dzat dan sifat-Nya. Sehingga Dia adalah wajibul wujud (keberadaan-Nya adalah wajib), sempurna sifat-Nya, wujud-Nya adalah kelaziman dzat-Nya, dan tidak terwujud segala sesuatu kecuali dengan-Nya. Dialah yang senantiasa memiliki sifat keagungan, keindahan, kesempurnaan, dan senantiasa berbuat kebaikan. Firman- Nya adalah haq, perbuatannya haq, pertemuan dengan-Nya adalah haq, para Rasul-Nya adalah haq, kitab-kitab-Nya adalah haq, agamanya haq, beribadah hanya kepadanya adalah haq, dan segala sesuatu yang dinisbahkan kepadanya adalah haq.” (lihat Shifatullah, tulisan as-Saqqaf hlm. 120)

ٱلضَّلَٰلُۖ

Kata adh-Dhalal ( الضَّلَالُ ) atau adh-Dhalalah ( الضَّلَالَةُ ) maknanya adalah lawan dari al-Huda (petunjuk). (al-Qamus hlm. 1024)

Al-Imam al-Qurthubi rahimahullah berkata,   “Adh-Dhalal (kesesatan) hakikatnya adalah menjauh dari kebenaran. Ibnu ‘Arafah berkata, adh-dhalalah (kesesatan) di kalangan Arab maknanya adalah menempuh selain jalan yang lurus.” (Tafsir al-Qurthubi secara ringkas, 8/337)

Terkadang Adh-Dhalal juga diungkapkan atas seseorang yang tidak mengenal Allah ‘azza wa jalla yang disertai kelalaian, walaupun keadaan orang tersebut tidak diliputi kejahilan atau keraguan. Atas penafsiran ini, sebagian para ulama memahami firman Allah ‘azza wa jalla :

 

وَوَجَدَكَ ضَآلّٗا فَهَدَىٰ٧

“Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang lalai, lalu Dia memberikan petunjuk.” (adh-Dhuha: 7)Y

Yaitu“lalai” menurut salah satu penafsiran (yaitu dengan makna tidak mengenal Allah ‘azza wa jalla, red). Dan ini dikuatkan dengan firman-Nya,كُ

نتَ تَدۡرِي مَا ٱلۡكِتَٰبُ وَلَا ٱلۡإِيمَٰنُ

“Dahulu engkau tidak mengetahui apa itu kitab dan apa itu iman.” (asy- Syura: 52)

 *Berpegang teguhlah kepada kebenaran Allah, dan mengenyampingkan ketergantungan kepada pribadi-pribadi tertentu.*Allah berfirman,

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لاَتُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللهِ وَرَسُولِهِ وَاتَّقُوا اللهَ إِنَّ اللهَ سَمِيعٌ عَلِيمُُ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan RasulNya. Dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. [Al Hujurat:1].

Syaikh Abdurrahman As Sa’di berkata,”Ayat ini memuat adab kepada Allah, RasulNya, mengagungkan, menghormati serta memuliakanNya. Allah memerintahkan kepada kaum mukminin dengan sesuatu yang menjadi konsekwensi keimanan mereka kepada Allah dan RasulNya. Yaitu dengan menjalankan perintah-perintah Allah dan menjauhi laranganNya. Dan hendaknya mereka berjalan mengikuti perintah Allah, mengikuti Sunnah Rasulullah n dalam semua urusan, tidak mendahului Allah dan RasulNya; tidak mengatakan sesuatu, sehingga Allah mengatakannya. Mereka tidak memerintahkan, sehingga Allah memerintahkannya.

Disini juga terdapat larangan yang keras mendahulukan perkataan selain Rasulullah daripada sabdanya. Apabila Sunnah Rasulullah telah jelas, maka wajib mengikuti dan mendahulukannya daripada perkataan yang lainnya, siapapun juga.

Allah berfirman.

وَمَا مُحَمَّدٌ إِلاَّ رَسُولُُ قَدْ خَلَتْ مِن قَبْلِهِ الرُّسُلُ أَفَإِن مَّاتَ أَوْ قُتِلَ انقَلَبْتُمْ عَلَى أَعْقَابِكُمْ وَمَن يَنقَلِبُ عَلَى عَقِبَيْهِ فَلَن يَضُرَّ اللهَ شَيْئًا وَسَيَجْزِي اللهُ الشَّاكِرِينَ

Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad). Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun; dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur. [Ali Imran:144].

Baca Selanjutnya

DARI PENULIS

BERITA TERKAIT

IKLAN

TERBANYAK DIBACA

BACA JUGA