Prof Dr H Agustitin Setyobudi :WISATA BATINIAH TENTANG AKHLAK DALAM KAITANNYA DENGAN KETENANGAN JIWA

Prof Dr H Agustitin Setyobudi :WISATA BATINIAH TENTANG AKHLAK DALAM KAITANNYA DENGAN KETENANGAN JIWA

Masalah akhlak merupakan suatu yang sangat urgen untuk menjadi perhatian sebab ia menjadi pilar utama untuk tumbuh dan berkembangnya peradaban suatu bangsa. Begitu pentingnya akhlak, Nabi Muhammad saw. diutus untuk memperbaiki akhlak, sehingga umat Nabi Muhammad mendapatkan penghargaan dari Allah dengan gelar khaira ummah*

*Ibadah dan akhlak memiliki keterpautan yang tidak dapat dipisahkan sebab tujuan utama setiap ibadah adalah untuk memperbaiki akhlak. Jika ibadah tidak memberi pengaruh dan tidak membuahkan hasil berarti ibadah tersebut hanya sebatas olahraga.* Secara garis besarnya sasaran akhlak i ada tiga yaitu
1. *Akhlak kepada Allah swt.*,
2. *Akhlak kepada sesama manusia,*
3. *Akhlak kepada lingkungan atau alam.*

*Akhlak kepada Allah sebagaimana disebut-sebut dalam Alquran antara lain mengesakan Allah yaitu berupa pengakuan terhadap kalimat tauhid (Lā Ilāha Illallāh). Namun, realisasinya bukan sekedar untuk diucapkan dengan lidah melainkan harus diaplikasikan dalam kehidupan. Dapat dikatakan bahwa inti agama adalah kalimat tauhid. Segala sesuatu dalam harus berdasarkan dan berpijak pada kalimat tauhid.* *Akhlak kepada Allah lainya mensucikan-Nya sebagai Tuhan yang memiliki sifat-sifat yang begitu agung. Di samping itu akhlak kepada Allah yaitu dengan memuji-Nya sebagai Tuhan Pencipta segala sesuatu, sehingga pantas untuk dipuji*.

*Menurut petunjuk Alquran segala kehidupan manusia telah diatur yaitu bagaimana selayaknya manusia bertingkah laku terhadap sesamanya manusia yang biasanya berbentuk perintah untuk akhlak yang terpuji dan berbentuk larangan untuk akhlak yang tercela. Dampak dari perintah dan larangan tersebut kembalinya kepada manusia sendiri Seluruh makhluk Allah termasuk manusia juga adalah ciptaan Allah, sehingga ia juga harus diperlakukan secara baik dan wajar. Sebab mereka-mereka ini kata Allah adalah umat-umat juga seperti manusia. Pengrusakan pada lingkungan atau alam sama dengan pengrusakan pada diri manusia.¹*

*Akhlak dalam perspektif Alquran, sebagai kitab suci umat Islam merupakan tuntunan-tuntunan yang mengatur segala kehidupan di dunia ini. Oleh karena itu, Alquran sangat menekankan pentingnya akhlak, walaupun kata khuluq dalam artian akhlak hanya disebut satu kali dalam Alquran , tetapi petunjuk-petunjuk mengenai akhlak sangat banyak tersirat ayat-ayat dalam Al-Qur’an*.

*Alquran telah memberi petunjuk bagaimana berakhlak kepada Allah sebagai sang Khaliq yang kalau dipikir-pikir apa butuhnya Allah kepada manusia. Selanjutnya bagaimana berakhlak kepada sesama manusia. Alquran telah mengajarkan akhlak mulai dari cara bertutur kata sampai kepada cara manusia bertindak terhadap sesamanya manusia. Kepada lingkungan pun Allah telah memberi petunjuk bagaimana memperlakukannya secara wajar. Secara garis besar kandungan filsafat Islam, ada dua kata yaitu “keteguhan akhlak”.*

*Alquran hanya ditemukan kata khuluq dan tidak ditemukan kata akhlāq yang berbentuk jamak. Adapun ayat yang di dalamnya terdapat kata khuluq adalah ayat yang terdapat dalam Alquran surah al-Qalam ayat 4*
*وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ*

*Sesungguhnya engkau (Muhammad) berada di atas budi pekerti yang agung. (QS. al-Qalam [68]: 4).*

*,Firman Allah di atas menunjukan ketegasan Allah untuk pengangkatan Nabi Muhammad menjadi Rasul. Ini pula satu pujian yang paling tinggi yang tidak ada taranya, diberikan Allah kepada Rasul-Nya Muhammad saw. Walaupun secara fisik dan nalurinya sama dengan manusia biasa, tetapi dalam kepribadian dan mentalnya bukanlah seperti manusia pada umumnya, karena Rasulullah diutus Allah untuk menjadi pemandu dan teladan bagi umat manusia*

*Dengan Akhlak yang mulia mendorong manusia untuk senantiasa berbuat baik kepada manusia dalam pergaulan sehari-hari mereka adalah salah satu tugas Nabi saw. yang paling penting seperti diketahui bahwa Nabi diutus untuk menyempurnakan akhlak yang baik. Tugas yang diemban Nabi ini merupakan kedudukan yang paling tinggi. Rasulullah dalam hal ini bersabda:*

*حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ مَنْصُورٍ قَالَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ مُحَمَّدٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَجْلَانَ عَنْ الْقَعْقَاعِ بْنِ حَكِيمٍ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ الْأَخْلَاقِ*

*Saīd bin Manshūr meriwayatkan kepada kami… dari Abī Huraerah ia berkata Rasulullah saw. bersabda aku diutus untuk menyempurnakan akhlak*

*Apabila hadis tersebut atas dicermati dengan baik, dapat dikatakan bahwa tujuan mendasar diutusnya Nabi saw. berkaitan dengan akhlak. Adapun hubungan antara akhlak dan pengutusan Nabi saw. setidaknya dapat dilihat pada surah al-Anbiya’ ayat 107 berikut ini:*

*وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ*

*Dan tiadalah kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam* *
(QS. al-Anbiyā’ [21]: 107)*

*Hubungan yang kuat antara hadis dan pesan ayat di atas bahwasanya tidak akan ada rahmat bagi seluruh alam kecuali dengan akhlak. Namun, muncul sebuah pertanyaan yaitu bukankah ibadah lebih utama dibanding akhlak? Ibadah memang penting akan tetapi tujuan utama setiap ibadah seperti shalat, sedekah, puasa, haji dan sebagainya adalah untuk memperbaiki akhlak. Jika tidak, maka seluruh aktivitas ibadah hanyalah sebatas prima raga. Salah satu contoh yang terdapat dalam Alquran seperti firman Allah swt dalam surat al-Ankabūt ayat 45:*

*اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلَاةَ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاء وَالْمُنكَرِ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ*

*Bacalah apa yang Telah diwahyukan kepadamu, yaitu Alquran dan Dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar dan Sesungguhnya mengingat Allah adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan*
(QS. al-Ankabūt [29]: 45).

*Apabila shalat seseorang belum mampu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar, maka shalatnya baru sebatas ritual (simbul).*

Baca Selanjutnya

DARI PENULIS

BERITA TERKAIT

IKLAN

TERBANYAK DIBACA

BACA JUGA