Prof Dr H Harapandi : BERSEKOLAH

Prof Dr H Harapandi : BERSEKOLAH

Jadikanlah dirimu ‘Alim (berilmu), muta’allim (belajar), mustami’an (pendengar ilmu) dan jangan engkau menjadi yang keempat jâhiln (tiada ilmu) engkau akan celaka.

Tahun 1971/1972 sebagai tahun pertama menginjakkan kaki di bangku sekolah formal. Sekolah Dasar Negeri (SDN) Tinggar adalah satu-satunya sekolah terdekat di wilayah kami, sekolah ini merupakan bangunan sederhana, pagar kiri-kanan, depan dan belakang terbuat dari anyaman bambu yang popular dengan bangunan “bedek”.

Karena penampilan bangunan sekolah yang sangat sederhana, saat kami harus mengikuti ujian akhir semester dan acara-acara tujuh belas agustus-an yang bertempat di sekolah Kecamatan Desa Sikur, tak ayal kami sering diganggu dengan teriakan bagaikan “yel-yel” kedatangan oleh para murid yang ada di sekolah tersebut, pekikan: “Tinggar Darurat, Sekolah Ambon Urap”.
“Tinggar” adalah nama dasan –kampoeng– dimana lokasi sekolah kami berada, kira-kira + 2 kilo meter dari desa kecamatan kami, “Darurat” karena bangunan sekolah kami terbuat dari anyaman bambu yang bersifat sementara, “Ambon Urap” bermakna makanan yang kami makan terbuat dari ubi kayu atau ubi jalar, ini menunjukkan kondisi perekonomian kebanyakan masyarakat desa kami.

Jarang sekali penduduk kampoeng dapat makan nasi, kalaupun terjadi beras mestilah dicampur dengan ubi atau jagung. Campuran makanan tersebut 1 berbanding 3, satu gelas beras dan tiga gelas jagung atau ubi.
Pekikan yel yel yang bermakna ejekan tersebut bukan untuk menyambut gembira kehadiran kami, namun, pekikan tersebut sebagai kata “hinaan” murid-murid sekolah Kecamatan terhadap kami.

Pekikan “yel-yel” yang mereka sematkan, menjadi motivasi tersendiri pada sebagian murid-murid Sekolah Dasar Negeri (SDN) Tinggar, namun tidak jarang sebagian kami juga merasa terusik dan terhina, rasanya ingin melawan, tetapi, kami tak cukup berani, ingin membalas dengan teriakan, tidak juga memiliki alasan yang kuat, karena sesungguhnya itulah realitas kami, terkadang air mata kami turun tanpa terasa, baju sederhana yang melapisi kulit-kulit kering kami basah dengan air mata, kami hanya dapat berujar dalam hati “sabar”, guru-guru yang mendampingi kamipun berusaha menghibur.

Teringat juga firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam surat Ali Imrân:134. Antara sifat-sifat orang beriman ialah menahan diri saat marah dan memaafkan orang-orang yang telah berlaku zolim kepadanya. Rasulullah sallallahu ‘Alaihi wasallam bersabda;
“Orang kuat bukanlah mereka yang memenangkan perkelahian, namun orang kuat ialah mereka yang mampu menahan dan menjaga amarahnya ketika ia marah”.
Pelajaran yang dapat diambil dari ragam peristiwa tersebut ialah jangan pernah malu dan bersedih jika ada orang lain yang tidak seirama dengan dirimu, ketahuilah bahwa Allah telah memiliki rencana untuk kita dan tidak ada seorang manusiapun yang dapat membuka tabir rahasia Tuhan.

Belajar, sabar dan kuat adalah tiga kata kunci bagi setiap orang yang mendambakan kesuksesan.
Belajar dan belajar adalah keyword utama dalam keberhasilan, tanpa belajar maka jangan pernah bermimpi ingin menjadi sukses menggapai cita-cita, hanya dengan ilmulah kita akan dapat membolak-balikkan fakta, penghina akan merasa malu dan pemuja akan sangat bergembira dengan hasil yang kita dapatkan.

Dalam belajar mesti kuat dan sabar, bagi mereka yang tiada pernah merasakan pahitnya menuntut ilmu, bersiap-siaplah untuk menjadi “bodoh” selama-lamanya. Imam al-Syafi’i berpesan kepada para penuntut ilmu, kunci ilmu adalah “kesabaran” dalam menhdapai cabaran dan ujian. Papa miskin tanpa harta, susah sedih dan nestapa adalah rangkaian cerita para pemburu pengetahuan.
Paling tidak ada lima situasi yang mesti dimenangkan oleh penuntut ilmu yang mendamkana kesuksesan. Pertama kalahkan kenikmatan dengan kepayahan (susah/sedih dan lelah) karena berjuang menuntut ilmu.

Kedua kalahkan (lemahkan) kekuatan hawa nafsu dengan mengutamakan lezatnya ibadah (menuntut ilmu). Ketiga kalahkan keinginan rehat dengan berjuang, membaca, murâjaah, bangun malam. Keempat kalahkan rasa bangga dengan status sosial yang tinggi dengan merendahkan diri dihadapan guru dan teman-teman penuntut ilmu dan kelima kalahkan kehidupan yang selalu menginginkan kelezatan dengan mematikan segala nafsu setan yang durjana. (Az-Zurnuji:Ta’lim al-Muta’allim/04).

Baca Selanjutnya

DARI PENULIS

BERITA TERKAIT

IKLAN

TERBANYAK DIBACA

BACA JUGA