Prof H Agustitin: KONDISI PEREKONOMIAN INDONESIA HINGGA AKHIR APRIL 2020.

Prof H Agustitin: KONDISI PEREKONOMIAN INDONESIA HINGGA AKHIR APRIL 2020.

Infomasi dari Bank Indonesia inflasi hingga akhir april 2020 ini bulan April sebesar 0,2 persen (mtm) dan sebesar 2,08 persen (yoy). “DI perkirakan sampai minggu kedua bulan Mei masih dlm kisaran 0,2 persen (mtm) dan lebih rendah 2,08 persen (yoy),” ,.

Hasil survei pemantauan harga Bank Indonesia ini menunjukkan berbagai faktor yang berpengaruh terhadapi inflasi terkendali. Hal ini merupakan hasil koordinasi pemerintah pusat dan pemerintah daerah terkait kebutuhan bahan pokok yang baik.

Selain itu, pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini lebih rendah dari kemampuan kapasitas produksi nasional. “Makanya kesenjangan output negatif karena tekanan inflasi dari permintaan cukup terkendali,”. Terjaganya inflasi juga diyakini karena dampak nilai tukar yang rendah dalam konteks permintaan rupiah. Repo rupiah sangat kecil sehingga berpengaruh pada kenaikan harga-harga.

Ekspektasi inflasi juga tetap terjaga terlepas dari kebijakan moneter yang dibuat bank sentral. Baik itu di masyarakat, konsumen atau produsen. “Keempat faktor itulah yang memengaruhi inflasi rendah,” .
Bank Indonesia (BI) semakin percaya diri nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bisa menguat ke posisi 15 ribu per USD pada akhir tahun ini. Kepercayaan diri itu terbangun lantara kurs rupiah dalam beberapa hari terakhir terus bergerak menguat
 
” Dalam beberapa hari terakhir rupiah menguat, bahkan akhir minggu ini sejak awal trading dibuka itu diperdagangkan Rp 16.200, sekarang ini terakhir di Rp 15.920 (per USD),”
 
“Bahkan bid/offer ada juga yang kemudian bertransaksi di Rp 15.920 (per USD). itu menunjukan bahwa  Alhamdulillah berbagai ikhtiar sehingga rupiah bergerak stabil, bahkan menguat,”,
 Informasi di pasar bahwa rupiah terakhir ditransaksikan di level Rp 15.990 per USD pada perdagangan di interbank.
“Ini menunjukan nilai tukar rupiah akan bergerak stabil dan menguat ke arah Rp 15 ribu,”.
 
Walauun begitu, pihak bank sentral akan terus mengukur secara fundamental, baik dari sisi inflasi, defisit transaksi berjalan, hingga suku bunga dalam dan luar negeri.
 
“Nilai tukar rupiah saat ini masih undervalue. Level yang sekarang ini memang karena risiko di pasar keuangan global yang masih tinggi meski membaik,”.
Kondisi perekonomian global termasuk Indonesia bakal menunjukkan perbaikan pada akhir April 2020 ini.

Meskipun demikian, dia mengakui bahwa virus corona atau Covid-19 memberikan dampak perlambatan atau kelesuan terhadap perekonomian. Dampak perlambatan tersebut terjadi sejak Februari 2020 hingga saat ini. “Terkait asesmen Covid-19 terhadap Indonesia, kami masih konsisten bahwa dampak terberat ini dalam Februari hingga Maret. Insya Allah akan mulai mengalami perbaikan di bulan April. Mengalami perbaikan, tetapi dimungkinkan belum tentu pulih,”.

Prediksi enam bulan mendatang, perekonomian Indonesia mulai menunjukkan pemulihan serta peningkatan aktivitas di pasar spot maupun perdagangan dalam dan luar negeri. “Tetapi, sudah mulai perbaikan di April, Mei, dan seterusnya. Kemudian mulai pulih enam bulan mendatang.

Maka dari itu, BI mulai mengantisipasi dengan menggulirkan lima kebijakan untuk memperkuat kondisi moneter dalam menstabilkan nilai tukar rupiah. Sekaligus mendorong perbankan membiayai kegiatan pelaku usaha ekspor impor.

Bank Indonesia telah menempuh berbagai kebijakan untuk memitigasi risiko Covid-19.Kebijakan itu berupa penurunan suku bunga BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) diturunkan sebesar 25 bps menjadi 4,75 persen.

Strategi operasi moneter juga terus diperkuat untuk menjaga kecukupan likuiditas dan mendukung transmisi bauran kebijakan yang akomodatif.

Selain itu, BI juga menyesuaikan ketentuan terkait perhitungan Rasio Intermediasi Makroprudensial (RIM) dengan memperluas cakupan pendanaan dan pembiayaan pada kantor cabang bank di luar negeri yang diperuntukkan bagi ekonomi Indonesia.

Kebijakan sistem pembayaran juga terus diperkuat guna mendukung pertumbuhan ekonomi, antara lain melalui perluasan akseptasi Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) serta elektronifikasi Bansos dan transaksi keuangan pemda.

“Apalagi, wabah tersebut terbukti mampu memporak porandakan pondasi ketahanan ekonomi yang sudah dibangun begitu kuat,” .

Hasil jerih payah yang sudah dilakukan oleh pemerintah dan Bank Indonesia untuk menstabilkan perekonomian dan mata uangnya hancur lebur akibat wabah Covid-9 yang tak berbentuk.

“Ini lebih buruk dibandingkan perang dagang dan Berxit yang kelihatan bentuknya,” tambahnya.

Akibat meluasnya wabah virus Corona yang terus menjadi topik utama dalam awal tahun ini, goncangan ekonomi secara global akhirnya berdampak pada Indonesia.

Di samping itu, BI pun hari ini kembali melakukan intervensi di pasar valas dan obligasi di perdagangan DNDF.

Perdagangan tersebut sudah aktif bertransaksi dari pembukaan pagi dan kondisi global ini sdh di antisipasi sebelumnya oleh BI, sehingga dengan sigap dan melakukan penjagaan ketat dan ekstra waspada terhadap mata Uang

Staf Khusus Presiden Arif Budimanta mengklaim pertumbuhan ekonomi Indonesia mulalai meningkat di akhir april tahun 2020 ini.

Hal tersebut merespon pertumbuhan ekonomi yang naiknya hanya 5,02 persen pada tahun 2019 lalu.

Sesuai terget, peningkatan ekonomi Indonesia akan naik sebesar 5,3 persen pada tahun ini. Ia menyebut ada ada beberapa faktor yang disebut Arif akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia.

“Tahun 2020 kita punya asumsi di APBN 5,3 persen, maka kemudian ada faktor eksternal yang akan menopang sehingga bisa tumbuh baik,”.

Faktor pertama adalah rezim suku bunga rendah yang terjadi disejumlah negara seperti Jepang, Amerika Serikat, serta Uni Eropa. Hal tersebut diklaim Arif dapat membuat terjadi capital inflow ke Indonesia.

“Pertama adalah rezim suku bunga rendah yang di banyak negara maju apakah Jepang, AS, UE, dan ini yang membuat kapital inflow ke Indonesia relatif menarik. Di sana rezim suku bunga negatif dan di sini seven days reponya 5. Lalu obligasi suku bungs rata-rata 7 persen. Ini faktor eksternal yang mendorong perekonomian Indonesia,” jelasnya.

Kemudian faktor selanjutnya kata Arief adalah membaiknya harga komoditas, salah satunya Crude Palm Oli (CPO) dalam sektor ekspor. Ekspor minyak kelapa sawit diklaim ampuh sebagai andalan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia.

“Kemudian membaiknya harga komoditas. Salah satu yang membaik adalah CPO yang merupakan andalan ekspor Indonesia,” Meski demikian, ia menyebut ada beberapa risiko yang disinyalir dapat menghambat laju pertumbuhan ekonomi Indonesia. Mislanya, melambatnya mitra dagang.

Kemudian kontribusi dagang Indonesia dan China terhadap neraca dagang. “Dari sisi eksternal kita juga hadapi risiko, melambatnya ekonomi mitra dagang. Misalnya China. Kontribusi perdagangan Indonesia-China, terhadap neraca dagang kurang lebih 17 persen. Jadi kalau China bergejolak dari sisi demand maka akan berpengaruh terhadap ekspor Indonesia,”.
Untuk mengarahkan ekspor ke pasar tradisional. Selain itu, pemerintah akan membangun hubungan ekonomi ke negara lain seperti Australia dll.

“Arah ekspor ke pasar nontradisional. Ini sebagai sebuah harapan kalau di Aussie ada semacam action plan untuk 5 tahun ke depan dalam IA-CEPA, kita harapkan bisa memperbaiki neraca dagang kita dengan Aussie dan neraca dagang lebih positif,”.

Kendati cukup optimis untuk tahun ini, BI memperkirakan ekonomi Indonesia tahun depan kemungkinan akan berada di kisaran 5,2 persen sampai 5,5 persen. Proyeksi ini lebih rendah dari ramalan IMF yang mencapai 8,2 persen pada tahun depan.

“Tahun depan lebih dari 5,2 persen, bisa ke 6 persen karena untuk pemulihan ekonomi dan base statistic yang rendah di tahun ini. Akan Jadi akan lebih tinggi,”.
Meningkatnya angka pengangguran akibat wabah virus corona seharusnya membuat masyarakat merespon baik peluncuran Kartu Prakerja itu sbg setimulus.

“Dibutuhkan momentumnya pas sama adalah Kartu Prakerja ada komponen bansos di dalamnya, artinya bisa jadi solusi jangka pendek buat mereka untuk bertahan hidup dan mengisi kekosongan jiwa dan waktu untuk memperoleh ketrampilan,”

Kartu Prakerja isinya bisa dgn cara online dan dan manual agar mudah di akses bagi yang mengerti. Agar masyarakat untuk meniru atau menerima ilmu yang ada dalam menu pelatihan Kartu Prakerja di saat pandemi Covid-19 sambil menghilangkan sikap ketergantungan.

“Realokasi anggaran juga biasa terjadi di sektor lain kemudian kenapa di Kartu Pra Kerja seolah-olah eksekusinya harus bentuk-bentuk semacam ini, harus ada kursusnya, sebaiknya di ikuti kursus sbg kesejahteraan intelektual dan skill agar tidak seperti memberi ikan saka tetapi juga diberi kail agar suatu saat bisa mencari ikan sendiri”

Baca Selanjutnya

DARI PENULIS

BERITA TERKAIT

IKLAN

TERBANYAK DIBACA

BACA JUGA