Di penghujung bulan Romadon ini, harapan kita semua setelah melakukan beraneka ragam ibadah, maka kesadaran kita Allah itu dan keadaan kita dengan jagat raya, adalah haq Allah begitupun tiada wujud dua, nanti Allah sekarang juga Allah, tetap lahir batin Allah,.”
Dengan pemahaman tentang kesadaran Tuhan Allah telah mampu memperkuat “tauhid”.
Berbicara tentang “tauhid,” , di mana seluruh ciptaan pasti akan kembali dengan yang menciptakan.
Sehingga kesadaran tentang Tuhan Allah “ itu adalah
– yang berwujud haq”;
– “Allah itu adalah jauhnya tanpa batas, dekatnya tanpa rabaan.”; – “Allah itu tidak berwarna, tidak berupa, tidak berarah, tidak bertempat, tidak berbahasa, tidak bersuara, wajib adanya, mustahil tidak adanya.”;
– “Allah itu adalah seumpama memainkan wayang.”;
– “Allah itu meliputi segala sesuatu.”;
– “Allah itu bukan disana atau disitu, tetapi ini.”;
– “Allah itu itu bukan disana sini, ya inilah.”;
Jadi berdasarkan kesadaran pemegang tentang konsep dasarnya “.Allah itu nyatanya yang sempurna yang tetap di dalam dzahir dan batin .
“Jika ada seorang manusia yang percaya kepada kesatuan lain selain dari Tuhan yang Mahakuasa, ia akan kecewa karena ia tidak akan memperoleh apa yang ia inginkan.”, yakni kehidupan sejati dalam kesatuan pengamalan sifat sifat Allah Swt;.
Karenanya Allah itu tidak usah kebanyakan teori aqli, sesungguhnya yang selalu “mengamalkan sifat Tuhan Allah” Senjatanya Yang Sejati, , yang tidak ada lain kesejatiannya, yang disebut sesungguhnya telah memiliki kesadaran pemahaman tentang Tuhan Allah…”.jadi “tidak usah kebanyakan bicara tentang teori ketuhanan, inilah Allah. Yaitu Yang Sejati, Tuhan Yang Maha Melihat, mengetahui segala-galanya,.
“Sebenarnya, keberadaan dzat yang nyata itu hanya berada pada mantapnya tekad… kita, tandanya tidak ada apa apa.
Karena itu.sebagai Manusia yang mendua adalah manusia yang tidak sampai kepada derajat kemanunggalan sifat.
Sementara manusia yang manunggal adalah pemilik jiwa yang iradah dan kodratnya telah pula menyatu dengan Ilahi. Sehingga akibat terpecahnya jiwa dengan roh Ilahi, maka kehidupannya dikuasai oleh keinginan yang lain, yang dalam al-Qur’an disebut sebagai hawa nafsu.
Maka agar tidak terjadi split personality, dan tidak mengakibatkan kerusakan dalam tatanan kehidupan, harus ada keterpaduan antara Zat Wajibul Maulana dengan budi manusia. Dan sang Zat Wajibul Maulana ini berada di dalam kedirian manusia,.
“kesadaran pemahaman tentang Tuhan Allah bersifat, baka / bersifat abadi, tanpa antara, tiada terkait dengan rasa enak ataupun tidak enak. Ia berada baik di sana, maupun di sini, bukan itu bukan ini. Oleh tingkah yang banyak dila…kukan dan yang tidak wajar, menuruti raga, adalah sesuatu yang baru. Segala sesuatu yang berwujud, yang tersebar di dunia ini, bertentangan dengan sifat seluruh yang diciptakan, sebab isi bumi itu angkasa yang hampa.”
Tuhan Allah adalah yang maha meliputi. Keberadaannya, tidak dibatasi oleh lingkup ruang dan waktu, keghaiban atau kematerian. Hakikat keberadaan segala sesuatu adalah keberadaan-Nya. Oleh karenanya keberadaan segala sesuatu di hadapan-Nya sama dengan ketidakberadaan segala sesuatu, termasuk kedirian manusia. Maka sikap yang selalu menuruti raga disebut sebagai “sesuatu yang baru” dalam arti tidak mengikuti iradah-Nya. Raga seharusnya tunduk kepada jiwa yang dinaungi roh Ilahi. Sebab raga hanyalah sebagai tempat wadag bagi keberadaan roh itu. Jangan terjebak hanya menghiasi wadahnya, namun seharusnya yang mendapat prioritas untuk dipenuhi perhiasan dan dicukupi kebutuhannya adalah isi dari wadah.
“Gagasan adanya badan halus itu mematikan kehendak manusia. Dimanakah adanya Hyang Sukma, kecuali hanya diri pribadi. Kelilingilah cakrawala dunia, membumbunglah ke langit yang tinggi, selamilah dalam bumi sampai lapisan ke tujuh…, tiada ditemukan wujud yang Mulia.”
“Ke mana saja sunyi senyap adanya; ke utara, selatan, barat, timur dan tengah, yang ada di sana-sana hanya di sini adanya. Yang ada di sini bukan wujud saya. Yang ada didalamku adalah hampa yang sunyi. Isi dalam daging tubuh adalah isi perut yang kotor. Maka bukan jantung bukan otak yang pisah dari tubuh, laju pesat bagaikan anak panah lepas dari busur, menjelajah Mekah dan Madinah.”
“DDIA bukan budi, bukan angan-angan hati, bukan pikiran yang sadar, bukan niat, bukan udara, bukan angin, bukan panas dan bukan kekosongan atau kehampaan. Wujud saya ini jasad, yang akhirnya menjadi jenazah, busuk bercampur tanah dan debu. Napas saya mengelilingi dunia, tanah, api, air dan udara kembali ke tempat asalnya atau aslinya,.”
“Maka Dialah Zat yang sejiwa, menyukma dalam Tuhan Allah. Pangeran yang bersifat jalal dan jamal, artinya Mahamulia dan Mahaindah. Ia shalat atas kehendak sendiri, mau memerintahkan untuk shalat kepada siapapun yang belum mejalani.
Tuhan Allah bukanlah sesuatu yang asing bagi diri manusia. Allah juga bukan yang ghaib dari manusia. Walaupun Ia penyandang asma al-Ghayb, namun itu hanya dari sudut materi atau raga manusia. Secara rohiyah, Allah adalah ke-Diri-an manusia itu. Dalam diri manusia terdapat roh al-idhafi yang membimbing manusia untuk mengenal dan menghampirinya. Sebagai sarananya, dalam otak kecil manusia, Allah menaruh God-spot (titik Tuhan) sebagai filter bagi kerja otak, agar tidak terjebak hanya berpikir materialistik dan matematis. Inilah titik spiritual yang akan menghubungkan jiwa dan raga.




