PUSAT STUDI ICS UNRAM ADAKAN SEMINAR TENTANG KONTESTASI IDENTITAS ISLAM

PUSAT STUDI ICS UNRAM ADAKAN SEMINAR TENTANG KONTESTASI IDENTITAS ISLAM

Civitas akademika UNRAM Nusa Tenggara Barat

Sebagai peneliti, kita juga perlu kritisi metode pengambilan data Stara Institute, siapa saja yang diwawancarai, apakah mereka ikut langsung ke halakah-halakah atau hanya dengan survei. Hasil riset ilmiah Stara Institute harus diapresiasi dan jadi warning bagi kita untuk melindungi kampus UNRAM dari virus-virus radikalisme dan terorisme” kata Hamdi.

Hamdi juga melihat kehadiran sekolah-sekolah Islam terpadu yang dibranding PKS dan kelompok Salafi menjadi sekolah alternatif yang mampu menggeser sekolah-sekolah Islam yang sudah mapan sebelumnya. Selain branding ke-Islaman sebagai kekukatan simbolik yang dijual ke pasar, sekolah Islam Terpadu juga menerapkan pola pembelajaran baru yang terprogram dengan paket seperti paket tahfiz 5 juz selama bersekolah dan juga profesionalitas di dalam managemennya.

Output mereka sangat terukur dan dijamin kualitasnya. “Inilah faktor mengapa masyarakat lebih tertarik dengan lembaga pendidikan ini, meskipun jauh lebih mahal dari sekolah-sekolah agama lainnya” tegasnya.

Lebih lanjut Direktur ICS ini mengatakan bahwa, elit-elit NW lebih banyak sekolahkan anaknya di sekolah Islam Terpadu PKS daripada Madrasah NW karena melihat kualitas tersebut. Hamdi juga menjelaskan bahwa Islam memiliki identitas yang plural. Kontestasi antar Ormas Islam hadir untuk memperebutkan ruang publik, menarik simpati dan dukungan jamaah. Mereka menampilkan identitas keIslaman yang berbeda-beda dan memiliki misi yang sama untuk menyelamatkan ummat Islam.

Hanya metode dan pendekatan yang berbeda, tetapi tujuan sama ingin mengembangkan dan menguatkan dakwah Islami. Keragaman identitas ini tidak selalu positif, namun seringkali menimbulkan konflik antara Ormas Islam.

Aktivis Salafi dan Ormas Islam lokal di NTB misalnya telah bentrok di beberapa desa yang disertai dengan aksi pembakaran masjid.” Seharusnya kita saling menghormati dan tidak perlu menyalahkan yang lain untuk menghidadri konflik dan kekerasan”, kata dosen Sosiologi Unram ini.

Dia juga menyorot fenomena anti cadar di Indonesia dan NTB khususnya. Menurut Direktur ICS ini, jika cadar ditafsirkan bagian dari budaya Arab, tidak ada salahnya perempuan Sasak untuk mencoba menggunakannya. “Masak kita hanya bangga dengan pakaian dari produk negara-negara maju seperti Eropa dan Amerika. Inikan simbol Islam bagi sebagian ummat Islam, yang tidak perlu kita kahawatirkan berlebihan. Cadar tidak identik dengan radikalisme” tegasnya.

Baca Selanjutnya

DARI PENULIS

BERITA TERKAIT

IKLAN

TERBANYAK DIBACA

BACA JUGA