
“Tentu catatannya sebagai peneliti bagi teman yang bercadar jangan sampai pakaian ini juga membatasi anda berbicara dan bersilaturrahmi dengan sesama Muslim yang lain. Bercadar boleh, tetapi berinteraksi dengan masyarakat luar juga harus tetap dijaga, jangan sampai merendahkan yang tidak bercadar. Kita ambil jalan tengah dalam menyikapi polarisasi Islam Arab dan Islam Nusantara, karena keduanya tidak dapat dipisahkan dalam konstruksi keberIslaman di Indonesia” kata Hamdi
Pada sisi yang yang lain, Dr. Saipul Hamdi melihat adanya fenomena gerakan Jamaah Tablighi yang juga hadir di Indonesia. Banyak kesalahpahaman dalam menyikapi kehadiran Jamaah Tabligh terkait identitas mereka. Sebagian memandang mereka adalah bagian dari Wahhabi, bahkan Tabligh dilihat sebagai kelompok radikal.
Kesalahpahaman ini berbahaya karena dapat mengancam keberadaan Tabligh. Hamdi dalam hasil risetnya menjelaskan bahwa dalam dakwah Tabligh di Indonesia tidak ditemukan adanya wacana kebencian dan radikalisme. “Gerakan ini murni dakwah dan mereka tidak menargetkan teman-teman non-Muslim, hanya menguatkan keberIslaman saja. Kelompok ini juga menafikan wacana mazhab dalam dakwahnya atau yang disebut dengan Demazhabsiasi Islam”, ungkapnya.
Dalam teori Hamdi, Demazhabisasi Islam artinya membongkar kultur bermazhab yang rigid di dalam tubuh Tabligh. Mazhab tidak penting dalam keIslaman Tabligh, malahan setiap anggota dilarang mengkampanyekan mazhab mereka ketika berdakwah ke tempat lain. Mereka disarankan mengikuti mazhab lokal yang ada. Tablighi sengaja tidak memposisikan mazhab dalam gerakannya untuk menghindari polarisasi dan konflik dengan umat Islam yang lain.
Tablighi juga ingin menjadi payung besar menaungi seluruh umat Islam yang ada untuk bergabung dalam gerakan dakwah Islam mereka yang dianggap netral dan non-sektarian.
Pembicara lain yakni Dr. Saparudin mengupas kontestasi antara Ormas Salafi dengan Ormas Islam lainnya dalam bidang pendidikan.
Infilterisasi nilai dan ideologi masing-masing Ormas nampak dalam pendidikan mereka misalnya tentang ke-Muhammadiyah-an, ke-NWan, ke-NU-an dan ke-Salafi-an. Dosen Fakultas Tarbiyah UIN Mataram ini melihat adanya wacana yang tidak toleran dalam sekolah Salafi seperti mengharakan tahlilan, ziarah kubur dan lain-lain, yang notabenenya adalah bagian dari kultur masyarakat Muslim lokal. Salafi lebih militan dari Ormas-ormas Islam yang lain.
Guru besar UIN Mataram Prof. Dr. Fahrurrozi Dahlan menyoroti identitas Islam Sasak yang plural dan toleran. Dari segi karakter Ormas dapat dilihat adanya perbedaan, misalnya cara tuan guru dari masing-masing Ormas Islam berpakaian. “Tuan Guru NW berbeda pakaiannya dengan tuan guru NU, Muhammadiyah ataupun ustaz PKS. Ustaz Muhammadiyah misalnya hanya menggunakan peci hitam dalam kesehariannya, sedangkan ustaz PKS kadang ada yang tidak pakai peci, tetapi menggunakan baju koko”, kata Fahrurrozi.
Dari segi geografis, Tuan guru di Lotim, Lobar, Loteng, dan KLU juga memiliki perbedaan dalam berpakaian dan pola berinteraksi dengan masyarakat. Polarisasi tuan guru juga dapat dilihat dari bidang-bidang yang ditekuni misalnya tuan guru tutur, yaitu tuan guru yang ahli dibidang ceramah, tuan guru sembur, yang khusus mengobati orang lain, tuan guru politikur, tuan guru yang khusus ke politik, dan tuan guru lentur, yakni tuan guru yang bisa kemana-mana.


