
Fahrurrozi juga mengkritisi pakaian cadar yang tidak sesuai dengan budaya Islam keSasakan dan ke-Indonesiaan. Pakaian cadar selain membatasi interaksi dengan masyarakat, juga berlawanan dengan semangat ritual. “Orang shalat saja harus buka wajah, kenapa di masyarakat harus ditutup”, katanya.
Beliau juga menceritakan dalam kuliahnya yang pertemuan dituntut 75% harus tatap muka, jika tidak maka tidak bisa lulus. Bagi mahasiswa yang pakai cadar jangankan 75% tatap muka, 1% pun saya tidak pernah lihat wajahnya, kata beliau. Dia juga merespon pertanyaan tentang peran tuan guru di politik, menurutnya sebuah keharusan supaya tidak dipolitisir terus.
Tuan guru NW misalnya, harus mampu bermain di ranah politik dengan modal sosial besar yang dimiliki yakni jamaah. Lebih baik berpolitik daripada dipolitisir. (saif/hz/s5n)


