Setiap bulan tentu membawa makna tersendiri bagi setiap orang. Ada yang menganggapnya sebagai awal dari sebuah perjuangan, ada yang mengingat kenangan indah, bahkan bagi sebagian orang, bulan menjadi simbol dari sebuah keberuntungan.
Tak kalah pentingnya dengan bulan November ini, bulan yang menyimpan nilai heroik dan semangat kebangsaan. Kenapa? Karena di bulan inilah, tepatnya tanggal 10 November, bangsa Indonesia mengenang para pahlawan yang telah menanamkan arti perjuangan dan kemerdekaan dengan darah dan air mata. Namun, di balik kisah perjuangan fisik atau bersenjata, ada pula perjuangan yang lahir dari ketulusan, ilmu, dan keimanan. Dari ufuk timur Nusantara, muncullah sosok agung yang cahaya perjuangannya menembus zaman, beliau adalah Maulana Syaikh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid atau yang dijuluki “Matahari Dari Timur”.
Maulana Syaikh adalah sosok yang luar biasa menurut saya, beliau bukan hanya seorang ulama, tetapi juga menjadi pelita peradaban. Mari kita renungkan, di tengah masa keterpurukan umat akibat penjajahan dan kebodohan, beliau mendirikan Nahdlatul Wathan sebagai gerakan kebangkitan yang didasari oleh ilmu, iman, dan rasa nasionalisme. Sangat luar biasa, beliau tidak menggunakan senjata atau perang, tetapi melalui pendidikan. Beliau menyalakan semangat kemerdekaan dari Lombok hingga ke berbagai penjuru negeri. Menurut beliau, menghadapi kebodohan memiliki kemuliaan yang sama dengan melawan penjajahan, serta mendidik umat adalah bentuk jihad yang tertinggi.
Dalam salah satu karya beliau, yaitu Wasiat Renungan Masa, bait ke-63 dituliskan:
“Hidupkan iman, hidupkan taqwa, Agar hiduplah semua jiwa.
Cinta teguh pada agama,
Cinta kokoh pada negara.”
Bait ini memang terlihat sederhana, namun memiliki makna yang dalam.
Seperti yang dijelaskan oleh Tuan Guru Bajang, bahwa kepahlawanan dan keberanian, hanya bisa tumbuh dalam jiwa yang hidup, dan hidupnya jiwa itu sendiri adalah dengan memiliki iman dan takwa. Dari sini, Maulana Syaikh ingin mengajarkan kepada kita bahwa kekuatan sejati seorang pejuang tidak terletak pada senjata, melainkan pada iman yang mampu membangkitkan keberanian, serta ketakwaan yang mampu melahirkan keteguhan.
Sekarang ini, di tengah dunia modern yang terus berkembang, pesan perjuangan itupun masih relevan. Kita mungkin tidak lagi menghadapi penjajah bersenjata, tetapi kita masih menghadapi tantangan baru, seperti kemalasan berpikir, hilangnya rasa peduli, dan krisis teladan. Di situasi seperti inilah, semangat Maulana Syaikh seolah berbisik: “Jadilah pahlawan di zamannya, meskipun tanpa pedang dan perang.”
Hari ini kita merayakan hari Pahlawan Nasional, bukan hanya untuk mengenang perjuangan beliau, tetapi juga untuk membangkitkan semangat perjuangan dalam hati kita.
Dalam setiap guru yang benar-benar berdedikasi, setiap santri yang tekun belajar, setiap kader yang terus berjuang kapanpun dan dimanapun, serta setiap pemuda yang berani menjaga nilai-nilai kebaikan, maka disanalah ruh perjuangan Maulana Syaikh akan tetap hidup.
Wallahualam bishawab.
Penulis: istariadi (Kader HIMMAH NWDI)



