Oleh : Harapandi Dahri
إِنَّمَا يُؤۡمِنُ بَِٔايَٰتِنَا ٱلَّذِينَ إِذَا ذُكِّرُواْ بِهَا خَرُّواْ سُجَّدٗا وَسَبَّحُواْ بِحَمۡدِ رَبِّهِمۡ وَهُمۡ لَا يَسۡتَكۡبِرُونَ
تَتَجَافَىٰ جُنُوبُهُمۡ عَنِ ٱلۡمَضَاجِعِ يَدۡعُونَ رَبَّهُمۡ خَوۡفٗا وَطَمَعٗا وَمِمَّا رَزَقۡنَٰهُمۡ يُنفِقُونَ
Sesungguhnya yang sebenar-benar beriman kepada ayat-ayat keterangan Kami hanyalah orang-orang yang apabila diberi peringatan dan pengajaran dengan ayat-ayat itu, mereka segera merebahkan diri sambil sujud (menandakan taat patuh), dan menggerakkan lidah dengan bertasbih serta memuji Tuhan mereka, dan mereka pula tidak bersikap sombong takbur. Mereka merenggangkan diri dari tempat tidur, (sedikit sangat tidur, kerana mengerjakan sembahyang tahajjud dan amal-amal soleh); mereka sentiasa berdoa kepada Tuhan mereka dengan perasaan takut (akan kemurkaanNya) serta dengan perasaan ingin memperolehi lagi (keredaanNya); dan mereka selalu pula mendermakan sebahagian dari apa yang Kami beri kepada mereka.
Ada empat perkara yang akan mendatangkan empat manfaat lainnya;1) Sikap diam akan menghasilkan keselamatan, 2) Perbuatan baik akan menghasilkan kekeramatan (keutamaan), 3) Pemurah akan memberikan kehormatan dan 4) Laku syukur akan menghasilkan tambahan nikmat (Rahatul Qulub:49).
Sikap diam akan menghasilkan keselamatan, al-Syaikh ‘Abdul Wahhab al-Sya’rani dalam kitab al-Anwar al-Qudsiyyah berkata; “Jika pembicaraanmu membuat dirimu sombong, maka diamlah dan sekiranya diammu menjadikan dirimu merasa lebih hebat dari orang lain, maka bicaralah”.
Dari ucapan tersebut dapat dilihat bahwa pada saat-saat tertentu diperlukan diam dan saat-saat yang lain diperlukan berbicara. Karena itulah Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda;”Sesiapa yang beriman kepada Allah dan hari kiamat, hendaklah ia berbicara yang baik-baik, jika tidak, maka silahkan “diam”.
Mengapa diam adalah pilihan selamat?, sikap diam berarti tidak berbicara, dengan menahan lisan untuk berbicara, apalagi pembicaraan yang tidak bermanfaat, adalah ibadah. Lisan yang disibukkan dengan ucapan-ucapan kebajikan akan diselamatkan Allah di akhirat dari gangguan dan jilatan api neraka.
Dalam ungkapan lain dikatakan bahwa “diam itu emas dan bicara itu perak”, orang yang cerdik dan berakal pastilah ia akan memilih emas karena nilainya yang tinggi daripada mengambil perak yang harganya tidak dapat melampaui emas.
Diam adalah suatu perkara yang sangat sulit ditafsirkan, diam dapat menjadi jawaban dari berbagai persoalan, alangkah indahnya sikap diam saat engkau ingin berbicara. Ketahuilah bahwa tertawa saat orang lain ingin melihatmu menangis adalah kebajikan, bersikap diam saat mereka ingin mendengarkanmu berbicara sangat indah.
Ingatlah bahwa menyesal dari sikap diam itu hanya satu kali sedangkan penyesalan yang sangat panjang akibat dari pembicaraan yang kita ucapkan. Kapan sebaiknya kita diam, yaitu ketika kita ingin sekali berbicara dan kapan sebaiknya berbicara yaitu saat nafsu kita ingin bersikap diam.
Ali bin Abi Thalib Karramallahu Wajhahu berkata: ”Sesungguhnya akan mati seseorang karena tersandung lidahnya, dan akan tetap hidup bagi mereka yang tersandung kakinya”.
Ucapan tersebut bermakna bahwa berapa banyak orang yang dieksekusi mati karena akibat tidak dapat menjaga lidahnya dari fitnah dan mengadu domba orang lain. Dan jika kaki tersandung batu, luka yang diakibatkannya dapat sembuh secara perlahan sementara luka akibat fitnah tidak dapat disembuhkan.
Imam An-Nawawi rahimahullah menyebutkan dalam Syarah Arbain, bahwa Imam Syafi’i rahimahullah mengatakan, “Jika seseorang hendak berbicara maka hendaklah dia berpikir terlebih dahulu. Jika dia merasa bahwa ucapan tersebut tidak merugikannya, silakan diucapkan. Jika dia merasa ucapan tersebut ada mudharatnya atau ia ragu, maka ditahan (jangan bicara).”
Imam Abu Hatim Ibnu Hibban Al-Busti berkata dalam kitabnya, Raudhah Al-‘Uqala wa Nazhah Al-Fudhala, “Orang yang berakal selayaknya lebih banyak diam daripada bicara, karena betapa banyak orang yang menyesal karena bicara dan sedikit yang menyesal karena diam. Orang yang paling celaka dan paling besar mendapat bagian musibah adalah orang yang lisannya senantiasa berbicara, sedangkan pikirannya tidak mau jalan”.




