Setelah kita membahas hal-hal yang kita disunnahkan untuk membaca sholawat Nabi, renungan subuh kali ini akan membahas keutamaan dan faedah yang didapatkan bila kita membaca sholawat Nabi. Tentu saja saya masih mengutip dari kitab *al-Sholatu ‘Ala al-Nabi SAW Ahkamuha Fadhailuha wa Fawaidhuha* yang disusun oleh Saikh Abdullah Siraj al-Din, terbitan Maktabah Dar al-Falah Tahun 1995 yang terdapat dari halaman 132 sampai halaman 144. Sebagaimana renungan sebelumnya saya juga tidak menerjemahkan secara keseluruhan, namun hanya mengutip secara point-point yang diangggap penting. Dan in syaa Allah tidak mengurangi substansi dari pembahsan yang ada di kitab tersebut.
Mencari keutamaan dan faedah atas suatu amalan adalah suatu hal yang manusiawi. Saya tidak jarang ditanya;” ustaz kalau kita melakukan amalan ini faidah dan manfaatnya apa sih…” memang Kita dalam beramal kadang atau jangan-jangan malah mengharapkan sesuatu dari amal ibadah yang kita lakukan.Dan itu syah-syah saja selama masih sesuai dengan perintah Allah dan Rasul-Nya. Bukankah Syaikh Muhammad nawawi al-Bantani, sebagaimana saya tuulis dalam renungan beberapa waktu lalu terkait dengan ikhlas, mengatakan ketika kita beribadah disamping lillahi ta’ala kita juga mengharapkan manfaat yang berbau keakhiratan masih dikategorikan ikhlas, begitu pula dengan mengharapkan manfaat dunia. Hanya derajat keikhlasan yang kita miliki bila terkait ingin mendapatkan manfaat dunia itu derajat yang paling rendah. Agar tidak mencari keterangan Syaikh Nawawi tersebut, saya kutipkan lagi di bawah ini—maaf bila ada pengulangan. He he.
فأعلى مراتب الاخلاص تصفية العمل عن ملاحظة الخلق بأن لا يريد بعبادته الا امتثال أمر الله والقيام بحق العبودية دون اقبال الناس عليه بالمحبة والثناء والمال ونحو ذلك
“Tingkatan ikhlas yang paling tinggi adalah membersihkan perbuatan dari perhatian makhluk (manusia) di mana tidak ada yang diinginkan dengan ibadahnya kecuali (hanya) melaksanakan perintah Allah dan melakukan hak penghambaan, bukan mencari perhatian manusia berupa kecintaan, pujian, harta dan sebagainya.”
Ini tingkatan ikhlas yang tertinggi dimana seorang hamba melakukan amal ibadah tidak memiliki tujuan apapun selain hanya karena menuruti perintah Allah semata. Tak terpikir sama sekali pada dirinya tentang balasan atas amal ibadahnya itu. Bahkan ia tak peduli apakah kelak di akhirat Allah akan memasukkannya ke dalam surga atau neraka. Yang Ia harapkan hanya ridho Allah SWT.
Tingkatan ikhlas yang kedua:
والمرتبة الثانية أن يعمل لله ليعطيه الحظوظ الأخروية كالبعاد عن النار وادخاله الجنة وتنعيمه بأنواع ملاذها
“Tingkat keikhlasan yang kedua adalah melakukan perbuatan karena Allah agar diberi bagian-bagian akhirat seperti dijauhkan dari siksa api neraka dan dimasukkan ke dalam surga dan menikmati berbagai macam kelezatannya.”
Pada tingkatan kedua ini seorang hamba melakukan amal ibadahnya karena Allah namun di balik itu ia masih memiliki keinginan agar dengan amal ibadahnya tersebut ketika di akherat nanti, ia akan mendapatkan pahala yang besar dari Allah SWT dengan memperoleh kenikmatan surga yang Allah janjikan dan terhindar dari azab api neraka.
Adapun tingkatan yang ketiga:
والمرتبة الثالثة أن يعمل لله ليعطيه حظا دنيويا كتوسعة الرزق ودفع المؤذيات
“Tingkatan ikhlas yang ketiga adalah melakukan perbuatan karena Allah agar diberi bagian duniawi seperti kelapangan rezeki dan terhindar dari hal-hal yang menyakitkan.”
Inilah tingkat keikhlasan yang paling rendah di mana dalam melakukan amal ibadah seseorang melakukannya karena Allah namun ia berharap dengan amal ibadahnya tersebut akan mendapatkan imbalan yang bersifat duniawi. Misalnya beribadah melakukan sholat malam/tahajjud karena berharap memperoleh kemuliaan di dunia, melakukan sholat dhuha dengan harapan diluaskan rezekinya dan lain sebagainya.
Beribadah dengan kondisi seperti tingkatan ketiga ini masih dikategorikan ikhlas dan syah saja, karena memang ajaran agama juga memberikan tawaran hal tersebut untuk memotivasi umatnya, namun yang perlu difahami ialah bahwa beribadah dengan motivasi seperti tersebut di atas tingkatan keikhlasannya paling rendah. Yang tidak boleh adalah ketika kita beramal ibadah dengan niat dan motivasi selain tiga hal tersebut di atas, yang dikategorikan oleh imam Nawawi sebagai riya.
وما عدا ذلك رياء مذموم
Artinya: “Selain ketiga motivasi di atas adalah riya yang tercela.”
Terkait keutamaan dan manfaat amal ibadah yang kita lakukan, yang perlu kita fahami adalah tidak melulu keutamaan dan manfaatnya langsung bisa kita rasakan di dunia selagi kita hidup, bisa jadi nanti di akhirat. Namun yang harus diantisipasi adalah rasa kecewa berat yang muncul akibat faedah dan manfaat yang kita harapkan terwujud ternyata tidak kunjung ada. Jangan sampai ada dalam fikiran kita hal-hal yang negatif kepada Allah dan Rasul-Nya. Bila hal ini terjadi dikhawatirkan akan membawa kita pada hal-hal yang meragukan dari amal ibadah yang kita lakukan tersebut dan konsekuensi berikutnya bisa membuat kita malas beribadah yang lainnya bahkan termasuk ibadah wajib yang seharusnya dilakukan seorang muslim. Bila sudah seperti itu maka setan dengan sangat mudah menggoda kita dan menguasai diri kita sehingga akhirnya menjadi orang yang tidak lagi mau beribadah kepada Allah SWT. Wa iyyadzu billah.
Yang kedua, yang juga harus kita fahami adalah apapun manfaat dan keutamaan ibadah yang kita lakukan semuanya kita kembalikan kepada Allah. Jika Allah berkehendak kita merasakan manfaat dan keutamaannya saat di dunia, Alhamdulillah. Bila tidak, maka kita harus ridho atas kehendak dan takdir Allah tersebut. Karena kita adalah hamba-Nya yang dhoif yang hanya memohon dan meminta baik melalui amal ibadah maupun doa yang memang diperintahkan oleh-Nya. Kita bukan berada dalam posisi memerintah Allah, tapi kita hanyalah hamba-Nya yang memohon bukan memerintah. Hikam Athoillah al-Sakandadiy mengingatkan kita dalam hal ini, meski ini terkait dengan doa dan pemberian Allah, namun in syaa Allah bisa jadi renungan kita bersama:
لاَ يَكُنْ تَأَخُّرُ أَمَدِ الْعَطَاءِ مَعَ الإلْحَاحِ فِى الدُّعَاءِ مُوجِبًا لِيَأْسِكَ فَهُوَ ضَمِنَ لَكَ الإجَابَةَ فِيْمَا يَخْتَارُ لَكَ لاَ فِيْمَا تَخْتَارُ لِنَفْسِكَ فِى الْوَقْتِ الَّذى يُرِيْدُ لاَ فِى الْوَقْتِ الَّذِى تُرِيْدُ
“Janganlah karena kelambatan pemberian karunia dari Allah sedangkan engkau telah bersungguh sungguh berdoa, membuat kamu berputus asa. Sebab Allah telah menjamin untuk mengabulkan semua doa, menurut apa yang dipilihNya untuk kamu , bukan menurut kehendakmu, pada waktu yang ditentukan oleh Nya bukan waktu yang kamu tentukan”.
Adapun keutamaan dan Faedah Sholawat Nabi In syaa Allah kita lanjutkan besok. Maaf agar tidak terlalu panjang renungannya disamping karena saya juga lagi sibuk ada tugas lain yang harus ditangani. a—‘afwu.
Wallahu a’lam bi al-Showab.
Semoga Bermanfaat.
*Salam Bahagia dari Ahmad Rusdi* (Renungan Subuh ke 69, 29082020)




