Sinar5news.com – Jakarta – Ditengah menurunnya ekonomi yang dialami oleh Negara bagian Timur tengah yakni Lebanon, kali ini Negara tersebut mengalami insiden ledakan yang tidak terduga sehingga berimbas pada ekonomi yang membuatnya semakin terpuruk.
Kapal KRI Sultan Hasanuddin dari Kontingen Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang tergabung dalam Pasukan Interim Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Lebanon (UNIFIL) terhindar dari ledakan dahsyat di Pelabuhan Beirut pada Selasa (4/8/2020).
Ledakan yang diduga berasal dari gudang bahan kimia itu telah menewaskan sedikitnya 78 orang dan melukai 4.000 lainnya, termasuk seorang warga negara Indonesia.

“KRI Sulthan Hasanuddin 366 (Kontingen Garuda Satgas MTF dalam UNIFIL) terkonfirmasi aman karena sedang berlayar di Mersin, Turki,” ucap keterangan Duta Besar Indonesia untuk Lebanon, Hajriyanto Y Thohari.(mengutip dari laman resmi media sosial fb info_militer_Indonesia)
Menurut keterangan Dubes Hajriyanto, WNI yang terluka dalam ledakan di Beirut bernama Ni Nengah Erawati. Ia adalah pekerja spa di Kimantra, Jal El Dib, yang pada saat kejadian sedang berada di Beirut.
Terdapat pula satu WNI lainnya yang selamat dalam ledakan, namun tempat tinggalnya di Beirut rusak berat. Kondisi korban luka stabil, bisa berbicara dan berjalan. Luka beliau sudah dijahit oleh dokter. Saat ini beliau sudah pulang dan berada di apartemen bersama 4 WNI lainnya di Jal El Dib.
Sebelumnya disebutkan bahwa lokasi ledakan hanya berjarak sekitar tujuh kilometer dari KBRI Beirut. Meski cukup dekat, gedung KBRI Beirut relatif aman dan semua jajaran staf juga baik-baik saja. “Tidak (ada kerusakan). Alhamdulillah,” sebut Dubes Hajrianto.
Dalam catatan KBRI Beirut, terdapat 1.447 WNI, 1.234 di antaranya adalah Kontingen Garuda dan 213 merupakan WNI sipil termasuk keluarga KBRI dan mahasiswa.




