Selaparang Notes (160) GELORAKAN API PENGABDIAN, BAK PAHLAWAN!

Selaparang Notes (160) GELORAKAN API PENGABDIAN, BAK PAHLAWAN!

Oleh: Abah_Rosela_Naelal_Wafa

*”_Alhamdulillah_, pada kesempatan ini kita bisa bertemu, bermuwajahah seperti tahun-tahun sebelumnya dan kita bisa merayakan upacara secara resmi dan sakral.”*_ Kata Ketua Yayasan Islam Selaparang Kediri Lombok Barat, yakni Dr. Raden TGH. L. Pattimura Farhan, M.HI di awal amanatnya sebagai Pembina Upacara pagi tadi.

Peringatan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia ke-77 yang dilaksanakan di lingkungan Pondok Pesantren Selaparang dimulai 08.30 WITA itu berjalan lancar, semarak dan penuh semangat.

Rangkaian demi rangkaian acara, semua berjalan tanpa ada kendala yang mengganggu. Uaparanya terbilang semarak dan ramai, karena semua kepala lembaga madrasah, staf dan karyawan serta sebagaian besar dewan guru, turut meramaikan. Meski, ada beberapa dewan pengajar yang tidak hadir tapi sebagaian besar memberi keterangan. Bagi yang tak ada kabar, kata Ketua Yayasan akan dikenakan denda 5 sak semen. Semoga diindahkan!

Meski upacara di tengah sorotan terik matahari tanpa aling-aling, namun semangat dari santriwan-santriwati saat menyanyikan lagu “Hari Merdeka”, demikian membahana. Santriwati semua lembaga membawa bendera mini yang dikibarkan sepanjang lagu itu dinyanyikan. Sementara semua santriwan bersama segenap guru yang ada di bagian depan, dengan penuh semangat mengepalkan tangan kanan sembari menyanyikan lagu tersebut.

Selain daripada itu, momen yang menarik dan sakral sebagai bagian dari rangkaian upacara apel HUT RI Ke-77 pagi tadi, adalah penyerahan Surat Keputusan (SK) Kepala SMA NW Selaparang kepada nahkoda baru, yakni Muh. Zainul Mujtahidin, M.Pd. (Putra Amid Mahad Zainul Hafidz Selaparang, Abah Ustazuna Muh. Darwan).

Penyerahan SK ini, disaksikan oleh semua kepala lembaga madrasah yang ada di bawah naungan Yayasan Islam Selaparang, yakni Mansur Hadi, S.Pd.I (Kepala MI), Hj. Nurlaela, S.Pd.I (Kepala MTs. Pi), H. Abdul Hapis, SS., M.Pd. (Kepala MTs. Pa), dan Rusli, S.Pd.I (Kepala MA).

_*”Bapak-Ibu Kepala-kepala lembaga, hari ini saya menerima dan menyerahkan SK ini kepada Bapak – Ibu semua, sembari saya berharap Bapak-Ibu mengemban amanah ini dengan sepenuh hati, jiwa dan curahan semangat. Tidak ada yang bisa membalas semuanya melainkan Allah dengan sebaik-baik balasan!”*_ Demikian pesan Sang Peraih Doktor di UIN Mataram dengan nilai _Cumlaude_ itu di depan semua pimpinan lembaga, sembari terlihat ada linangan air mata yang sepertinya sedang minta restu untuk menetes menaburi pipinya.

_Masyaallah_ ini sebuah amanah dan kepercayaan yang total dan berat bagi semua Bapak-ibu kepala lembaga. Namun, _biiznillah_ semua akan mudah apabila diterima sebagai sebuah pengabdian, bukan dikalkulasi dengan hitungan materi duniawi. _Amiin!_

Bagi saya, pesan dan amanah yang diberikan Miq Tuan Duktur selaku Ketua Yayasan Islam Selaparang, ini adalah bagian dari satu _jihad_ (perjuangan) yang tak kalah berat (minimal sama-sama mulia) dengan perjuangan para pahlawan dan pendahulu-pendahulu yang mulia dari para pejuang bangsa terdahulu.

Bagi saya, _amanah_ ini harus diterima bak “merah putih”. _Amanah_ yang dijalankan dengan semangat pengabdian serta siap berkorban dan berjuang, sebagai isyarat dari warna merah. _Amanah_ pengabdian yang harus disertai spirit keikhlasan dan kemurnian hati, sebagaimana simbol warna putih dari Sang Saka yang suci.

*”Merah putih yang kita saksikan ini, tidak saja selembar yang kita kibarkan, tidak saja selembar kain yang kita hormati dan mengangkat tangan untuknya, atau menundukkan kepala terhadapnya. Melainkan, terbayang bagi kita seluruh jasa, pengorbanan, tangisan, darah dari para pahlawan dan pejuang-pejuang kita.”* Tegas ulama yang sedang menjabat Komisioner Baznas NTB tersebut.

Semangat dan gelora api pengabdian sebagai _abdi_ santri di bawah naungan Yayasan Islam Selaparang, dengan meniru semangat para pahlawan dan pejuang Indonesia terdahulu, adalah bagian penting yang bisa saya tangkap dari pidato Sang Gurunda. Untuk selanjutnya merelasikan dan mencontoh semangat mereka dalam melayani dan mengabdi, sehingga bisa mempersembahkan hasil ikhtiar yang bermanfaat.

Kata Miq Tuan dalam penjelasannya, bahwa para pejuang dan pahlawan terdahulu, mereka setiap hari mendengar dentuman peluru dan bahkan bersarang di tubuhnya. Mereka rela berjauhan dengan istri dan anak-anaknya, bergeriliya dan berjuang di medan pertempuran. Darah, tangis dan jiwa dikorbankannya. Tidak ada yang mereka harapkan melainkan agar tanah air ini merdeka dan bebas, serta bisa dinikmati oleh seluruh rakyat Indonesia.

Semangat juang itu yang harus diteladani dan diikuti oleh para guru. Semangat mengabdi di Pondok Pesantren Selaparang, tidak hanya memerlukan kecerdasan, namun juga ketulusan untuk memberikan semangat, waktu dan kerelaan untuk berjauhan dengan keluarga. Dengan gelora api pengabdian demikian, maka kemerdekaan santri dari kebodohan _insyaallah_ terkabulkan. _Amiin!_

Bilekere, 17 Agustus 2022 M.

Baca Selanjutnya

DARI PENULIS

BERITA TERKAIT

IKLAN

TERBANYAK DIBACA

BACA JUGA