Oleh: Prof. Dr. H. Fahrurrozi Dahlan, QH,.MA
✍️ Guru Besar UIN Mataram / Sekjend PBNW
“Pacu akunme’ Ngajarang Le’ Ma’had: Muridku Sa’ Alim-Alim Nuu Wah Anggep Diri’ Ne Dengan Beleq” Ungkapan kasih sayang sang Maualana Syaikh kepada muridnya TGH. M. Ruslan Zain Annahdhy.
SINAR5NEWS.COM – Tuan Guru Ruslan Zain bercerita dalam suara yang agak terbata-bata karena kondisi kesehatan beliau. Maulanassyaikh bebase, Tuan Aji. Cobak gitak guru-guru Ma’had, Haji Zainal, Haji Zaini, wah jerakne Ngajarang Le’ Ma’had. (Tuan haji, coba lihat guru-guru Ma’had, TGH. Lalu Zainal Abidin Sakra, TGH. Zaini Padamara. Sudah menjadi besar).
Lanjut Tuan Guru Ruslan, Pesan Maulanassyaikh ini memberikan pelajaran kepada kita sebagai murid Maulanassyaikh untuk tetap berkhidmat kepada tempat kita dibesarkan, tetap berkhidmat di mana kita menuntut ilmu dulunya. Setinggi apapun ilmu kita, tetap kita rendah di hadapan guru kita.
Maulanassyaikh memberikan pesan kepada kita bahwa jangan meninggalkan gurumu setelah menjadi orang besar, sudah menjadi tuan guru sudah menganggap diri lebih besar, dan lebih alim dari gurunya. Tetaplah sikap tawaddhu dan takziem itu dikedepankan. Itu pesan maulanassyaikh yang tersurat dari bahasa Maulanassyaikh itu, tandas Tuan Guru Ruslan Zain.
Lebih lanjut Maulanassyaikh berpesan kepada saya. Tuan Haji, Me’ atur jadwal ngajar me’ le’ Ma’had. Da’me’ lupa’ ngajarang lek masyarakat endah. Tuan Haji, Atur waktu ngajarmu di Ma’had dan jangan lupa mengajar (membuka) pengajian umum di masyarakat.
Terpikir dalam benak saya, bisa enggak saya mengajar di masyarakat, itu yang terus terngiang dalam pikiran saya, tapi saya tetap punya keyakinan, asal Maulanassyaikh yang perintah pasti Allah tunjukkan jalan keberkahan nantinya. Terbukti setelah saya mulai mengajar di Ma’had, terus menerus jamaah meminta saya untuk membuka pengajian di sana sini. Sampai tak kuasa menerima undangan pengajian, sambung cerita beliau.
Ini arti penting ketaatan kita terhadap guru. Kita terkadang tak mampu melakukannya tapi karena perintah guru, nanti kita tahu hikmahnya setelah kita menjalani dengan penuh keyakinan, keikhlasan dan keistiqomahan dan saya yakini ini mungkin rahasia ilmu ALIF yang dulunya saya dipaksa untuk mengajar di Ma’had meski hanya ilmu Alif. Ungkap Sang Amid MDQH NW ini.
Kehidupan ke-ma’hadan dan kemasyarakatan terus berjalan dan beriringan dengan siang dan waktu yang kemudian membawa kita kealam khidmah yang penuh berkah dan penuh kesuksesan yang dulunya bermula dari Ilmu Alif, yang bisa daku ajarkan kepada murid-muridku itu.
Sekali lagi, betul kata Bapak Maulanassyaikh, “Memang Berkah Itu Tidak Bisa Dibeli, Meski Ditukar Intan Berlian dan Emas Murni”.
Ku pesankan kembali pesan maulanassyaikh ini kepadamu, agar menjadi pelajaran berharga untukmu. Nasihat beliau kepada kami yang datang ziarah. Berkah sekali lagi berkah ngiring Bapak Maulanassyaikh, sahut beliau sesekali menampakkan kesedihan mengenang Sang Maha Guru. Sang Maulanassyaikh TGKH. M. Zainuddin Abdul Madjid al-Mashur.



