Sinar5news.com – Jakarta – Dalam semarak peringatan Hari Santri Nasional 2025, Yayasan Mi’rajush Shibyan Nahdlatul Wathan Jakarta kembali menggelar acara “Panggung Gembira II” sebagai bentuk apresiasi dan wadah ekspresi para santri. Kegiatan yang berlangsung pada Jumat, 24 Oktober 2025, ini digelar dengan penuh semangat kebersamaan meski diiringi oleh guyuran hujan yang menambah suasana haru dan khidmat di halaman Pondok Pesantren Nahdlatul Wathan Jakarta.
Acara diikuti oleh seluruh jenjang pendidikan di bawah naungan yayasan, mulai dari TPA/MD, TK, SD, SMP, SMA hingga Pondok Pesantren Nahdlatul Wathan Jakarta. Berbagai penampilan kreatif tersaji di panggung, seperti nasyid, puisi, drama religi, tari tradisional, hingga pertunjukan seni budaya yang menggambarkan nilai-nilai keislaman, nasionalisme, dan semangat perjuangan santri.
Ketua Panitia, Meigovic Suparta, S.H., menyampaikan bahwa Panggung Gembira II bukan sekadar hiburan, melainkan wadah pembentukan karakter dan sarana menumbuhkan rasa percaya diri santri. “Momentum Hari Santri ini menjadi ajang bagi para santri untuk menyalurkan potensi mereka secara positif dan menumbuhkan semangat cinta tanah air serta bangga menjadi santri,” ujarnya dengan penuh semangat.
Meskipun hujan turun sepanjang acara, antusiasme para santri dan penonton tidak surut. Keceriaan tetap terpancar dari wajah mereka, menunjukkan ketulusan dan semangat juang dalam merayakan Hari Santri. Para alumni Nahdlatul Wathan juga turut berkontribusi mendukung dan memeriahkan jalannya kegiatan, sebagai wujud kecintaan dan kebersamaan dalam bingkai ukhuwah santriyah.
Ketua Ikatan Alumni Nahdlatul Wathan (IANW) Jakarta, Khotibul Umam, menyampaikan apresiasinya atas terselenggaranya kegiatan ini. “Kami para alumni merasa bangga dapat turut serta dalam kegiatan positif seperti ini. Panggung Gembira II menjadi bukti nyata bahwa semangat santri tidak pernah padam, bahkan terus tumbuh dan menginspirasi generasi setelahnya,” ungkapnya.
Melalui Panggung Gembira II, Nahdlatul Wathan Jakarta kembali membuktikan bahwa santri bukan hanya pandai dalam ilmu agama, tetapi juga kreatif, berdaya, dan siap menjadi generasi penerus bangsa yang berakhlakul karimah.



