Spesies Paling Subyektif oleh Zulkarnaen

Spesies Paling Subyektif oleh Zulkarnaen

Manusia adalah satu-satunya spesies mahluk hidup yang sadar akan kehidupannya. Sejauh peradaban ini, tesis “cogito orgu sum” masih bertahan dan tak ada yang mempermasalahkan–terlebih juga memang tak ada tanda spesies lain yang memiliki hal itu sejauh pencarian, penelitian manusia hingga penemuan termutakhir abad ini–bahkan sepertinya ratusan tahun ke depan tak akan ada spesies yang seperti manusia; yang memiliki kesadaran akan kehidupannya. 

Manusia sepertinya memang tercipta sebagai spesies unggul di muka bumi–spesies lain hanyalah sebagai pelengkap; menjadi sesuatu yang dimanfaatkan manusia–karena mereka tak memiliki kesadaran hidup–mereka tak bisa merasakan keindahan. Apa yang ditulis Harari dalam Sapiens adalah contoh yang baik untuk menjelaskan keunggulan manusia; manusia tidak butuh waktu yang lama untuk menjadi raja dalam rantai makanan–manusia pernah percaya bahwa mereka adalah makanan dari binatang buas–dalam sejarah, manusia adalah spesies yang menghuni bagian tengah dari rantai makanan mahluk hidup sampai pada akhirnya mereka mampu mengalahkan binatang-binatang buas dengan kecerdasan yang mereka miliki. Dengan kecerdasan ini pula mereka ingin membuat bulan kini. Binatang buas merupakan masalah paling purba dan bukanlah masalah besar kini–cukup anda mengambil senapan lalu menembaknya. 

Kecerdasan yang dimiliki manusialah yang menjadi salah satu penyebab manusia disebut unggul. Peradaban Yunani adalah contoh klasik sebagai bukti kecerdasan yang menghasilkan keunggulan. Kami sering sekali menemukan rumah semut sebagai contoh untuk mendukung penjelasan soal peradaban yang dihasilkan manusia–sebenarnya tak hanya rumah semut saja, tapi rumah-rumah dari melata, mamalia, fertebrata dan lain seterusnya. Mereka semua tak pernah menunjukkan perubahan kecil dari bentuk rumah mereka; rumah mereka sama saja dari dahulu. Manusia sendiri telah lama menunjukkan evolusi bentuk rumah mereka–tak hanya betuknya, namun ada nilai estetikanya–banyak bangunan kini dijadikan sebagai tempat wisata seni. 

Spesies berpikir ini bahkan sudah membuat Artificial Intelligence (AI). Sebuah teknologi yang memiliki kecerdasaan di atas rata-rata manusia. Dengan teknologi ini, manusia menjalankan hidupnya dengan sangat baik dibanding di masa lalu. Penemuan ini sudah bukan menjadi pembeda antar manusia dengan mahluk lain, tetapi antar ras manusia–sudah lama sekali klasifikasi ras maju dan ras terbelakang–ada juga klasifikasi negara maju dan berkembang. Hal ini tak hanya menjadi sistem dunia, namun menjadi sistem paling bawah sekalipun di sekiar kita–desa anda mungkin disebut desa berkembang sampai sekarang. 

Ada hal lain selain kecerdasan yang membuat manusia disebut unggul. Sebenarnya kata unggul adalah kata manusia sendiri–definisinya tentu berdasarkan manusia juga. Sehingga yang dilakukan manusia hanyalah melakukan penilain diri saja. Tentu hal ini menjadi subjektif sekali kemudian karena definisi unggul hanya disepakati mahluk yang disebut manusia. Jika menginginkan yang lebih objektif tentu harus mengikut sertakan mahluk lain. Pandangan ini tentu tidak realistis, namun sampai pada level logika sudah sesuai dengan premis yang benar. Faktanya memang hanya manusialah yang membuat definisi-definisi itu–penilaiannya kemudian monolog saja. Begitu pula dengan sebab keunggulan lain yang dimiliki manusia seperti hati nurani, perasaan, spiritual, nafsu merupakan bagian dari itu. Manusia menyebut mahluk lain tak lebih unggul karena mereka tak memiliki hal-hal yang sudah disebutkan. Sampai disini kita bisa menyimpulkan selain penilain yang tak lebih objektif dan kesalahan dalam melakukam perbandingan yang seharusnya aple to aple–semut tentu tak sama dengan manusia dan bukan dibandingkan–logikanya salah. 

Dalam konteks ini, manusia butuh penilai dari luar dirinya untuk berjaga-jaga supaya tak jatuh dalam kesubjektifan. Sejauh pencarian saya, saya hanya menemukannya titik terang pada orang-orang beragama. Mereka menyebut tuhan sebagai penilai luar itu. Namun kata yang digunakan mereka bukanlah kata unggul, melainkan kata kemuliaan. Unggul hanyalah sebuah akibat dari anugerah kecerdasan yang diberikan tuhan. Penjelasan soal yang berkaitan dengan kata unggul dalam kitab suci yang saya temukan pada konteks akhlak antar sesama manusia dan kepada tuhan. Sedang kata kemuliaan memang menjelaskan bagaimana manusia di muka bumi. Dalam kitab sucinya ummat Islam bahkan menyebut manusia sebagai pemimpin di bumi. Cendikiawan mereka kemudian menafsirkan makna pemimpin dalam konteks itu dengan mengatakan bahwa selain manusia adalah sesuatu yang hanya diperuntukkan bagi manusia dalam menjalankan fungsi kepemimpinannya dalam menghadirkan kemakmuran antar sesama mahluk. Dalam Islam kata yang berkonotasi unggul ternyata lebih banyak dalam konteks mereka yang paling bertakwa. Islam saya temukan sangat mengapresiasi kecerdasan yang dimiliki manusia–terlebih Islam memang tak memiliki masalah dengan sains sebagaimana yang terjadi pada agama kristen dahulu. Saya pikir agama lebih bijak dalam memberikan penilaian kepada sesama mahluk dibanding manusia. 

 

Baca Selanjutnya

DARI PENULIS

BERITA TERKAIT

IKLAN

TERBANYAK DIBACA

BACA JUGA