Sabtu, 31 Oktober 2020 Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Syamsul Ulum Sukabumi menyelenggarakan seminar nasional dengan Hukum dan Pendidikan Islam dalam Persfektif Moderasi Islam, dengan narasumber Prof. Dr. H. Juhaya S. Praja (Guru Besar UIN Bandung dan Pembina Akademik Pascasarjana STAI Syamsul Ulum) dan Prof. Dr. H. Muh. Najib, M.Ag. (Direktur Pascasarjana STAI Syamsul Ulum). Seminar yang dipandu oleh Dr. H. Deden Effendi, M.Ag. berjalan sukses dan dihadiri oleh sekitar 400 mahasiswa, baik yang hadir langsung maupun yang mengikuti seminar melalui Zoom.
Ketua STAI Syamsul Ulum, Dr. H. Syafruddin Amir, M.M. dalam sambutannya menagtakan bahwa kampus sebagai lembaga akademik perlu mengedukasi masyarakat terkait cara beragama yang baik dan benar. “Pemahaman keagamaan yang moderat harus kita kampanyekan kepada masyarakat, agar mereka dapat bermasyarakat dengan baik sesuai dengan tuntunan agama Islam. Civitas akademika sebagai agent of change harus mampu memberi peran lebih untuk masyarakat agar tercipta masyarakat Madani” imbuhnya. Selain itu, beliau juga berpesan kepada seluruh mahasisw agar dapat menjadi agen perubahan di masyarakat dan lingkungannya masing-masing.
Ketua panitia seminar, Jasmansyah menyampaikan bahwa kegiatan seminar ini bertujuan untuk memberikan pemahaman yang komprehensif kepada masyarakat, khususnya sivitas akademika STAI Syamsul ‘Ulum terkait konsep Moderasi Beragama.”Seminar ini adalah sebagai bentuk implementasi Tri Darma Perguruan Tinggi dan dilaksanakan dalam rangkaian Tasyakkur Akreditasi Pascasarjana yang mendapat peringkat “Baik” dalam proses akreditasi program studi yang dilakukan beberapa waktu yang lalu.” Kata Jasman yang juga Sekretaris Pascasarjana STAI Syamsul ‘Ulum Sukabumi.
Sementara itu, Prof. Dr. H. Juhaya S. Praja selaku narasumber membahas secara khusus konsep moderasi dari sisi Hukum Islam, sedangkan Prof. Dr. H. Moh. Najib, M.Ag mengular moderasi Islam dari sisi pendidikan Islam.
Dalam paparannya,Guru Besar Hukum Islam UIN Bandung tersebut menekankan pentingnya pemahaman yang komprehensif bagi mahasiswa dan dosen terkait moderasi dalam Islam. “Ajaran Islam yang sebenarnya mengajarkan kepada kita makna toleransi dalam kehidupan bermasyarakat. Perbedaan yang terjadi diantara kita adalah anugrah Allah SWT yang harus kita syukuri. Jika ada orang yang melakukan perbuatan yang bertentangan dengan ajaran Islam, maka sesungguhnya orang tersebut salah dalam memahami Qur’an dan Hadits yang merupakan sumber hukum Islam” kata Juhaya dengan penuh semangat.
Dari sisi pendidikan Islam, Moh. Najib menyampaikan pandangannya bahwa Pendidikan Islam yang moderat dapat mencegah peserta didik untuk berperilaku radikal baik dalam sikap maupun pemikiran, sehingga out-put dari lembaga pendidikan Islam dengan adanya pendidikan Islam berbasis moderasi ini dapat berimplikasi kepada pemahaman semua umat Islam untuk menerima segala bentuk perbedaan dalam keagamaan dan dapat menghargai keyakinan yang diyakini oleh orang lain. “Masih banyaknya aksi kekerasan dan terorisme atas nama Agama di Indonesia merupakan bukti konkrit betapa pemahaman dan penghayatan nilai-nilai moderasi Islam masih rendah. Oleh karena itu, berbagai pendekatan penanganan terorisme dan radikalisme harus senantiasa diupayakan. Salah satunya adalah dengan program deradikalisasi melalui pendidikan moderasi Islam.” Kata Najib.
Untuk mendukung argumentasinya, Najib mengutip QS. al-Baqorah 143 “Dan demikianlah Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), ummatan wasathan, agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. Kami tidak menjadikan kiblat yang (dahulu) kamu (berkiblat) kepadanya melainkan agar Kami mengetahui) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang berbalik kebelakang. Sungguh, (pemindahan kiblat itu) sangat berat, kecuali bagi orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah. Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sungguh, Allah Maha Penyantun, Maha Penyayang kepada Manusia”.
Kegiatan seminar ini berjalan dengan sukses dan diikuti penuh antusias oleh peserta, baik di dalam auditorium maupun peserta yang mengikuti seminar melalui Daring. Semoga seminar ini berdampak positif terhadap perilaku beragama di masyarakat, khususnya di lingkungan STAI Syamsul Ulum Gunungpuyuh Sukabumi,” tutur Jasmansyah.



