Hari demi hari, minggu demi Minggu, bulan berganti bulan kita lalui, dan senantiasa dihadapkan dengan berbagai permasalahan dalam kehidupan. Yang demikian itu karena memang sesungguhnya manusia terlahir lengkap dengan permasalahan yang akan dihadapi dalam dunia.
Permasalahan pada manusia adalah hal yang mesti adanya dan pasti akan didapati dalam kehidupan, dan harus mempersiapkan diri menerima keberadaannya. Dan adapun yang perlu dikaji dalam sebuah masalah ialah ketika tidak bisa memenangkan permasalahan tersebut. Ibarat orang sakit yang tidak bisa merasakan tentang keberadaan sakitnya, sehingga dengan demikian maka untuk keluar, terlepas dan sembuh dari penyakitnya akan mengalami kesulitan, karena tidak tahu bagaimana jalan keluar dari permasalahan tersebut. Maka jika merujuk pada surat Ath Tholaq ayat 2, Taqwa merupakan jalan utama dan terbaik untuk keluar dari berbagai permasalahan yang ada.
{ وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا }
“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar.” (QS. Ath Tholaq: 2).
Jangan terhenti mengatakan cukup dalam beragama itu hanya meyakini Allah yang Maha pandai, Allah Maha kuasa, maha hebat. Tidak cukup sesederhana itu kita beragama. Namun yang perlu diperhatikan adalah bagaimana keyakinan itu secara mendalam ada pada diri kita, disitulah ke indahan itu akan terasa.
Sebenarnya menset iman yang harus kita tanamkan di tengah kehidupan yang penuh dengan permasalahan ini adalah meluruskan iman itu sendiri, bagaimana menguatkan ketauhidan kepada Allah SWT, jangan mempertanyakan dan meragukan sejauh mana kasih sayang Allah kepada kita. Rasulullah mengatakan pada hadits qudsi sebagai berikut :
وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – : أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ، قَالَ : (( يَقُوْلُ اللهُ تَعَالَى : أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي ،…..) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah Ta’ala berfirman: Aku sesuai persangkaan hamba-Ku.…” (Muttafaqun ‘alaih)
Kalau memang persepsi kepada Allah sudah bagus, bahwa Allah sayang kepada kita, maka Allah akan menunjukkan rasa kasih sayang itu pada diri kita. Kalau kita yakin bahwa Allah akan menunjukkan sesuatu yang luar biasa pada diri kita, maka Allah akan menunjukkan sesuatu yang luar biasa. Ukurannya adalah kadar persepsi kita kepada Allah.
Akhir-akhir ini ada masalah yang cukup besar berskala internasional, sebagaimana yang telah kita pahami bersama, bahwa ada kesengajaan bahkan persekongkolan dari kekuatan dunia internasional yang mencoba berulang kali untuk mengganggu kehidupan umat beragama, khususnya umat Islam. Apa yang sama-sama kita ketahui, dengan adanya penghinaan terhadap Nabi yang kita agungkan yaitu Rasulullah SAW. Dengan menggambar fisik Rasulullah secara tidak senonoh adalah sebuah penghinaan terhadap orang yang kita agungkan. Maka jika kita merujuk kepada firman Allah surat Ath Tholaq ayat 2, sebenarnya cukup dengan meningkatkan taqwa kita kepada Allah sebagai solusi, biarkan Allah yang membalas penghinaan kepada Rasulnya. Dalam Al-Qur’an surat Ali Imran/3 : 54 Allah SWT berfirman.
وَمَكَرُوا وَمَكَرَ اللَّهُ ۖ وَاللَّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ
“Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya”
Maka sebenarnya secara internal kita perlu untuk mengintropeksi diri. Dan apabila melihat ada dari saudara-saudara kita yang menunjukkan kegelisahannya, penolakannya, sebagai rasa pembelaannya kepada Nabi yang dikagumi adalah sangat wajar, jangan sampai kita menganggap mereka keterlaluan, itulah cara mereka menunjukkan kecintaan mereka kepada Rasulullah SAW.
Disisi lain ada yang mengekspresikan rasa cintanya dengan cara yang berbeda, yaitu dengan meningkatkan intropeksi diri dan pendekatan kepada Allah SWT. Mungkin dengan menunjukkan ketakwaan kepada Allah, dengan salat dan berdoa di tengah malam kepadanya, insya Allah itu yang akan menggetarkan Arasy. Jadi, perbedaan cara menunjukkan ekspresi cinta kepada Rasulullah adalah salah satu perbedaan yang harus dimaklumi sebagai salah satu wasilah untuk meningkatkan ketakwaan.
Tulisan ini diambil dari intisari khutbah yang disampaikan oleh Dr.H.Miftahuddin,LC,MA pada Jum’at yang ke-16 di Masjid HAMZANWADI Ponpes Nahdlatul Wathan Jakarta tanggal 6 November 2020.
Fath




