Sinar5news.com- Lombok Utara- Pengajian Umum PBNW TGB HM Zainul Majdi memperingati Isra Mikraj berlanjut, bertempat di Ponpes Al Bayani NW Bayan dilansir dari “Dakwah tuan guru bajang.com” cucu dari pahlawan Nasional TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Majid ini menyampaikan mengenai islam yang menghargai perbuatan baik(10/03/2020).
Kepada para jamaah yang hadir TGB mengatakan, Nabi Muhammad SAW selalu memberi contoh yang mudah dalam keseharian. Ini sebagai penanda harus benar-benar bersaudara.
“Mun arak ngundang ite, sai-sai. Keluarga, teman, bahkan orang yang tak dikenal, kemudian tak ada halangan. Faajibhu, maka penuhi undangan itu,” ujarnya.

TGB melanjutkan, ketika ada tetangga atau saudara yang sakit, tak ada halangan untuk menjenguk, maka harus segera dijenguk. Begitu ketika ada yang meninggal, ada kesempatan mengiring jenazahnya, maka perlu diantar ke kubur.
“Rasul memberi petunjuk, ketika bersin langsung mengatakan yarhamukallah. Bila perempuan yarhamukillah,” bebernya.
Kaidah ulama, kata TGB, bila Rasulullah menunjukkan contoh dalam bermuamalah bisa jadi yang tak disebut nabi bisa dijalankan. Meski cara tersebut tak ada di masa Nabi Muhammad. Misalnya, peringatan Maulid Nabi Muhammad. “Atau apa lagi yang menunjukkan persaudaraan? Termasuk nyiwak, dan tradisi adat yang bagus-bagus,” ungkapnya.
Beda halnya, sambung TGB, bila hal tersebut berkaitan dengan ibadah. Semisal salat, rakaat, cara, dan rukunnya sudah jelas. Tak bisa ditambah ataupun dikurangi.
“Sudah dibatasi. Itu yang namanya taukifan, wah mentelah ndendek rumbuk malik (sudah pas jangan ditambah). Rasul sudah membatasi,” tandasnya.
Lebih jauh, begitu pula dengan masalah berhaji, tiru cara berhaji Rasul. Tak boleh ditambah-tambah.
“Misal, dari Bayan jauh sekali ke Makkah. Thawafnya jadi 14 kali (harusnya 7 kali), ndek te kanggok, atau Sai mumpung di Makkah jadi 20, ndek te bau (tidak boleh),” imbuhnya.
Dijelaskan, kecuali ibadah tersebut bersifat umum. Seperti zikir. Disampaikan, wahai orang-orang beriman zikirlah sebanyak-banyaknya dan tasbihlah pada pagi serta petang.
“Allah memerintahkan zikir sebanyak-banyak. Maka silahkan. Yang penting adabnya dijaga, kita muliakan asma Allah. Jangan zikir jahr (terang) di tempat yang tak baik,” urainya.
Doktor ahli tafsir Alquran ini melanjutkan, dalam hal bermuamalah pun rasul memberi contoh. Ketika sedang berjalan, kemudian menjumpai seseorang yang duduk, maka dihampiri dan bersalam.
“Pak Kades jalan, ada warga duduk. Siapa yang datang salaman? Ya Pak Kades, jangan karena kades terus menunggu warganya datang. Ini adab, diajarkan oleh Rasul,” terangnya.
TGB kemudian menyinggung mengenai menjaga fisik dan otot dengan olahraga. Hal lain yang sangat penting dijaga hati dan jiwa.
“Menjaganya dengan sifat-sifat yang baik. Seperti acara hari ini bisa bersilaturahim, sesibuk apapun jangan putus kita bersilaturahmi” imbuhnya.
Ketua Organisasi Internasional Alumni Al Azhar (OIAA) Indonesia ini mengajak jamaah merenungi Surat Al Hajj 77,
yā ayyuhallażīna āmanurka’ụ wasjudụ wa’budụ rabbakum waf’alul-khaira la’allakum tufliḥụn. Dalam Alquran Allah al falah untuk menunjukkan manusia yang bagus. Orang mendapatkan al falah adalah muflihun, orang-orang yang beruntung.
“Siapa itu?Banyak disebutkan dalam Alquran, salah satunya yang tiang baca tadi,” katanya.
“Wahai orang-orang yang beriman! Rukuklah, sujudlah, dan sembahlah Tuhanmu; dan berbuatlah kebaikan, agar kamu beruntung,” bebernya.

Dalam ayat tersebut, lanjut TGB, disampaikan rukuk, sujud, menyembah Tuhan, dan berbuat baik. Kata para ulama, waf’alul khaira menunjukkan Islam menghargai segala macam perbuatan baik. Tanpa batasan ataupun pencegah untuk berbuat baik.
“Tidak disebutkan perbuatan baik yang bagaimana. Karena setiap kita punya potensi perbuatan baik masing-masing,” tandasnya.
Sebelumnya, dalam sambutannya Pengurus NW Lombok Utara H Najmul Ahyar mengatakan, di sela-sela kesibukan mengisi pengajian ke berbagai tempat di Indonesia, TGB menyempatkan hadir di Kecamatan Bayan. Keberadaan NW bisa mengisi ruang-ruang pendidikan.
“Di Bayan, Alhamdulillah saling bahu-membahu memberi kontribusi kepada umat. Tentu bimbingan dan arahan dari ketua diperlukan,” katanya.
“Agama menjadi solusi terbaik untuk memberikan pendidikan di keluarga,” sambungnya.


