Sementara sebagian peserta memilih berjalan kaki, saya memutuskan naik mobil pengantar. Di puncak itulah berdiri sebuah rumah dengan arsitektur Eropa klasik berwarna dominan coklat tua dan putih. Luas rumah ini sendiri sekitar 2.000 meter persegi.
Di bagian depan, berdiri kokoh empat pilar yang menyangga teras rumah. Memasuki rumah, segera terasa aroma sejarah yang kental. Di berbagai ruangan yang rata-rata sangat megah, tersimpan berbagai rekaman catatan aktivitas Jefferson, dalam bidang politik, pendidikan, dan arsitektur. Ribuan buku bersampul coklat khas buku masa lalu berjajar di berbagai sudut ruangan rumah Jefferson itu. Semua adalah koleksi pribadi Jefferson sekitar tiga ratus tahun silam yang sampai hari ini masih tersimpan rapi.
Publik Amerika meyakini, tidak ada rumah di Amerika yang mampu menggambarkan kepribadian pemiliknya sehebat rumah Jefferson di Monticello. Sejauh mana kebenaran pernyataan itu memang memerlukan penelitian lebih lanjut. Tetapi satu hal menarik adalah bahwa Jefferson merancang dengan fikirannya sendiri desain rumah tersebut. Membangun rumah itu selama kurang lebih lima belas tahun. Sejarawan menengarai bahwa desain rumah ini banyak diinspirasi oleh arsitektur Eropa yang disaksikan oleh Jefferson saat ia menjadi duta besar Amerika Serikat untuk Prancis.
Thomas Jefferson lahir pada 13 April 1743 di Sadwell, Virgnia, dan meninggal pada 4 Juli 1826. Ia memperoleh pendidikan di Williamsburg, Virginia. Denise Spellberg memperkirakan, pada saat menjadi pelajar dengan usia 22 tahun di sinilah Jefferson membeli al-Qur’an, sebelas tahun sebelum perumusan deklarasi kemerdekaan.
Lalu, apakah al-Qur’an berpengaruh secara langsung terhadap gagasan politik Jefferson? Denise meyakini bahwa sejumlah bukti bisa ditampilkan. Memang benar bahwa Jefferson mengkritik Islam sebagai “mengekang kebebasan berfikir”, sebagaimana kritik yang sama juga ditujukan kepada Kristen. Tetapi konteks kritik itu adalah karena Jefferson melihat, baik dalam Islam maupun Kristen, terjadi pencampuradukan urusan agama dan politik. Inilah hal yang ingin dihindari oleh Jefferson dalam praktik politik di Amerika.
Dalam sebuah tulisannya di The Conversation, 31 Mei 2017, Denise menulis: “Gagasan tentang karakter negara yang secara keagamaan bersifat majemuk juga teruji dalam kebijakan kepresidenan Jefferson dengan kekuasaan Islamdi Afrika Utara. Presiden Jefferson menyambut duta besar Muslim pertama, yang bertolak dari Tunis menuju Gedung Putih pada tahun 1805.
Lantaran saat itu bulan Ramadhan, presiden menunda jamuan makan malam negara dari pukul 15.30 ke waktu ketika “tepat matahari terbenam,” yang merupakan pengakuan terhadap keyakinan agama duta besar Tunisia. Bisa jadi, inilah jamuan resmi buka puasa Ramadhan di Amerika yang pertama kali.”
Namun, di luar kritik itu, demikian kata Denise lebih lanjut, Jefferson menghargai hak-hak Muslim. Tak lama setelah merumuskan Deklarasi Kemerdekaan, Jefferson kembali ke Virginia dan merumuskan sebuah aturan hukum tentang kebebasan beragama di Virginia.
Ketika membaca Letter on Toleration karya John Locke, Jefferson menulis catatan pinggir dalam bentuk parafrase: “[he] says neither Pagan nor Mahometan [Muslim] nor Jew ought to be excluded from the civil rights of the commonwealth because of his religion.” Denise mencatat dari gagasan inilah lalu Jefferson menulis: “(O)ur civil rights have no dependence on our religious opinions.” Lebih jauh bahkan ia menyebut bahwa Muslim adalah bagian dari warga negara masa depan Amerika Serikat.
Barangkali karena demikian intens hubungan Jefferson dengan Islam, lalu ia pernah dituduh sebagai calon presiden Amerika yang secara diam-diam telah menganut Islam. Atas fakta ini, seorang penulis Amerika Serikat, Michael Rieger, menulis bahwa Obama bukanlah orang pertama yang dituduh sebagai Muslim saat mencalonkan presiden. Dua ratus tahun sebelum Obama, hal yang sama telah terjadi pada Thomas Jefferson.
John Adams, calon presiden yang bersaing dengan Jefferson dalam memperebutkan kursi kepresidenan ke-3 AS, melemparkan tuduhan bahwa Thomas Jefferson sebenarnya diam-diam adalah seorang Muslim. Meski demikian, Rieger meyakini bahwa status keagamaan Jefferson sebenarnya ambigu. Ia menolak ketokohan dalam agama (clericalism) dan agama yang terlembaga. Namun, di sisi lain, ia memiliki al-Qur’an, dan pernah menyatakan seorang Muslim bisa menjadi presiden Amerika Serikat, berdasarkan hak-hak yang dijamin oleh Konstitusi yang ia rumuskan itu (Libertarianism, 29 Juni 2017).
Lalu, muncullah sebuah pertanyaan: bagaimana Jefferson tertarik dengan Islam? Dengan menelusuri jejak-jejak sejarah dan warisan intelektual Jefferson di Virginia, satu kesimpulan yang paling mungkin diajukan adalah bahwa Jefferson adalah seorang yang demikian luas minta keilmuannya.
Tak hanya politik, ia juga belajar arsitektur. Rumahnya di Monticello serta sejumlah bangunan kuno di University of Virginia (sebuah universitas yang didirikan oleh Jefferson) juga merekam jejak keahliannya sebagai seorang arsitek. Lonce Bailey, dosen pembimbing kami, menyebut Jefferson belajar aristektur secara otodidak. Dalam hal agama, dia membaca apa saja. Karena itu, ia membeli al-Qur’an karena ingin mempelajari semua agama. Tidak berlebihan, jika ada dugaan bahwa secara agama, Jefferson bersifat ambigu.
Namun, ini semua mengajarkan bahwa Jefferson menganut prinsip kemerdekaan berfikir. Maka, ”kemerdekaan” bisa menjadi salah satu kata kunci dalam memahami dunia Jefferson. Ia berfikir merdeka, terlibat dalam perumusan kemerdekaan, berkarya secara merdeka, dan melalui Konstitusi Virginia, ia juga dikenal sebagai penjamin kemerdekaan beragama, dan kemerdekaan hak-hak manusia.
Tetapi di dalam dirinya terdapat paradoks. Pada brosur yang dibagikan kepada para pengunjung Monticello tertulis sebuah kalimat menarik: Monticello was also a working plantation, where the paradoxes of slavery contrasted with the ideals of liberty expressed by Jefferson in the Declaration.
Tentang kontroversi ini lalu muncul pendapat lain. Bahwa dengan paham kemerdekaan yang ia anut, sesungguhnya Jefferson memiliki rencana untuk menghapus perbudakan, termasuk di perkebunan Monticello. Namun, meskipun ia menyebut perbudakan sebagai kejahatan yang mengerikan, ia juga melihat kemungkinan potensi perpecahan atas bangsa yang baru saja berdiri dan masih rawan itu, jika gagasan perbudakan segera dinyatakan secara terbuka. Barulah setelah lebih dari 80 tahun, ketika Abraham Lincoln memerintah, perbudakan di Amerika benar-benar bisa dihapus.
Kembali kepada Islam, dengan melihat sejarah interaksi Islam dan Muslim pada masa awal kemerdekaan Amerika, rasanya tidak berlebihan jika banyak yang berpendapat bahwa sikap Presiden Donald Trump yang cenderung memusuhi Islam belakangan ini sedikit demi sedikit justru mengikis nilai-nilai yang diperjuangkan oleh para pendiri Amerika pada masa lalu.




