Sebuah bait lagu yang agak lumrah diketahui oleh thullab Ma’had adalah bait tentang agama yang bukan sekedar ibadah-puasa sembahyang di atas sejadah-tetapi mencakup hukumah dst. Ma’had sendiri merupakan salah satu institusi pendidikan yang didirikan oleh Hamzanwadi dalam rangka mencetak ulama’, pembela ahlussunnah wal jama’ah. Di lingkungan ma’had inilah lagu wasiat renungan masa yang dikarang oleh Hamzanwadi agak lebih sering didengar oleh para thullab atau santri di Nahdlatul Wathan.
Kondisinya memang lagu wasiat renungan masa tak banyak didengar oleh para santri di Nahdlatul Wathan. Di Ma’had pun agak sering terdengar disebabkan oleh adanya tim kasidah di bawah organisasi eksekutif mahasiswanya, yaitu majlisutthullab atau persenatan. Di bawah majlisuttulab terdapat tim wasiat yang dalam hal ini yang sering menyanyikan lagu wasiat renungan masa, tim hadroh dan tim kaligrafi.
Telah banyak masukan dan kritikan soal kurikulum yang digunakan ma’had oleh para pencinta. Salah satunya adalah masukan supaya di kurikulum ma’had dimasukkan ke-NW-an menimbang masih bermasalahnya pendidikan ke-NW-an di internal pendidikan-pendidikan di bawah naungan Nahdlatul Wathan. Tak hanya soal pertimbangan pendidikan, namun juga atas pertimbangan sedikitnya kajian soal wasiat renungan masa.
Wasiat renungan masa seharusnya menjadi objek penelitian dari para santri Nahdlatul Wathan, menimbang di dalamnya tertuang pikiran-pikiran pendiri Nahdlatul Wathan. Memahami maksud dari isi wasiat renungan masa akan membantu santri Nahdlatul Wathan lebih mengenal betapa mengagumkannya yang namanya Hamzanwadi. Menutup kajian wasiat renungan masa dengan alasan tak sampai ilmu hanya memiliki implikasi-buruk daripada mengkajinya dengan ilmu memahami teks.
Sayang sekali jika wasiat renungan masa tak dikaji. Bahkan parah sekali jika para santri sama sekali tak berani mengkajinya karena alasan guru mereka sendiri tak banyak membahas soal wasiat renungan masa. Para santri Nahdlatul Wathan harus membekali diri dengan ilmu memahami teks atau minimal mau mendengar maksud-maksud Hamzanwadi dalam bait-bait syair tersebut.
Contoh sederhana adalah bait syair yang dimaksud di paragraf pertama. Setidaknya dipahami bahwa pendiri Nahdlatul Wathan dalam konteks agama tak menyerukan ibadah-ritual an sich, tetapi integrasi kemamkmuran dunia. Dengan tegas secara implisit beliau mengatakan agama juga politik, agama juga sosial, agama juga ekonomi, agama juga budaya. Bahwa agama masuk dalam aspek-aspek tersebut.
Sayang sekali kemudian ajaran ini tak hidup, bahkan tak ditahu oleh para santri. Bahwa para santri diberikan visi secara eksplisit untuk memuliakan islam dan orang-orang muslim sebagaimana beliau letakkan dalam visi organisasi yang ia dirikan. Visi tersebut kondisinya masih belum terealisasi meskipun memiliki umur yang panjang dari sejak disuarakan sejak dimulainya kebangkitan Islam, yaitu abad 18 lalu.
Untuk mewujudkan visi tersebut tentunya harus dengan ikut serta dalam pembangunan, pemberdayaan manusia. Tak ikut membangun manusia sama halnya akan menjadi bagian catatan kemunduran ummat Islam ketika mereka tak mengakses ilmu-ilmu kemanusiaan ketika terjadinya banyak masalah-masalah sosial kemanusia terutama pada abad ini. Islam lambat laun akan terkesan tak berpihak kepada urusan kehidupan dunia manusia.
Para santri kemudian harus masuk, ahli dalam aspek-aspek kehidupan itu untuk mewujudkan visi memuliakan orang-orang Islam. Hal ini kemudian menjadi pertimbangan mendesak bagi setiap orang muslim hari ini dalam mengemban nilai-nilai Islam yang disebut oleh Hamzanwadi dalam wasiatnya. Kondisi ini sekali menunjukkan pentingnya mengkaji wasiat renungan masa.
Tak hanya itu, dalam bait lagu yang lain beliau menyebut ilmu-ilmu humanis semisal kimia, geografi, aljabar, bahasa dan lainnya. Hal ini bisa diakses di lagu beliau yang berjudul ya man yaru mul ula. Terdapat banyak pesan, nilai, pengetahuan dan tentunya diri Hamzanwadi dari karya-karyanya. Tak mengkajinya minimal akan memberikan sumbangan masalah lain dalam internal pendidikan Nahdlatul Wathan.




