Mahkota Cahaya di Jalen: Wisuda Tasmi’ Al-Fath Jalen Cetak Generasi Penjaga Langit
BEKASI – Gemuruh lantunan ayat suci Al-Quran menggetarkan sanubari ribuan orang yang memadati kompleks Pondok Pesantren Al-Fath Jalen, Tambun Utara, Bekasi, pada Sabtu pagi, 2 Mei 2026. Dalam suasana penuh khidmat, yayasan tersebut sukses menyelenggarakan Wisuda Tasmi’ Hifzhil Quran Angkatan Kelima, sebuah perayaan kemenangan spiritual bagi ratusan santri penjaga wahyu.
Acara yang dimulai tepat pukul 07.30 WIB ini menyatukan santri dari jenjang TKIT, SDIT, SMPIT, hingga SMKIT Al-Fath Jalen. Para wisudawan tampak begitu tenang dan khusyuk saat melantunkan hafalan mereka secara bergiliran, mulai dari kategori Juz 30, 5 Surat Pilihan (Yasin, Al-Kahfi, Ar-Rahman, Al-Waqi’ah, Al-Mulk), hingga hafalan 5 Juz.
Pesan Mendalam: Mahkota untuk Orang Tua
Hadir memberikan sambutan yang menggugah, Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Bekasi, Dr. H. Ujang Ruhiyat, S.Ag., M.Pd., menegaskan bahwa para santri hari ini tidak sekadar lulus, melainkan resmi menyandang “mahkota cahaya”.
“Ananda semua hari ini resmi menyandang mahkota. Bukan mahkota dari emas, tapi mahkota dari ayat Al-Quranul Karim. Mahkota itu juga akan dipakaikan kepada Ayah Bundanya di akhirat nanti,” ujar beliau dengan nada haru.
Beliau juga memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada para orang tua yang telah “investasi langit” dengan menitipkan anak-anak mereka di lembaga yang memiliki sanad keilmuan yang jelas (shahih).
Komitmen dan Air Mata Keikhlasan
Pimpinan Yayasan, Umi Hj. Naily Mahfuzhoh, S.H.I., S.Pd., tak kuasa menahan rasa bangga sekaligus haru. Dalam pesannya, beliau menceritakan perjuangan di balik layar—bagaimana para guru bersabar menghadapi mood swing remaja hingga santri yang terkadang sulit mengeluarkan satu ayat pun saat setoran.
“Menghafal itu sulit, tapi menjaga hafalan jauh lebih sulit. Apa yang bapak ibu saksikan hari ini adalah hasil dari proses murojaah yang ketat dan doa tengah malam yang tak putus,” ungkap Umi Naily. Beliau juga menekankan bahwa penghafal Quran bisa menjadi apa saja—dokter, polisi, atau pejabat—namun dengan karakter Al-Quran yang melekat dalam jiwa.
Kehadiran Sang Maestro: KH. Muammar ZA
Momentum ini kian sakral dengan kehadiran qari legendaris Indonesia, KH. Muammar ZA. Kehadiran sosok yang telah mendunia ini menjadi magnet tersendiri bagi ribuan hadirin yang ingin mendengarkan langsung suara emas yang tak terkalahkan hingga saat ini.
Profil Singkat KH. Muammar ZA: Beliau adalah qari internasional kelahiran Pemalang yang dikenal sebagai pelopor tilawah dengan nafas panjang dan teknik vokal yang sangat artistik. Rekaman murottal beliau telah menjadi rujukan di seluruh Nusantara bahkan mancanegara (Turki hingga Pakistan). Kehadiran beliau memberikan suntikan semangat bagi para wisudawan untuk terus mencintai keindahan kalam Ilahi.
Tausiyah Penyejuk Hati
Sebagai penutup yang menginspirasi, Nyai Hj. Dra. Tjijik Mursyidah Muqaffi memberikan tausiyah tentang pentingnya doa orang tua. Beliau mengingatkan bahwa di alam kubur nanti, teman sejati manusia bukanlah harta, melainkan ayat-ayat Al-Quran yang dihafal dan diamalkan. Beliau mengajak seluruh jamaah untuk terus bangun di tengah malam (Tahajjud) sebagai kunci pembuka pintu-pintu kemudahan hidup.
Data Kegiatan:
-
Tema: Menjadikan Al-Quran Sebagai Pedoman Hidup.
-
Lokasi: Perumahan Vila Gading Harapan 2, Sriamur, Tambun Utara, Bekasi.
-
Tokoh Hadir: Dr. H. Ujang Ruhiyat (Kemenag), Perwakilan Camat Tambun Utara, Tokoh Masyarakat, Muspika (TNI/Polri).
-
Suasana: Membanjirnya ribuan wali santri dan tamu undangan hingga lokasi acara terasa sangat padat namun penuh keberkahan.
Wisuda Angkatan Kelima ini menjadi bukti nyata bahwa di tengah gempuran era digital, Pondok Pesantren Al-Fath Jalen tetap konsisten menjadi “mercusuar” iman yang menjaga akhlak generasi masa depan bangsa.
Conversation with Gemini
Mahkota Cahaya di Jalen: Wisuda Tasmi’ Al-Fath Jalen Cetak Generasi Penjaga Langit
BEKASI – Gemuruh lantunan ayat suci Al-Quran menggetarkan sanubari ribuan orang yang memadati kompleks Pondok Pesantren Al-Fath Jalen, Tambun Utara, Bekasi, pada Sabtu pagi, 2 Mei 2026. Dalam suasana penuh khidmat, yayasan tersebut sukses menyelenggarakan Wisuda Tasmi’ Hifzhil Quran Angkatan Kelima, sebuah perayaan kemenangan spiritual bagi ratusan santri penjaga wahyu.
Acara yang dimulai tepat pukul 07.30 WIB ini menyatukan santri dari jenjang TKIT, SDIT, SMPIT, hingga SMKIT Al-Fath Jalen. Para wisudawan tampak begitu tenang dan khusyuk saat melantunkan hafalan mereka secara bergiliran, mulai dari kategori Juz 30, 5 Surat Pilihan (Yasin, Al-Kahfi, Ar-Rahman, Al-Waqi’ah, Al-Mulk), hingga hafalan 5 Juz.
Pesan Mendalam: Mahkota untuk Orang Tua
Hadir memberikan sambutan yang menggugah, Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Bekasi, Dr. H. Ujang Ruhiyat, S.Ag., M.Pd., menegaskan bahwa para santri hari ini tidak sekadar lulus, melainkan resmi menyandang “mahkota cahaya”.
“Ananda semua hari ini resmi menyandang mahkota. Bukan mahkota dari emas, tapi mahkota dari ayat Al-Quranul Karim. Mahkota itu juga akan dipakaikan kepada Ayah Bundanya di akhirat nanti,” ujar beliau dengan nada haru.
Beliau juga memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada para orang tua yang telah “investasi langit” dengan menitipkan anak-anak mereka di lembaga yang memiliki sanad keilmuan yang jelas (shahih).
Komitmen dan Air Mata Keikhlasan
Pimpinan Yayasan, Umi Hj. Naily Mahfuzhoh, S.H.I., S.Pd., tak kuasa menahan rasa bangga sekaligus haru. Dalam pesannya, beliau menceritakan perjuangan di balik layar—bagaimana para guru bersabar menghadapi mood swing remaja hingga santri yang terkadang sulit mengeluarkan satu ayat pun saat setoran.
“Menghafal itu sulit, tapi menjaga hafalan jauh lebih sulit. Apa yang bapak ibu saksikan hari ini adalah hasil dari proses murojaah yang ketat dan doa tengah malam yang tak putus,” ungkap Umi Naily. Beliau juga menekankan bahwa penghafal Quran bisa menjadi apa saja—dokter, polisi, atau pejabat—namun dengan karakter Al-Quran yang melekat dalam jiwa.
Kehadiran Sang Maestro: KH. Muammar ZA
Momentum ini kian sakral dengan kehadiran qari legendaris Indonesia, KH. Muammar ZA. Kehadiran sosok yang telah mendunia ini menjadi magnet tersendiri bagi ribuan hadirin yang ingin mendengarkan langsung suara emas yang tak terkalahkan hingga saat ini.
Profil Singkat KH. Muammar ZA: Beliau adalah qari internasional kelahiran Pemalang yang dikenal sebagai pelopor tilawah dengan nafas panjang dan teknik vokal yang sangat artistik. Rekaman murottal beliau telah menjadi rujukan di seluruh Nusantara bahkan mancanegara (Turki hingga Pakistan). Kehadiran beliau memberikan suntikan semangat bagi para wisudawan untuk terus mencintai keindahan kalam Ilahi.
Tausiyah Penyejuk Hati
Sebagai penutup yang menginspirasi, Nyai Hj. Dra. Tjijik Mursyidah Muqaffi memberikan tausiyah tentang pentingnya doa orang tua. Beliau mengingatkan bahwa di alam kubur nanti, teman sejati manusia bukanlah harta, melainkan ayat-ayat Al-Quran yang dihafal dan diamalkan. Beliau mengajak seluruh jamaah untuk terus bangun di tengah malam (Tahajjud) sebagai kunci pembuka pintu-pintu kemudahan hidup.
Data Kegiatan:
Momen Puncak: Pengukuhan Generasi Penjaga Wahyu
Suasana haru kian memuncak saat memasuki agenda yang paling dinantikan, yakni prosesi wisuda dan penyerahan sertifikat. Acara inti ini dipandu dengan apik oleh Ust. Khairuddin dan Nova Fariha, yang membacakan satu per satu nama para pejuang Al-Quran untuk naik ke atas panggung kehormatan.
Pada kesempatan tersebut, pihak yayasan menyerahkan sertifikat kelima Pondok Pesantren Al-Fath Jalen untuk kategori hafalan 5 Juz dan 5 Surah Pilihan dan juz 30 secara simbolis dilakukan oleh Umi Hj, Naily Mahfudzho, Sh.I, S.Pd. Dengan penuh ketulusan, beliau memberikan penghargaan tersebut kepada putra-putri terbaik yang telah menyelesaikan target hafalan mereka.
“Mari bersama-sama kita berikan apresiasi setinggi-tingginya kepada anak-anak kita. Hari ini kita berkumpul di satu titik, menyaksikan dengan penuh hikmat bahwa mereka adalah generasi yang membanggakan, yang kelak akan menjadi syafaat bagi keluarga,” ujar pemandu acara di sela-sela prosesi.
Momen ini menjadi bagian yang paling mengharukan. Isak tangis bahagia pecah di antara barisan orang tua saat melihat buah hati mereka berdiri tegak memegang sertifikat. Inilah buah dari kerja keras, kesabaran orang tua dalam menemani murojaah di rumah, serta dedikasi tanpa lelah dari para guru yang membimbing setiap ayat hingga melekat kuat di dalam ingatan.
Penyerahan sertifikat ini bukan sekadar tanda kelulusan, melainkan simbol estafet perjuangan dalam menjaga kemurnian Al-Quran di bumi Bekasi.