Islam adalah alaniah dan iman berada dalam hati, demikian salah satu hadits yang disebut dalam kitab af’alul kulub untuk mendukung penjelasaan soal pentingnya pemahaman tentang hati. Syeikh Azzarnuji, Imam Alghozali juga menyebut hal itu dalam karya mereka, taklimul muta’allim dan ihya’ ulumuddin, bahwa pemahaman soal hati adalah fardu ain. Ibadah yang hanya ansich gerakan dan bacaan yang tidak mengikutkan hati akan menjadikan ibadah hanya dapat lelah, demikian disebut dalam sebuah hadits soal banyaknya orang yang sholat hanya mendapat lelah.
Bukan hanya sholat yang disebut dalam hadist, ibadah puasa juga disebut sebagai ibadah yang tidak dijalani dengan baik oleh seorang muslim.
Ibadah seorang muslim disebut tidak memiliki ruh, hanya jasad yang tak hidup ketika ibadah tidak dibarengi dengan kerja hati pelakunya. Hati adalah objek yang dilihat oleh tuhan menurut sabda Nabi. Pekerjaan hatilah yang menentukan diterima atau tidaknya ibadah seorang hamba.
Memahami soal hati akan membantu kita ibadah dengan lebih baik.
Hati adalah raja, anggota tubuh adalah prajuritnya. Ala sesungguhnya didalam jasad ada seonggok daging. Jika ia baik, maka akan baik seluruh tubuh. Jika ia rusak, maka rusak seluruh tubuh. Ala dia adalah hati. Hal yang paling penting untuk seorang muslim, berada dalam hati, keimanan. Keimanan adalah rasa yang menentukan bernilai atau tidaknya segala aktifitas baik seorang muslim.
Tidak ada keimanan dalam hati memutlakan sebuah aktifitas yang baik menjadi sia-sia, tidak bermamfaat diakhirat. Orang yang beribadah dengan iman akan diampuni dosanya yang sudah lalu dan yang akan datang, salah satu terjemahan hadits Nabi.
Seorang muslim harus mengikut sertakan hati saat beribadah. Tidak mengikutkan hati bermakna tidak khusuk saat beribadah. Khusuk adalah sebuah rasa yang muncul setelah seorang muslim berusaha mengikutkan hati dan pikirannya ketika beribadah. Meskipun Imam Syafi’i tidak berpendapat bahwa khusuk sebagai bagian dari rukun sholat karna merupakan hal yang tidak mudah , namun menurut keterangan yang lain bahwa khusuk adalah bagian dari rukun sholat.
Khusuk lah yang kemudian membuat ibadah seorang muslim lebih bernilai. Ibadah yang belum sampai pada rasa itu akan membuat pelaksanaan ibadah hanya sekedar soal menggugurkan kewajiban diri kepada tuhan, tidak memiliki nilai lebih. Pada dasarnya, khsusuk lah yang menjadi tujuan seorang muslim dalam beribadah. Ibadah yang baik adalah sebuah persiapan untuk menghadapi kehidupan setelah mati, ia adalah bekal dikehidupan selanjutnya.
Bukan perkara mudah menjadikan setiap ibadah menjadi ibadah yang khusuk. Seorang muslim harus belajar, layaknya bayi yang belajar berjalan, seorang muslim butuh waktu untuk bisa merasakan rasa itu. Setiap waktu adalah kesempatan belajar bagi seorang muslim. Tidak ada waktu yang paling tepat kecuali waktu yang sedang seorang muslim mengada, sekarang. Waktu dimana seorang muslim mengada adalah waktu belajar. Sehingga setiap waktu ibadah adalah waktu belajar memperbaiki ibadah dengan cara yang lebih baik. Hal ini telah dipraktikan oleh ulama’-ulama’ terdahulu.
Dalam istilah mereka kemudian menyebutnya riyadhoh, latihan. Seorang muslim membutuhkan latihan untuk memperbaiki ibadahnya, sekaligus merupakan hal yang mutlak dibutuhkan oleh seorang muslim, seorang manusia yang meruang dan mewaktu. Seorang manusia mutlak harus melakukan usaha dan menghormati waktu dalam proses perbaikannya, karna hanya tuhan yang tak butuh dengan ruang dan waktu. Semua disisi tuhan adalah hal yang sangat mudah karna Ia berada diluar ruang dan waktu yang sunnatullah nya menuntut usaha dan waktu, bagi-Nya cukup kun maka jadilah tanpa usaha dan menunggu waktu.( Zulkarnaen)




