Sebagian besar ulama nampaknya agak riskan membahas pemikiran seorang Sufi besar yang satu ini.
Namun kata pepatah mengatakan bahwa semua keadaan dan kenyataan itu adalah guru yang sangat obyektif.Tak ubahnya dengan seora sufi yang terkena pada zamannya, yang di anggap kontroversial yakni ; Al Hallaj.
Beliau di masa hidupnya terus menyimpan rindu dan mabuk kasmaran dengan kekasihnya untuk datang dan berkunjung, lalu menyeruak, merasuk ke dalam dan menempati hatinya. Banyak sahabatnya menyebut proses merasuk dari atas ke bawah sebagai “Hulul”.
Sejak itu hari-harinya disibukkan dengan pertemuan-pertemuan manis, mesra dan menghanyutkan dengan Tuhan di ruang yang tak bertempat. Katanya, suatu saat, masih dalam sunyi-menyergap:
*رأيت ربى بعين قلبى فقلت من أنت قال أنت*
*فليس للاين منك أين وليس أين بحيث انت*
Aku melihat Tuhanku dengan mata hati
Aku bertanya; Siapa Engkau. Dia katakan : Kamu
Tak ada dari-Mu dimana
Dan tak ada di mana bagimu
*انا من اهوى ومن اهوى انا نحن روحان حللنا بدنا*
*فإذا ابصرتنى ابصرته فإذا أبصرته ابصرتنا*
Aku orang yang mencinta dan Dia yang mencintai Aku
Kami dua ruh yang melebur dalam satu tubuh
Bila kau memandangku, aku memandang-Nya
Bila kau memandang-Nya, kau memandang Kami.
*مزجت روحك فى روحى كما تمزج الخمرة بالماء الزلال*
*فإذا مسك شيئ مسنى فإذا انت انا فى كل حال*
Ruh-Mu menyerap dalam ruhku
Bagai anggur larut pada air bening
Bila sesuatu menyentuh-Mu, Ia menyentuhku
Engkau adalah aku dalam seluruh
Ittihadnya : Akulah Kebenaran
Ketika Sang Kekasih pergi,
Al Hallaj menulis berbaris-baris puisi Kerinduan (al ‘Isyq) yang mencengkeram amat kuat dalam dirinya dan dalam ekstase-aktase yang sering.
Dia senandungkan puisi-puisi Rindu Kekasih itu di pasar pasar, di warung-warung, di surau-surau dan di kerumunan-kerumunan.
Pada Hari-hari kemarin Hallaj merasa Tuhan berkunjung ke rumahnya dan menempati seluruh ruang eksistensinya.
Dan kini dia ingin menyambutnya dengan riang lalu menjemput-Nya di Langit dan dimanapun Dia Berada.
Al- Hallaj ingin selalu bersama-Nya, menyatu dalam “Tubuh-Nya”.
Kaum Sufi menyebutnya proses merasuk dan menubuh dari bawah ke atas sebagai Ittihad.
Dalam puncak ekstase yang melayang-layang dia berteriak keras: “Ana al Haq” (Akulah Kebenaran). Kata-kata ini mengguncang dan menggetarkan jagat raya manusia.
Sahl al Tustari, Junaed dan Syibli sahabatnya, terpana dan shock berat.
Oh, Hallaj, seharusnya kau tak sebarkan rahasia Tuhan itu kepada publik semacam itu. Biarlah kata-kata itu menjadi milik hati kita?.
Gagasannya tentang Pluralisme telah, terpikirkan dalam pengalaman Hulul, Ittihad atau Wahdah al Wujud ,yang pada akhinya melahirkan gagasan Pluralisme agama-agama Itu keniscayaan.
Baginya semua agama adalah sama.
Para pemeluk agama tak pernah berhenti mencari Sang Realitas, melalui beragam jalan, berbagai nama.
“Aku bertengkar dengan seorang Yahudi di sebuah pasar di Baghdad. Kepada si Yahudi itu aku sempat bilang: Hai anjing!. Tak dinyana Husain bin Manshur lewat dan memandangku dengan wajah marah.
Katanya ; “hentikan anjingmu menyalak”, lalu dia pergi.
Begitu kami usai bertengkar, aku menemuinya dan minta maaf.
Husain mengatakan: “Anakku, semua agama adalah milik Allah. Setiap golongan memeluknya bukan karena pilihannya, tetapi dipilihkan Tuhan.
Orang yang mencaci orang lain dengan menyalahkan agamanya, dia telah memaksakan kehendaknya sendiri.
Ingatlah, bahwa Yahudi, Nasrani, Islam dan lain-lain adalah sebutan-sebutan dan nama-nama yang berbeda. Tetapi tujuannya tidak berbeda dan tidak berubah”.
“Dia kemudian berceloteh bait-bait puisi ini”:
*تفكرت فى الاديان جد تحقق فألفيتها اصلا له شعبا جما*
فلا تطلبن للمرء دينا فإنه يصد عن الاصل الوثيق وانما
*يطالبه اصل يعبر عنده جميع المعالى والمعانى فيفهما*
Sungguh, aku tlah merenung panjang agama-agama
Aku temukan satu akar dengan begitu banyak cabang
Jangan kau paksa orang memeluk satu saja
Karena akan memalingkannya dari akar yang menghunjam
Seyogyanya biar dia mencari akar itu sendiri
Akar itulah akan menjelaskan
Janganlah kamu menghendaki kelebihan dan kekurangan. Janganlah mencari kemajuan dan kemunduran.
Sebab ketentuan telah menetapkan bagian masing².
Setiap orang di antara kamu, tidak diwujudkan melainkan telah ditentukan catatan mengenai pengalaman hidupnya secara khusus.“
Jika dunia dan akhirat datang melayanimu,
dengan tanpa susah payah, ketuklah pintu Tuhanmu dan menetaplah di dalamnya.
Bila kamu telah menetap di dalamnya, akan jelaslah bagimu seperti buah pikiran.“ Syekh Abdul Qodir Al-Jaelani”
Berusahalah untuk menutupi apa yang telah lahir, dan mohon kemaafan.“
Janganlah kamu menghendaki kelebihan dan kekurangan. Janganlah mencari kemajuan dan kemunduran. Sebab ketentuan telah menetapkan bagian masing-masing.“
Karenanya Syekh Abdul Qadir al-Jailani dengan bekal perjalanan esoterisnya yang luar biasa mengajarkan peta dan pemahaman ilmu yang “tak lazim” dalam mata umum kita kini. Beliau mendedahkannya dalam empat kelompok ilmu:
Pertama, ilmu yang menjadikan kita mengetahui cara untuk menjalankan perintah Allah Swt dan menjauhi laranganNya.
Kedua, ilmu yang berguna untuk mengetahui tujuan dari perbuatan baik dan buruk, dan inilah yang disebutnya Syariat.
Ketiga, ilmu hakikat, yakni ilmu yang berguna untuk mengenali diri beserta seluruh lingkupannya.
Keempat, ilmu makrifat, yakni ilmu tentang Dzat Allah Swt beserta seluruh keterkaitannnya yang meliputi hidup kita, di dunia dan akhirat.
Marilah kita cermati kembali dengan seksama peta tersebut.
Jika selama ini kita “cukup” mengenal jenjang ilmu sebagai ilmu syariat dan hakikat, beliau membelah dengan lebih detail. Nantinya akan terlihat terang arah yang menjadi tujuan pokok dari detail-detail ilmu tersebut.
Pada derajat awal, pertama, sebagai hamba Allah Swt, wujud konkret dari pernyataan iman kita kepadaNya dan RasulNya, ialah menjalankan perintahNya dan meninggalkan laranganNya. Bila selama ini kita menyebutnya ilmu syariat, beliau tidak menyatakannya begitu. Derajat ilmu ini dapat kita andaikan sebagai “lahiriah-amaliah”.
Bahwa kita wajib untuk patuh padaNya degan cara mematuhi perintahNya dan menjauhi laranganNya, itu mutlak begitu saja.
Shalat lima waktu adalah perintahNya, ya kita laksanakan.
Puasa Ramadhan adalah perintahNya, ya kita jalankan.
Bersedekah adalah ajaran RasulNya, ya kita lakukan.
Berbakti kepada orang tua adalah teladan RasulNya, ya kita ittiba’.
Menahan marah adalah tuntunan RasulNya, ya kita amalkan.
Begitupun dengan segala jenis laranganNya dan RasulNya, ya kita tinggalkan. Ya….Sesederhana itulah hidup.
Untuk menjalankannya dengan baik, tentu kita butuh ilmu. Maka kita lalu mengaji, berguru, bersekolah, berkuliah, membaca, dan sebagainya.
Namun, Syekh Abdul Qadir al-Jailani tak menyebutnya syariat. Artinya, maqam tersebut belumlah tergolong derajat syariat yang dimaksudkannya..Beliau baru menyebut syariat kepada “tujuan” yang menjadi arah dari laku amaliah lahiriah di atas.
Bisa saja kita memahaminya sebagai “maqashid al-syariat” (tujuan sebuah hukum syariat), yang secara nyata mesti berdiri di atas kaki ‘illat al-hukm (sebab-musabab terbentuknya sebuah hukum atau konteks tertentu yang melatarinya), sehingga bentuk-bentuk praktis sebuah dalil hukum bisa beraneka rupa sesuai konteks ‘illat masing-masing.
Dan, tentu pula, kita bisa memahaminya dengan jernih sebagai arah taqarrub ilalLah, menuju Wajah ‘Azza wa Jalla.
Namun untuk tujuan detail, inilah kiranya yang dimaksudkan oleh Imam at-Thusi atau Nashiruddin at-Thusi, yang nama lengkapnya Muhammad bin Muhammad bin al-Hasan at-Thusi (1201-1274 M), yang karib dengan menantu Syekh Ibnu ‘Arabi, Sadruddin al-Qunawi, dalam kajian Ushul Fiqh dan Fiqh diistilahkan “syariat dzahiran wa bathinan”.
Bahwa ilmu syariat tak hanya perihal gerakan-bacaan lahiriah suatu amaliah hukum, seperti tata cara shalat Dhuha beserta doa-doa khususnya, melainkan juga meliputi dimensi batinnya, rohaninya, esoterisnya –kerap pula disebut mistisismenya.
Syariat tanpa pernyelaman rohaninya rawan menjadi dangkal dan hambar belaka. Sebagaimana syariat tanpa amaliah pun menjadi kemungkaran belaka. Keduanya mesti berjalan seiring dengan sama kafahnya.
Dan dimensi batiniahnya inilah yang diletakkan oleh Syekh Abdul Qadir al-Jailani di jenjang kedua itu, yakni ilmu tujuan syariat –tentu hakikatnya tak lain ialah menuju Allah Swt.
Jika dua jenjang ini telah kita lakoni, terdapat jenjang berikutnya yang jauh lebih berat, yakni “ilmu hakikat untuk mengenal diri”. Ini pun cukup berbeda dengan perspektif kita selama ini saat menyebut “hakikat”.
Dan Kitapun sering mendengar atau mengatakan skema “syariat, tarekat, dan hakikat”



