Hasrul Hadi : POTRET DUNIA PENDIDIKAN DI MASA PANDEMI COVID-19

Hasrul Hadi : POTRET DUNIA PENDIDIKAN DI MASA PANDEMI COVID-19

Sinar5news.com – Korleko -Pada penghujung tahun 2019. Tepatnya pada bulan Desember dan berlanjut pada bulan-bulan selanjutnya di tahun 2020. Sampai saat ini, fenomena penyebaran virus mematikan yang bernama virus Korona terus terjadi dan masih menjadi bahan pembicaraan hangat di mana-mana. Virus yang menular antara manusia ke manusia ini kemudian ditatapkan namanya oleh badan kesehatan dunia (WHO) menjadi Covid-19 (Corona Virus Desease 2019).

Sejak awal mula merebaknya di kota Wuhan, China, virus mematikan ini terus menyebar hampir di seluruh Negara di dunia. Hampir seluruh aspek kehidupan terdampak oleh fenomena Covid-19 ini. Terutama aspek ekonomi, termasuk aspek pendidikan.
Sejak masuknya Covid-19 di Indonesia, kebijakan pelarangan kegiatan berkumpul dan kerumunan manusia mulai diterapkan. Baik di sektor ekonomi seperti aktivitas ekonomi di pasar dan pusat perbelanjaan, aktivitas-aktivitas kerja di kantor-kantor pemerintahan maupun swasta, kegiatan industri, kegiatan keagamaan, kegiatan pariwisata, juga termasuk kegiatan pendidikan di sekolah-sekolah, tempat-tempat kursus dan pelatihan serta di kampus-kampus perguruan tinggi. Lalu apa yang terjadi? Kebijakan pemerintah menghimbau agar semua kegiatan dilaksanakan di rumah. Mulai dari kegiatan bekerja, ibadah, olahraga, bahkan belajar sebaiknya dilaksanakan di rumah. Tidak lain tujuannya adalah untuk memutus mata rantai penularan Covid-19 ini.

Lalu bagaimana kondisi pembelajaran di rumah-rumah kita? Pada tulisan ini saya akan mencoba menguraikan secara singkat bagaimana gambaran kondisi pembelajaran di Indonesia. Ini terutama berdasarkan pengamatan sendiri dan informasi yang saya dapatkan. Misalnya kita mulai dengan membahas bagaimana teknis belajar di rumah. Ternyata berdasarkan apa yang terjadi cukup beragam. Memang, sebagian kegiatan belajar dilakukan secara daring (online), terutama dengan memanfaatkan prangkat elektronik berupa smartphone, leptop/komputer serta jaringan internet. Baik mulai dari tingkat sekolah dasar sampai perguruan tinggi. Di sekolah dasar misalnya, beberapa sekolah dengan kondisi ekonomi siswa pada level menengah ke atas, kegiatan pembelajaran daring bisa dilakukan. Terutama dengan modal berupa fasilitas smartphone dan jaringan internet yang dimiliki guru maupun orang tua siswa.

Saya pernah menyaksikan di media sosial kegiatan pembelajaran jarak jauh (daring) di tingkat sekolah dasar ini. Siswa SD ditugaskan membuat video kegiatan praktik shalat pada mata pelajaran agama islam dan mengirimkan video tersebut ke guru mereka. Selain itu ada pula yang live streaming menyetor hafalan Al-Qur’an, tanya jawab seputar materi pembelajaran, maupun penjelasan langsung oleh guru mereka. Begitu pula halnya di tingkat SMP/MTs dan SMA/MA sederajat sampai perguruan tinggi.
Lalu apakah semua siswa dan mahasiswa di Indonesia dapat menikmati pembelajaran dan perkuliahan secara daring? Jawabannya adalah TIDAK. Pembelajaran daring adalah pembelajaran yang dapat dilakukan jika didukung atau ditunjang dengan fasilitas yang memadai. Sementara sebagian dari pelajar dan mahasiswa di Indonesia belum dapat mengakses fasilitas belajar daring tersebut. Tidak hanya kekurangan fasilitas berupa smartphone, leptop dan akses internet, di Negara kita Indonesia juga menghadapi yang namanya ketiadaan akses terhadap listrik. Masih ada daerah-daerah yang belum menikmati keberadaan listrik. Padahal dunia sudah menghadapi masa revolusi industry 4.0 yang mana pada masa ini ditandai dengan perkembangan industri digital yang begitu pesat sehingga mendisrupsi beberapa jenis pekerjaan dan bertransformasi ke jenis-jenis pekerjaan baru.

Kondisi daerah-daerah tanpa listrik ini akan kesulitan jika dipaksa untuk melaksanakan pembelajaran secara daring. Dengan demikian kegiatan belajar siswa di daerah-daerah seperti ini sangat tergantung dari perhatian orang tua mereka. Jika perhatian terhadap kegiatan belajar anak-anak mereka lemah, maka kegiatan belajar juga akan berkurang. Bahkan jika tidak ada inisiatif dari orang tua, guru maupun anak itu sendiri maka kegiatan belajar tidak akan pernah dilakukan.

Apa artinya ini, tentu ini adalah masalah serius. Gelombang kemunduran dan kebodohan akan sulit terelakkan. Melemahnya semangat belajar di rumah juga selain lemahnya kontrol orang tua dan guru, juga minimnya fasilitas belajar seperti buku-buku pelajaran. Kondisi ini juga tak heran menyebabkan siswa menjadi kebingungan bagaimana cara belajar jika tidak ditunjang dengan buku maupun akses internet yang memadai. Tidak heran anak-anak usia sekolah lebih cenderung hanya bermain-main meski begitu ada pula yang membantu orang tua mereka bekerja di rumah, kebun atau sawah dan meninggalkan kegiatan pembelajaran tersebut.

Tidak hanya di tingkat sekolah dasar dan menengah. Masalah pembelajaran di tingkat perguruan tinggi juga tidak luput dari kendala-kendala. Berdasarkan pengalaman saya selaku dosen di kampus swasta di Lombok Timur, saya menemukan masih ada mahasiswa yang tidak memiliki fasilitas belajar daring yang memadai. Baik berupa smartphone maupun leptop. Tidak hanya itu, bagi yang memiliki akses fasilitas berupa smartphone dan leptop pun juga mengalami kendala, yakni terbatasnya kuota internet.

Banyaknya tugas kuliah serta kegiatan perkuliahan daring menyebabkan kebutuhan akan kuota internet menjadi semakin melonjak tinggi. Ini artinya biaya yang dikeluarkan tentu juga akan semakin meningkat. Sementara kondisi ekonomi orang tua mereka juga mengalami keterpurukan akibat himbauan untuk di rumah saja. Segala cara dilakukan agar siswa maupun mahasiswa tetap belajar di masa pandemi ini. Ada guru SD yang viral di media sosial karena mendatangi muridnya satu persatu di daerah pedesaan hanya untuk memastikan siswanya dapat belajar. Sementara bagi mahasiswa atau siswa yang tidak memiliki akses fasilitas belajar daring yang memadai dapat mengerjakan tugas dengan cara tulis tangan kemudian dapat meminjam smartphone keluarga atau tetangganya kemudian difoto dan dikirimkan ke guru atau dosennya.

Sementara siswa atau mahasiswa yang tinggal di daerah pelosok dengan akses fasilitas belajar yang sangat terbatas maka tanggung jawab terbesar ada pada guru, tokoh masyarakat, tokoh pemerintahan dan tokoh agama di daerah setempat. Kita memang harus bergotong royong dan saling menguatkan di masa pandemi ini. Di semua aspek kehidupan, termasuk dalam aspek pendidikan. Pemerintah dan seluruh lapisan masyarakat harus bersatu, solid dan bekerjasama. Terhindar dari Covid-19 untuk menyelamatkan nyawa adalah keniscayaan pada saat ini. Namun kebodohan dan kemunduran generasi bangsa untuk jangka panjang juga adalah sebuah keniscayaan lain yang akan terjadi jika kita tidak serius secara bersama-sama menghadapinya melalui dunia pendidikan. 

 

Baca Selanjutnya

DARI PENULIS

BERITA TERKAIT

IKLAN

TERBANYAK DIBACA

BACA JUGA