Sinar5news- Jakarta- Di balik kibaran takbir dan aroma sate yang mengepul, Idul Adha menyimpan cerita yang lebih tua dari sekadar ritual. Ia adalah jeda yang dipaksa semesta, agar kita berhenti sejenak, menunduk, lalu bertanya: sudahkah kita cukup manusia bagi sesama?
Idul Adha mengajar tanpa suara. Lewat kisah Ibrahim, ia membisik bahwa cinta sejati kadang butuh dilepaskan. Bukan kehilangan, tapi pengorbanan. Bukan untuk kehilangan sesuatu, tapi untuk menemukan makna: bahwa ada hal yang lebih besar dari ego kita sendiri.
Daging yang dibagi tiga itu bukan sekadar lauk. Ia jembatan. Ia menghapus jarak antara dapur rumah mewah dan tungku yang dingin. Hari ini, si kaya dan si miskin makan dari nampan yang sama. Untuk sesaat, dunia terasa adil.
Idul Adha yang humanis tidak diukur dari berapa ekor sapi yang tumbang. Ia hidup ketika tetangga yang biasanya tak disapa, kini pulang membawa kantong berisi berkah. Ia nyata saat anak-anak yang jarang tersenyum, ikut tertawa memegang tulang sumsum pertama.
Maka, biarlah pisau kurban menjadi simbol. Ia memotong bukan hanya leher hewan, tapi juga memotong rakus di hati, memotong lupa pada sesama, memotong sekat yang selama ini kita bangun sendiri.
Karena sejatinya, kurban terbaik adalah ketika kita rela mengurangi porsi diri, supaya orang lain bisa kenyang bahagia.
Selamat Idul Adha. Semoga takbir kita menggema, dan kemanusiaan kita pun ikut tumbuh. Memandang semua dengan cinta kasih. Menebar kemaslahatan di bumi untuk semesta yang terkasih tanpa pilih kasih. Mohon maaf Zahir batin.
( Presiden Forum Kebangsaan)




