PENJELASAN SYAIR KARAKTER NW SEJATI (15) MENGUTAMAKAN KERUKUNAN Karya : Abu Akrom

PENJELASAN SYAIR KARAKTER NW SEJATI (15) MENGUTAMAKAN KERUKUNAN Karya : Abu Akrom

 

NW sejati mengutamakan
Kerukunan dan kekompakan
Keutuhan dan persatuan
Wasiat Maulana dalam renungan

Salah satu karakter NW sejati yang sangat penting adalah mengutamakan hidup dalam kerukunan yang abadi kepada siapapun baik kepada orang yang sudah dikenal maupuna yang belum dikenal, dalam satu organisasi atau beda organisasi, dalam satu keluarga atau beda keluarga dan dalam satu madzhab atau beda madzhab. Bahkan dengan orang yang berbeda agamapun, kerukunan itu senantiasa dijaga. Amat tidak suka berselisih, keras kepala dan membuat orang lain sakit hati. Apalagi dalam satu organisasi pantang membuat kegaduhan yang berakibat hancur leburnya hubungan baik yang telah terbina selama ini. Apalagi dalam banyak kesempatan Maulana Syaikh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid dalam wasiat “renungan masanya” selalu menyampaikan agar kita dalam organisasi Nahdlatul Wathan tetap menjaga kekompakan, keutuhan dan persatuan sampai kapanpun. Semua ini akan tercapai dengan sukses apabila kerukunan ini tetap terbina sepanjang masa.

Dengan rukun dapat membangun
Hubungan baik secara santun
Hidup selangkah dan seayun
Dipraktikkan secara tekun

Apabila kerukunan ini terus dibina kepada siapapun, maka secara otomatis hubungan baik dalam bentuk sopan santun akan terus terpelihara. Hidup terasa begitu indah dalam setiap langkah, serasi, seayun, senada dan seirama, tanpa ada beban yang membuat hidup menjadi ruwet dan tanpa makna. Inilah diantara manfaat terbesar dari hidup dengan penuh rukun. Kuncinya adalah bagaimana setiap kita berupaya sungguh-sungguh secara tekun untuk mempraktikkan hidup rukun dalam arti yang sebenarnya.

Dengan kompak terus bergerak
Dengan sikap yang sangat bijak
Tidak suka terkotak-kotak
Menggunakan kecerdasan otak

Untuk menjaga agar kerukunan itu tetap terpelihara dengan baik adalah senantiasa menjaga kekompakan dengan sikap yang bijaksana. Dalam hal ini sikap yang bijaksana adalah sikap yang mengutamakan kemuliaan dalam bentuk menjaga etika, tidak suka membuat perpecahan yang menyebabkan hubungan menjadi terkotak-kotak, saling membenci dan saling memusuhi. sehingga kerukunan itu menjadi hancur berkeping-keping. Memang hidup penuh rukun yang melahirkan kekompakan itu, bukanlah hal yang mudah, membutuhkan penggunaan kecerdasan otak yang matang, didasari akal pikiran yang sehat dan cemerlang.

Dengan utuh menjadi butuh
Berintraksi secara penuh
Tidak suka memperkeruh
Apalagi saling menjauh

Demikian juga dengan sikap utuh dalam segala sikap dan perilaku akan menjaga kerukunan yang telah dibina selama ini. Sikap utuh itu adalah sikap yang menyeluruh lahir maupun batin dalam menjaga kerukunan hidup apapun yang terjadi. Maka sikap utuh ini amat dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga segala potensi yang bisa merusak kerukunan itu benar-benar dijauhi, tidak suka memperkeruh suasana, apalagi saling menjauhi dengan sikap tidak mau berkomunikasi dan melakukan berbagai intraksi yang sangat dibutuhkan. Semua itu dilakukan demi tercapainya kerukunan yang menjadi harapan setiap kita sebagai hamba Allah.

Dengan bersatu menjadi padu
Kuat tangguh bagaikan palu
Nikmat terasa bagai bulan madu
Pasti jaya enak selalu

Yang tidak kalah pentingnya untuk selalu menjaga kerukunan itu adalah dengan bersatu dalam segala hal, seperti bersatu dalam perjuangan, bersatu dalam meraih harapan dan cita-cita mulia yaitu mencapai hidup bahagia dunia akhirat. Dengan bersatu hidup menjadi padu, kuat dan tangguh bagaikan besi palu yang kokoh. Alangkah nikmat terasa bila bersatu ini dapat terwujud di alam nyata. Kenikmatannya itu terasa bagaikan bulan madu bagi pasangan penganten yang baru saja menikah terasa sangat indah penuh bahagia menyelimuti jiwa. Kalau bersatu ini terus terwujud pasti kerukunan itu akan jaya dan enak dirasa. Tetapi sebaliknya, jika perpecahan itu melanda setiap kita, pasti hidup itu sengsara dan menderita yang sangat menyakitkan. Pantaslah Nabi kita Muhammad SAW bersabda menggambarkan betapa indahnya kebersamaan yang melahirkan persatuan dan betapa menderitanya perpecahan yang melahirkan kesengsaraan.

الْجَمَاعَةُ رَحْمَةٌ وَالْفُرْقَةُ عَذَابٌ (رواه أحمد عن النعمان بن بشير حديث حسن)

“Al-Jama’ah (bersatu) adalah rahmat dan perpecahan adalah adzab.” (H.R. Ahmad dari Nu’man bin Basyir dengan derajat hadits Hasan)

Bekasi, 13 Syawal 1441 H/5 Juni 2020

Baca Selanjutnya

DARI PENULIS

BERITA TERKAIT

IKLAN

TERBANYAK DIBACA

BACA JUGA