Pada topik ini, ingin penulis menjelaskan kepada siapakah karomah itu diberikan Allah?. Kaum Muslimin telah meyakini bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala memiliki para wali di antara hamba-hamba-Nya. Mereka senantiasa mengikhlaskan seluruh ibadahnya hanya untuk-Nya semata. Mereka senantiasa menjalankan ketaatan kepada-Nya. Allah memuliakan mereka dengan kasih-Nya. Allah menganugerahkan kepada mereka karamah-Nya. Dia adalah wali bagi mereka. Dia mencintai dan mendekati mereka. Mereka adalah wali-wali-Nya, yang mencintai dan mengagungkan-Nya. Mereka melaksanakan apa-apa yang diperintahkan-Nya dan berusaha menyerukannya, dan mencegah apa-apa yang dilarang-Nya, dan berusaha melarang orang lain melakukannya. Mereka mencintai apa yang dicintai-Nya dan membenci apa yang dibenci-Nya. Bila mereka memohon kepada-Nya, niscaya Dia akan mengabulkannya. Bila mereka memohon pertolongan-Nya, niscaya Dia akan memberikan pertolongan. Bila mereka memohon perlindungan-Nya, niscaya Dia akan melindunginya, karena mereka adalah hamba yang beriman, bertakwa, yang berhak mendapatkan karamah dan kabar gembira di dunia dan akhirat. Sesungguhnya setiap mukmin yang bertakwa itu adalah wali Allah. Akan tetapi kedudukan derajat mereka beragam, sesuai dengan kadar keimanan dan ketakwaan mereka. Setiap orang yang beriman dan bertakwa maka ia sungguh beruntung, derajatnya di sisi Allah Subhanahu wa ta`ala sangatlah tinggi, dan karamah dalam dirinya sangatlah banyak.
Keberadaan karomah merupakan salah satu tanda kewalian seseorang sebagaimana mukjizat menjadi tanda kenabian. Karomah memang identik dengan hal-hal yang tidak masuk nalar. Akan tetapi, ia adalah nyata dan haqq, seperti halnya mukjizat para nabi.
Bedanya, jika mukjizat disertai dengan pengakuan kenabian (an-Nubuwwah), pada karomah hal itu tidak ada. Karomah adalah anugerah dari Allah kepada hamba yang dicintai-Nya. Ia adalah buah dari mujahadah dalam memerangi hawa nafsu serta keistiqamahan seseorang dalam beribadah kepada Allah Subhanahu wa ta`ala.
Dan sebelumnya kita sudah berulang kali memberikan definisi tentang karomah sebagai suatu kejadian luar biasa yang diberikan kepada seorang hamba yang salih atau wali, dan ia tidak mengaku sebagai seorang nabi atau rasul. Dan karomah Allah Subhanahu wa ta’ala diberikan kepada hamba-hamba-Nya yang benar-benar beriman serta bertaqwa kepada-Nya, yang disebut dengan wali Allah Ta’ala. Dan Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman ketika menyebutkan tentang sifat-sifat wali-wali-Nya :
اَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ . الَّذِينَ آَمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ . لَهُمُ الْبُشْرَى فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآَخِرَةِ لَا تَبْدِيلَ لِكَلِمَاتِ اللَّهِ ذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ .
“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada rasa takut pada mereka, dan mereka tidak bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan bertakwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan di akhirat….” (Q.S. Yunus (10): 62-64)
Dalam ayat ini Allah Subhanahu wa ta’ala mengabarkan tentang keadaan wali-wali-Nya dan sifat-sifat mereka, yaitu: “Orang-orang yang beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para Rasul-Nya dan hari akhir serta beriman dengan takdir yang baik maupun yang buruk.” Kemudian mereka merealisasikan keimanannya dengan melakukan ketakwaan dengan cara melakukan segala perintah Allah dan meninggalkan segala larangan-Nya.
Dengan demikian, para wali Allah itu adalah golongan insan yang beriman dan beramal soleh, ikhlas dalam perkataan, perbuatan serta menjadikan seluruh kehidupan mereka hanya untuk beribadah kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Para kekasih Allah sangat menumpukan seluruh perhatiannya kepada Allah dan Allah pun senantiasa memperhatikannya bahkan menjadikan insan soleh tersebut lebih dekat kepada-Nya.
Karomah berlaku sepanjang zaman sejak dahulu hingga ke hari ini. Begitu halnya dari kalangan para sahabat, mereka memiliki karomah atau kelebihan yang luar biasa. Mereka beriman dengan kejernihan hati, kecintaan terhadap Allah dan Rasul-Nya melebihi segala-galanya dan bahkan kasih sayang mereka terhadap orang mukmin sangat mendalam, sehingga akhirnya mereka memperoleh darjat yang tinggi.
Selanjutnya, dalam topik ini ada hal yang penting kita pahami bahwa nampaknya hal-hal yang bersifat Khawariq li al-`Adat (luar biasa) yang diberikan atau terjadi pada diri seseorang yang tidak membawa risalah kenabian, atau tidak relevan dengan prinsip-prinsip keimanan, ketaqwaan dan amal shalih, yakni katakan terhadap orang-orang yang fasik, seperti mereka yang tidak mempan oleh senjata tajam, maka hal itu bukanlah sebuah karomah. Namun hal itu, dapat dikatakan sebagai “Istidraj” (kejadian sesuatu yang di luar kebiasaan manusia umumnya).
Jadi, sekalipun meskipun seorang fasik bisa melakukan keajaiban-keajaiban sebagaimana halnya karomah, namun keajaiban yang diciptakannya itu bukanlah karomah. Dan dalam Istidraj ini, pada setiap yang diinginkannya terkabulkan, supaya dia semakin tersesat dan jauh dari Allah Subhanahu wa ta`ala. Ada banyak nama lain dari Istidraj tersebut, di antaranya adalah tipu daya (al-Makr) dan pembiasaan (al-Ihlak).
Dengan demikian, sebenarnya karomah fisik seperti terbang di angkasa, berjalan di atas air dan peristiwa aneh lainnya, tidak sepenuhnya menjadi tanda kewalian seseorang. Tentang hal ini, Abu Yazid berkata,”Bila ada seseorang yang dapat menghampar sajadahnya di atas udara, lalu shalat atau duduk bersila di atasnya, jangan sampai engkau tertipu olehnya sampai engkau betul-betul tahu bagaimana dia melaksanakan perintah-perintah syari’at dan bagaimana dia menjauhi larangan-larangan-Nya”.
Dan keberadaan karomah merupakan salah satu tanda kewalian seseorang sebagaimana mukjizat menjadi tanda kenabian. Hanya saja, karomah tidak harus ditampakkan, bahkan menampakkan karomah harus dihindari sebab akan memutus suluk (perjalanan spiritual) seorang wali kepada Allah Subhanahu wa ta`ala.
Oleh sebab itu, sebagaimana dikatakan oleh al-Imam al-Qusyairi dalam ar-Risalah, bahwa seorang wali tidak akan merasa nyaman dan peduli terhadap karomah yang dianugerahkan kepadanya. Meskipun demikian, kadang-kadang dengan adanya karomah, keyakinan mereka semakin bertambah, sebab mereka meyakini bahwa semuanya itu berasal dari Allah Subhanahu wa ta`ala.
Menurut al-Syaikh Yusuf an-Nabhani dalam kitabnya, “Jami’at Karamat al-Auliyya’” bahwa para wali itu tidak akan merasa tenang dengan karomah yang dianugerahkan kepadanya. Bahkan, timbul kekhawatiran dalam diri mereka, kalau-kalau “keajaiban” itu adalah istidraj dari Allah Subhanahu wa ta`ala. Sebaliknya, orang-orang yang diistidraj oleh Allah Subhanahu wa ta`ala, justru merasa nyaman dan berhak atas kekuatan supranatural yang diberikan kepadanya, yang pada akhirnya akan memicu sikap takabbur dan merendahkan orang lain. Sebab, dia merasa bangga dengan keajaiban-keajaiban yang bisa dilakukannya.
Kyai Haji As`ad Syamsul Arifin, seorang ulama yang terkenal memiliki banyak karomah, mengingatkan kepada para muridnya, agar mereka tidak usah meminta menjadi orang yang keramat dan terkenal. Tapi kita berdo`a, agar menjadi orang yang cinta dan ridho kepada Allah Subhanahu wa ta`ala. Dan lebih lanjut, Kyai As`ad, berkata; “Kalau ada seseorang yang mengaku wali (dengan sekian macam karomahnya), maka orang tersebut bukan wali.
Para auliya’ tidak mengharapkan adanya karomah, apalagi karomah fisik seperti berjalan di atas air dan terbang di angkasa. Sebab, hal seperti juga bisa dilakukan oleh para normal dan dukun-dukun. Beda halnya dengan karomah batin, yakni keistiqamahan dalam ibadah dan mujahadah dalam memerangi hawa nafsu.
Menurut al-Syaikh Abu al-Hasan, karomah fisik dan batin bermuara dari karomah iman dan tunduk patuh kepada Syari’at. Setiap karomah yang tidak diiringi dengan keridhaan Allah, tidak didukung dengan kerelaan dari “Sang Pemilik Karomah” tiada lain hanyalah tipuan belaka (Iqazh al-Himam fi Syarh al-Hikam). Dan Allah Subhanahu wa ta`ala menganugerahkan karomah kepada para wali-Nya agar keyakinan dan keimanan mereka makin mantap, sebagaimana tergambar dalam kisah al-Syaikh Sahl at-Tustari yang diceritakan oleh al-Syaikh Abu Nashr.
“Dikisahkan bahwa Sahl mempunyai seorang murid mantan orang kaya yang bertobat, meninggalkan semua harta bendanya dan memilih hidup bersama Sahl. Suatu kali, si murid berkonsultasi dengan Sahl:
“Wahai Abu Muhammad, diriku masih belum bisa tenang. Aku masih khawatir, jangan-jangan kebutuhan hidupku tidak terpenuhi”.
“Ambil batu itu, lalu mohon kepada Tuhanmu agar ia diubah menjadi makanan,” jawab Sahl.
“Siapa yang saya anut bila saya melakukan yang demikian?” Tanya si murid.
“Yang kamu anut adalah Nabi Ibrahim, yaitu saat ia berkata:
“Wahai Tuhanku, tampakkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang mati. Allah berfirman: Apakah kamu tidak beriman?
Ibrahim menjawab: “Ya, aku beriman. Akan tetapi supaya hatiku menjadi tenang”.
Menurut Abu Nashr, kisah di atas setidaknya mengisyaratkan bahwa hati seseorang tidak akan mantap dan tenang, kecuali sesudah ia melihat dengan mata kepala sendiri atas suatu perkara. Begitu pun para wali, karomah yang ditampakkan oleh Allah Subhanahu wa ta`ala kepada mereka adalah untuk mendidik hati, membersihkannya dari segala keraguan dan menambah keyakinan serta keimanan yang kokoh.




