Oleh: Abah Rosela Naelal Wafa
Kesan pertama yang ditampilkan Islam sesungguhnya ialah keindahan dan kelapangan. Keindahan ajaran dan nilai-nilai yang dipantulkan dari setiap praktik ajarannya. Kelapangan dalam setiap perintah yang diwajibkannya kepada semua umat muslim.
Berangkat dari kesan itu, lanjutan (isi) dakwah Nusantara TGB di Masjid Agung Tasikmalaya ialah beliau mengajak hadirin mengaji Wasatiyah Islam yang diambil dari ayat berikut:
وكذلك جعلناكم أمة وسطا .
“Demikianlah Kami (Allah menisbahkan langsung diri-Nya) menjadikan kalian umat Nabi Muhammad saw. sebagai umat yang pertengahan”. (QS. Al-Baqarah: 143).
Apa makna “wasatha”?
Makna kata ini menurut ulama –kutip TGB– memiliki dua makna dasar yaitu خيارا عدولا (umatnya terbaik dan adil). Jadi, pada Islam itu ada kebaikan dan keadilan yang diaplikasikan pemeluknya. Dan inilah inti dari ajaran yang dibawa oleh baginda Rasulullah saw.
“Semua tuntunan Islam itu mengandung dua nilai ini. Ada kebaikannya dan ada keadilannya.” Kata Tuan Guru Bajang.
Karena itu –tegas beliau–, tidak ada perintah agama yang mezalimi manusia. Tidak ada ajaran agama ini yang hanya mengandung manfaat akhirat semata tanpa ada gunanya di dunia. Justru, pada Islam selalu ada kebaikan dan keadilan atau keseimbangannya.
Selain itu –jelas ulama tafsir dari NTB ini, kata “wastha” ini dalam bahasa Indonesia ialah sepadan dengan kata “wasit”. Artinya, bahwa orang Islam ini harus menjadi wasit (penengah).
TGB menganalogikan, seumpama di dunia ini ada kesebelasan-kesebelasan atau sebuah pertandingan, maka umat Islam menjadi wasitnya. Kapan umat Islam bisa layak menjadi wasit?
Pertama, kalau dia dipercaya. Karena itu, umat Islam harus menjadi umat yang dipercaya oleh peserta pertandingan.
Dulu –cerita cucu Maulana Syaikh ini–, ketika umat Islam datang ke Madinah. Penduduk negeri itu ada sepuluh ribu orang. Seribu lima ratus di antara mereka adalah Nabi saw. dan para sahabatnya serta keluarga mereka masing-masing. Kalau diperntase jumlah mereka sekitar 15 %. Dengan kata lain, mereka kelompok minoritas.
Namun, meski kala itu Nabi Muhammad saw. dan umatnya minoritas bila dibanding jumlah orang Arab sebanyak 4.500 jiwa dan 4.000 orang sisanya dari kalangan Yahudi, bisa dipastikan semua mereka mempercakan Rasulullah saw. sebagai pemimpin mereka.
Mengapa ini bisa terjadi? Renungkan!
Sungguh, potret kehidupan Nabi saw. dan para sahabatnya ini menjadi cerminan dan renungan kita bersama sebagai sesama anak bangsa terlebih umat Islam. “Apakah sekarang kita (umat Islam) di indonesia ini sudah dipercaya demikian?.” Tanya TGB.
“Rasanya belum.” Celetuknya.
Mengapa “belum”?. Jawaban mendasarnya menurut TGB. Sebab kita sendiri sesama umat Islam masih belum saling percaya antara yang satu dengan lainnya. Kita masih senang memperlihatkan saling curiga dengan sesama.
“Sikap saling percaya antar sesama umat Islam adalah menjadi hal pokok atau asas dari pengajaran Allah kepada Rasulullah saw. ketika memberikan arahan-arahan kepada para sahabat.” Demikian kata ulama tafsir tersebut sembari mengutip ayat firman Allah:
والمؤمنون والمؤمنات بعضهم أولياء بعض .
Ayat ini –tegas alumni Al-Azhar tersebut– mengajarkan bahwa; kalau mau dipercaya sama umat lain, maka terlebih dahulu bangun kepercayaan antar sesama terlebih dahulu. Pantulkan sikap saling percaya dengan saudara seiman.
Oleh sebab itu –TGB menyeru: antar organisasi sesama Islam harus saling percaya. Antar kelompok-kelompok dakwah harus saling percaya. Antara tokoh-tokoh umat harus saling percaya. Antara kita semua, bangunlah kepercayaan.
Dengan apa kita membangunnya?
Menurut Ketua PBNW itu ialah dengan kita memperbanyak perjumpaan, menghadirkan silaturrahim, tumbuhkan kasih-sayang antar sesama.
Singkatnya, kalau kita ingin fatwa-fatwa umat Islam ini ditunggu-tunggu dan posisi kita dihormati, maka terlebih dahulu kita jalin komunikasi saling percaya, “Mari internal umat Islam saling percaya.” Serunya!.
Demikian pun sama halnya sebagai bangsa. Kalau kita ingin bangsa Indonesia ini menjadi bangsa قادم الأمام (bangsa terdepan) bangsa yang memiliki marwah, dihormati, dimuliakan maka, “Antar kita sesama anak bangsa harus saling percaya” ajak Alumnus Al-Azhar itu.
Sebagai kaidah penguat bahasan seputar ini –lagi-lagi– TGB menyampaikan kaidah فاقد الشيئ لا يعطي (kalau Anda tak memiliki sesuatu, maka Anda takkan bisa memberi). Artinya, –pasti orang lain akan berkata; “Kalau anda sendiri tidak saling percaya bagaimana kami mau percaya sama kalian”.
Sebagai contoh TGB memisalkan; sama dengan orang yang mau bersedekah uang tapi tak punya uang. Mau mengajar tapi tak punya ilmu. “Orang yang tak punya tak mungkin bisa berbagi. Orang tak memiliki sulit berkontribusi”. Jelasnya.
“Mari kita bangun kepercayaan kita satu sama lain. Saya percaya sama Anda. Apakah Anda percaya sama saya?”. Lanjut TGB sembari bertanya.
Sebagai langkah awal dan lebih mudah kita membangun sifat saling percaya ini kata ulama –dinukil TGB– bahwa المسلم عدول (Orang Islam itu asalnya adil atau jujur samapai ketahuan bohongnya). Dengan kaidah ini, maka kita selalu memandang orang lain dengan husnuzhan. Bukan curigaan melulu kepada sesama.
Karena itu, kaidah ini jangan dibalik menjadi, “Semua orang Islam itu pembohong sampai ketahuan adilnya”. Kalau seperti ini cara pandang kita, maka kecurigaan yang selalu ada kepada setiap kali ketemu orang. Dan ini jelas salah.
Kaidah ini mengajarkan kita, cara menghargai orang lain. Menghargai kontribusi orang lain. Dan kaidah ini sejalan dengan hadis Nabi saw. berikut ini:
كل مولود يولد على الفطرة .
Pada setiap jiwa manusia selalu ada potensi kebaikan. Maka mari kita bangun persaudaraan.
Kedua, mari kita embangun optimisme. Pandangan ini sangat diperlukan untuk menghadapi beragam ujian keumatan dan kebangsaan. Mungkin ada satu dua kekurangan nyamanan yang dirasa, tapi –ingat– masih banyak nikmat lain yang harus disyukuri.
Kata TGB, di negara mana yang seperti Indonesia rakyatnya masih bisa beramai-ramai shalat zuhur lalu mengadakan pengajian. Hatta sampai di Saudi pun tidak ditemukan. Di sana tidak boleh sembarang mengundang dai. Kalau nekat, panitianya bakalan berurusan sama aparat.
Pun demikian yang terjadi di Mesir. Di negeri piramid itu, khatibnya harus mempunyai SIM. Surat izin dari pemerintah untuk khutbah atau naik mimbar. Menentang, panitia bakal berurusan dengan aparat kepolisi.
Berdasar pada pengalaman TGB, bahwa di Timur Tengah itu. Kalau kita mau singgah shalat zuhur di suatu perjalanan dan waktunya sudah lewat satu jam. 90% masjid di sana sudah terkunci. Di sana, jangankan tabligh akbar mau diadakan di sana, tabligh ashgar saja sulitnya minta ampun. Di Indonesia bebas.
Maka, “Kalaupun ada kesulitan dan ketidak nyamanan, jangan jadikan itu sebagai beban. Tapi, anggaplah itu sebagai tantangan dakwah kita.” Kata TGB memotivasi.
Bahkan kalau kita mau jujur. Indonesia ini salah satu negara dengan rumah ibadah terbanyak di dunia. Di Lombok saja –kata TGB yang pernah menjadi Gubernur NTB dua priode ini– sampai dikenal pulau seribu masjid. Padahal, di NTB itu lebih dari 5000 masjid. Belum lagi di tambah musala. Di Tikmalaya pun demikian.
“Kita tidak kekurangan masjid. Tapi, masjidlah yang kekurangan jamaah.” Celetuknya.
Akhirnya, TGB mengajak kita membangun semangat keislaman kita dan membangun sikap saling percaya dengan sesama komponen umat dan bangsa, agar orang lain bisa percaya dengan kita.
Wa Allah A’lam!




