Ratusan Umat Islam Padati Halaman Masjid Al-Abror Pondok Pesantren NW Gabus Ikuti Tarekat Hizib Nahdlatul Wathan
BEKASI, SinarLIMA – Aura ketauhidan memuncak dan menyelimuti halaman Masjid Al-Abror Pondok Pesantren Nahdlatul Wathan Gabus, Desa Srimukti, Kecamatan Tambun Utara, Kabupaten Bekasi. Ratusan umat Islam dari wilayah Gabus dan sekitarnya tampak tumpah ruah dengan khusyuk dan tawadhu mengikuti pembacaan Tarekat Hizib Nahdlatul Wathan yang digelar secara rutin setiap bulan, Sabtu malam Ahad (13/6/2026).
Acara spiritual yang bertepatan dengan tanggal 28 Dzulhijjah 1447 Hijriyah ini dipimpin langsung oleh Al-Mukarom TGKH. Muhammad Suhaidi, SQ, selaku Pimpinan Pondok Pesantren Nahdlatul Wathan Gabus sekaligus Pondok Pesantren Nahdlatul Wathan Jakarta.
Warisan Agung Pahlawan Nasional untuk Benteng Akidah
Tarekat Hizib NW merupakan karya monumental dan sangat berharga yang disusun oleh tokoh ulama besar sekaligus Pahlawan Nasional asal Nusa Tenggara Barat (NTB), Maulana Syaikh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid, yang juga merupakan pendiri organisasi NWDI, NBDI, dan Nahdlatul Wathan.
Secara harfiah, tarekat berarti metode atau jalan, hizib berarti doa benteng, dan nahdlatul wathan artinya kebangkitan tanah air atau bangsa. Melalui pengertian tersebut, makna Tarekat Hizib disempurnakan menjadi suatu upaya atau cara terefektif untuk senantiasa mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui lantunan zikir dan doa. Tujuannya adalah membentengi akidah umat manusia, sekaligus membangkitkan semangat nasionalisme untuk mencintai agama dan bangsa.
Bagi TGKH. Muhammad Suhaidi, SQ, memimpin pembacaan tarekat ini merupakan sebuah amanah yang diamanahkan langsung oleh Maulana Syaikh.
”Di antara kegunaan, hikmah, dan manfaat Tarekat Hizib ini adalah untuk menjaga kebersihan hati, kesucian jiwa, menenangkan pikiran, dan di atas semua itu adalah untuk menjaga akidah umat Islam agar mereka betul-betul hidup dalam hal yang benar sesuai dengan ajaran agama Islam,” ujar Al-Mukarom TGKH. Muhammad Suhaidi.
Beliau juga mengungkapkan bahwa dirinya telah mendapatkan suatu isyarat dari Maulana Syaikh agar menjadikan Pondok Pesantren Nahdlatul Wathan Gabus sebagai pusat spiritual. Hal ini dimaksudkan untuk mendongkrak ketauhidan umat Islam agar kuat dan tangguh menghadapi berbagai macam kerusakan, fitnah, serta kezaliman yang marak terjadi di akhir zaman. Semua tantangan zaman tersebut dapat dipraktis dan diredam melalui pembacaan tarekat ini.
Ratusan Jemaah Larut dalam Kesucian Zikir
Berdasarkan pantauan langsung tim media SinarLIMA di lokasi, ratusan jemaah yang hadir benar-benar larut dalam kekhusyukan di hadapan Allah Sang Pencipta. Lantunan kalimat suci yang mengandung zikir dan doa terbukti mampu menenteramkan jiwa dan menenangkan hati, sehingga jemaah begitu menikmati setiap bacaan dari awal hingga akhir acara. Aura ketauhidan ini dirasakan begitu nyata bagi mereka yang datang dengan niat tulus semata-mata demi meraih rahmat, rida, dan ampunan-Nya.

Hadir pula dalam majelis ini segenap tokoh masyarakat, tokoh ulama, para asatidz, serta masyarakat umum. Mereka secara serentak dan kompak bersama-sama membaca Tarekat Hizib dengan suara yang lembut namun bergetar dari hati yang tulus.
Momen ini menjadi pengkalimat-kalikat suciningat bagi umat akan betapa butuhnya manusia terhadap kehadiran dan keterlibatan Allah SWT dalam segala bentuk kehidupan—baik dalam waktu lapang maupun sempit—agar hidup senantiasa berada di bawah kontrol dan kendali-Nya. Sebab, sedikit saja manusia lengah, maka hawa nafsu dan setan akan bekerja sama untuk menghancurkan akidah, iman, dan Islam. Melalui Tarekat Hizib inilah, setiap sudut jiwa dijaga agar jangan sampai terotori oleh noda-noda dosa.
Masyarakat Gabus dinilai sangat beruntung dengan tegaknya Pondok Pesantren Nahdlatul Wathan di wilayah mereka. Diharapkan, syiar pembacaan Tarekat Hizib Nahdlatul Wathan secara khusyuk ini dapat terus istiqomah dilaksanakan, melibatkan ratusan bahkan ribuan jemaah di daerah Gabus khususnya, serta umat Islam pada umumnya. (SL/Red)



