Angkaoleh Zulkarnaen (Sang Kalam)
Angka 6, jika dilihat dari arah sebaliknya akan menunjukkan angka sembilan. Saya pikir anda paham maksud saya. Sebuah gambar yang cukup familiar dilihat di beranda media sosial. Di facebook sangat sering kita temukan analogi soal ini; soal bagaimana seoarang manusia menganggap suatu kebenaran.
Hanya soal perspektif! Orang yang mengatakan angka 6 adalah angka 9 adalah mereka yang melihatnya dari arah yang berbeda. Begitu! Analogi yang lain yang mungkin familiar juga adalah beberapa orang yang ditutup matanya dan diminta meraba seekor gajah. Ada yang kemudian hanya memegang belalainya lalu memberikan definisi gajah dari apa yang ia raba. Begitupula dengan yang memegang ekornya saja dan seterusnya. Perbedaan definisi yang dianggap benar, hanya persoalan perspektif.
Perspektif! Untuk kasus banyak orang bisa dibilang mungkin parah dan buruk ketika pengetahuan yang bersifat parsial dan tak komperhensif kemudian digunakan sangat alot membela apa yang dianggapnya benar. Tak aneh kemudian melihat kesatuan suara Barat dan Timur. Sudah lama sekali di masa lalu Barat berteriak, satu perspektif yang anda tahu sama halnya tak tahu apapun! Sedang mereka yang di Timur merasa khawatir terhadap mereka yang pengetahuannya sepotong alias tak sempurna atau komprehensif.
Sejatinya hal ini tidak masalah. Baik Barat tak perlu berteriak, Timur tak perlu khawatir jika mereka yang pegetahuannya sepotong itu tak keras dengan apa yang mereka anggap benar selama mereka memegang sikap keterbukaan terhadap pengetahuan mereka, siap salah jika memang mereka salah, siap mengevaluasi apa yang mereka tahu, maka konteks ini benar- benar bukanlah masalah.
Namun kalau boleh jujur seperti yang dijelaskan oleh Prof. Quraish Sihab, akar keributan itu adalah kedangkalan pengetahuan dan sikap keras terhadap apa yang kita tahu.
Husni Muadz, penulis buku Anatomi Sistem Sosial menjelaskan panjang lebar soal kebenaran kemudian untuk menjelaskan demarkasi ruang yang jelas soal pengetahuan manusia. Ia membagi kebenaran itu menjadi kebenaran subyektif dan kebenaran intersubyektif. Kebenaran subyektif adalah kebenaran yang dibawa oleh masing-masing individu; apa yang individu tahu dan dianggap sebagai kebenaran disebut dengan kebenaran subyektif. Sedang kebenaran intersubyektif adalah kebenaran yang disepakati oleh lebih dari satu individu. Kebenaran ini lebih tinggi daripada kebenaran subyektif.
Kebenaran intersubyektif tidak akan tercapai jika pendekatan antar individu menggunakan pendekatan merasa paling benar. Dengan pendekatan dialog lah kemudian kebenaran ini bisa tercapai. Bagi Husni Muadz, tak ada pendekatan yang pas selain pendekatan dialog. Selainnya hanya bermakna memandang individu sebagai suatu benda. Dialog itu adalah bentuk interaksi antar sesama manusia. Sedang monolog adalah bentuk interaksi manusia dengan benda. Mereka yang keras dengan apa yang mereka anggap benar secara tak langsung memposisikan manusia yang lain sebagai suatu benda yang tak mungkin melakukan interaksi dialogis layaknya batu.
Sehingga kita tak memiliki pilihan selain terbuka terhadap apa yang kita tahu. Karena memang pegetahuan kita yang sedikit! Dangkal! Orang Brazil menyebut hal semacam ini sebagai bagian dari msyarakat tradisional; sebuah kumpulan manusia yang cara berpikir dan analisisnya dangkal, tak mampu melihat hal lain dari sebuah realitas. Tidak jauh dengan cara berpikir anak kecil yang tak mampu menganalisis lebih jauh. Orang awam. Istilah Ulama’ sebagai simbol masyarakat yang level pengetahuan dan analisisnya dangkal. Freire dalam sisi lain menyebut mereka tak mampu melihat keterkaitan sisi-sisi kehidupan manusia yang sebenarnya terintegrasi.
Untuk menghasilkan sebuah keputusan kemudian tentu tak baik hanya mempertimbangkan satu perspektif saja, butuh melihat sisi yang lebih jauh. Meminjam apa yang disebut Hamzanwadi dalam wasiat renungan masa bahwa keputusan harus keluar dari pertimbangan sebab akibat. Setidaknya ini adalah sebuah pesan untuk memutuskan sesuatu atas pertimbangan yang multiperspektif.
Freire di lain tempat menyebutnya sebagai kemampuan berpikir kritis. Melihat realitas tak berdiri sendiri, memiliki kaitan yang sangat erat dengan sisi yang lain; sebagaimana adanya kaitan kemisikinan dengan sistem ekonomi yang ada.
Wacana berpikir kritis sebenarnya adalah bentuk advokasi Freire terhadap masyarakat Brazil saat itu. Berusaha melakukan penyadaran atas kondisi yang sebenarnya. Bahwa realitas ini bukan harus diterima, ia bisa dirubah. Namun saya pikir, pikiran Freire bisa digunakan untuk menghasilkan keputusan yang lebih baik karena analisisnya lebih jauh dan dalam.
Baik apa yang diharapkan Freire dan sebuah sikap yang lebih bijak akan keluar dari cara berpikir kritis. Melihat realitas tak hanya dalam satu kacamata yang berujung pada kemisikinan cara pandang.
Menghindarkan kita dari sikap merasa lebih benar dengan yang lain dan mengizinkan diri menjadi pribadi yang mawas. Keputusan yang lebih banyak mudaratnya tak akan terjadi jika kita lebih kritis. Kemudian banalitas sebuah keputusan tak akan terjadi.




